Coboy Campus

Facebook
Twitter
WhatsApp
Oleh | Ruslan
Jangan Tanya kapan aku selesai kuliah…!

Ada ucapan yang biasa malahan sering di katakan oleh family di rumah, kapan kamu selesai kuliah nak udah bertahun-tahun merantau di negri orang kok belum kunjung datang juga berita bahagia. Teman-teman sejawat sudah pada pulang semua, bahkan mereka sudah bekerja di berbagai institusi pemerintahan, pengusahan, guru, dosen dll.

Sebagai orang tua kami ingin sekali menghadiri acara wisuda mu nak, di hari itu bapak akan bertepuk dada bahagia sekaligus bangga memiliki anak yang berstatus sarjana, tapi hari bahagia itu kapan nak kami cukup sabar menunggu. Kata-kata dari keluarga di kampung halaman menjadi mantra jampi-jampi berkelinding di relung-relung ingatan, bak seonggok batu beton yang menempel.

Pikiran gusar, hati tak tenang dan matapun setiap malam hampir tak pernah memejamkan barang sedetikpun. Betapa tidak, pesan orang tua agar cepat menyelesaikan sarjana bak petir di siang bolong. Tujuh tahun di kampus bukanlah waktu yang sebentar, sekian lama berada di dalam kampus rasanya baru-baru saja kemarin menginjakkan kaki di kampus ini. Desakan dari keluarga cukup luar biasa kerasnya, sementara kalau di lihat-lihat masih banyak mata kuliah yang belum kelar. 

Secara normatif seseorang dapat menyelesaikan kuliah selama empat tahun (delapan semester), dan aturan sekarang mengharuskan memberikan rease waktu yang cukup lama yaitu tujuh tahun. Kalaupun tidak dapat menyelesaikan secara tepat waktu maka tak heran kita akan sampai tujuh tahun. Memang sebagian teman-teman mahasiswa berpendapat bahwa waktu empat tahun di kampus tidaklah cukup sebab waktu tersebut sangatlah singkat, sementara mahasiswa ingin menggali ilmu sebanyak mungkin dan mencari pengelaman seluas-luasnya. 
Jangan Tanya kapan aku selesai kuliah, sebab pertanyaan itu harusnya kamu ubah dengan pertanyaan “di tempatkan dimana para sarjana-sarjana muda selama ini?” apakah dapat menjamin seorang sarjanawan yang baru saja wisuda mendapatkan atau memperoleh pekerjaan yang layak sesuai dengan title di dadanya yang di bangga-banggakan, kalaupun di ambil oleh beberapa perusahaan multynasional luar negri yang berada di Indonesia paling-paling ia hanya di jadikan sebagai tenaga (buruh) murah yang terampil. Di pekerjakan di perusahan asing dengan gaji pas-pasan bukanlah suatu yang harus di banggakan, sebenarnya kita harus marah dengan bejibunnya perusahaan asing di Indonesia yang menjarah, merampok (eksploitasi) sumber daya alam melebihi batas-batas normal, yang pada akhirnya menimbulkan kerusakan lingkungan terjadihnya erosi, banjir, longsor dll oleh karena perut bumi yang kosong.
Lalu akan kemana sebagian para sarjana yang belum mendapatkan pekerjaan? Mungkin saja pada saat wisuda mereka mendapatkan IPK 4,00 dan lulusan terbaik, dan mendapatkan penghargaan dari sana sini datangnya. Patut memang di banggakan memperoleh IPK 4, sebab ini adalah hasil kerja kerasnya selama masa kuliah. Berbanding lurus kah prestasi akademik dengan kehidupan social kemasyarakatan? Dapatkah mereka menyelesaikan persoalan yang ada ditengah masyarakat yang begitu komplesk dengan keanekaragaman suku, bahasa, agama, budaya dll.

Mengutip Antonio gramsci seorang tokoh partai komunis italia yang semasa hidupnya sebagian besar ia habiskan waktu di dalam penjarah. Ia membagi dua kategori intelektual, pertama intelektual tradisional yaitu para ilmuwan yang asik duduk di meja kerjanya yang setiap hari bergelut dengan teori-teori, dan terkadang mereka mengumpat dan mengkritik saja akan tetapi tidak pernah turun secara langsung di kehidupan masyarakat untuk menyelesaikan problem yang ada.

Mereka hanya asik duduk di menara gading yang jauh dari realitas social. Dan yang kedua intelektual organic, mereka adalah orang-orang yang turun secara langsung di lapangan untuk menyelesaikan masalah masyarakat, mereka dekat dengan realitas social dan memainkan peran-peran intektualnya. Dari uraian di atas gramsci menganjurkan agar menjadi intelektual organic bukan intelktual tradisional yang berada di menara gading yang semata-mata menyaksikan saja permasalahan tetapi tidak menyelesaikannya. Semua orang adalah intelektual tapi tidak semua orang berperan sebagai actor intelektual. 

Penulispun berkesimpulan bahwa teman-teman mahasiswa sebagai di atas, mereka tergolong intelektual tradisional yang sangat jauh dari realitas social. Sebab kesehariannya hanya mengikuti normativitas perkuliahan sehari-hari, datang ke kampus, menerima mata kuliah, kerja tugas makalah, ujian dan dapat nilai. Aktifitas tersebutlah yang di jalaninya setiap hari. Mereka di sibukan dengan tugas-tugas yang numpuk, dan di jauhkan dengan realitas yang sesungguhnya
Padahal mahasiswa dan masyarakat harus menjadi kolega yang harmonis, memang teori kita dapatkan di kampus tetapi prakteknya adalah di masyarakat sebab disitulah laboratoriumnya. Coba kita saksikan reaksi dan aksi teman-teman mahasiswa yang cenderung mandapatkan IPK 4 atas persoalanyang ada, seperti kenaikan harga BBM, tambang, korupsi, kejahatan hukum, mafia pajak dan sederet kasus lainnya. Mereka anti pati bahkan mencemoh sebagian mahasiswa yang memperjuangkan haknya dan hak masyarakat, bahkan kritikannya cukup pedas ketika melihat aksi anarkis, pembakaran ban dll. Padahal kalau di pikir-pikir dengan IPK yang ia dapatkan yang sangat tinggi seharusnya dialah yang pertama kali sadar akan keadaan tersebut dan mengajak teman-temannya untuk melawan.

Malahan yang terjadi adalah kebalikannya, mereka menjadi intelektual tradisional. Artinya pengetahuan yang mereka dapatkan tidak berbanding lurus dengan actionnya. Lalu muncul pertanyaan, untuk apa cepat selesai kuliah jikalau hanya menjadi manusia yang tidak berguna seperti mereka. Justru hanya menambah beban Negara dengan adanya pengangguran dimana-mana.

Aku masih sayang kampus, itulah alasan yang paling masuk akal mengapa sebagian mahasiswa tidak mempersiapkan diri untuk menyusun skripsi, yaitu kampus masih sayang sama aku dan tidak membiarkan aku keluar atau malah sebaliknya akulah yang masih mencintai kampus. Sehingga niat untuk menyelesaikannya tak kunjung datang. Ini bukan suatu klise untuk membenarkan tindakan yang ambil tetapi ini benar dalam perspektif sebagian yang mempercayainya. Walaupun sebagian mahasiswa dan dosen tidak setuju dengan pernyataan di atas, namun tak bisa di nafikan bahwa sebagian dari mereka menyetujuinya.
Kampus bukan semata-mata media untuk belajar dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya, melainkan juga kita membuat rangkaian dunia kecil yang di dalamnya di isi dengan hal yang menurut kita baik.
*Penulis adalah mahasiswa Jurusan ilmu politik 
Fakultas ushuluddin filsafat dan politik

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami