Surat Untukmu

Facebook
Twitter
WhatsApp
Oleh | Muh. Kurniadi AsmiAssalamu alaikum pa’.
Bagaimana kabarmu disana? Baik-baik saja kan? Semoga tangan Allah tetap merangkulmu dalam lindungannya, dan semoga engkau tetap semangat setelah membaca suratku ini.
Pa’… apakah kayu bakar yang engkau bawa masih dapat membuat dapur ibuku berasap? Apakah asapnya masih dapat engkau bagikan kepada tetangga-tetangga yang susah untuk mengasapi dapurnya? Semoga saja engkau masih tetap seperti dahulu, menyuapi ibuku dengan tangan-tanganmu yang keriput.

Pa’ jangan lupa cuci dahulu tanganmu di celengan-celengan masjid lalu engkau memakai tanganmu untuk mengangkat beban hidup ini. Jangan khawatir dengan hidupku disini, aku sedang berusaha mencari sesuatu yang engkau tak pernah ajarkan kepadaku, agar aku dapat menjadi orang yang lebih darimu. Pa’ jaga ibu yah, aku belum sempat pulang ke kampung karena aku harus mencari sesuatu untuk membayar uang SPP kuliahku, kalau aku pulang aku takutnya uang kuliahku tahun ini tak dapat aku bayar dengan jemariku, tahu tidak pa’? Sekarang uang kuliahku naik, sampai-sampai teman-temanku disini demo kesana kemari, katanya untuk membatalkan kebijakan pemerintah, tapi aku tidak ikut pa’, aku merasa lebih baik aku mencari persiapan ketika kebijakan itu di laksanakan di banding harus berusaha untuk melawannya.

Aku tak menyalahkan pemerintah kok pa’, aku tak menyalahkan pula pihak kampusku, lagian kan mereka pasti lebih cerdas di banding aku, mereka orang-orang cerdas pasti selalu berpikir ke depan, berpikir panjang dan tidak mengabaikan hal-hal kecil. Tidak seperti aku, jangankan berpikir kedepan, hari inipun menjadi bayangan kesusahanku. Mereka sudah berpikiran makan apa besok, sementara aku masih berpikir makan apa aku hari ini. Pa’ jiwa lelaki yang engkau ajarkan kepadaku ternyata disini sudah banyak, engkau mengajarkanku untuk berusaha menegakkan kebenaran dan memperbaiki keburukan. Mahasiswa dikampusku juga begitu semua pa’. semuanya menegakkan kebenaran, hingga mereka lupa bahwa ketika mereka berusaha menegakkannya, justru mereka lupa untuk memperbaiki keburukan. Selalu mengejar benar dan lupa memperbaiki yang buruk. Ini pasti karena semangat mereka yang berkobar. Mereka juga golongan orang-orang baik, selalu mementingkan orang banyak, mereka baik kan pa’? sehingga mereka lupa dengan dirinya sendiri, mereka melawan dengan menghancurkan fasilitas yang ada, sementara mereka lupa bahwa dirinya sendiri telah merusak masa depan bersama. Mereka amat baik memikirkan kebenaran untuk di tegakkan. Tidak seperti aku yang masih sibuk untuk makanku hari ini.
pa’ doakan aku disini yah, doakan agar aku dapat sarjana tanpa menyusahkan hidupmu. Semoga suratku ini dapat mengobati hatimu yang bertanya mengapa aku tak dapat pulang ke kampung, semoga tuhan menjaga keluarga disana, dan menjagaku disni. Suratku sampai disni dulu yah pa’, nanti aku kirim surat lagi kalau uang kuliahku sudah cukup.
Wassalam…

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum Semester 2

  Berita Terkait

Rimpuh

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami