Intelektual Hanya Sekedar Buah Bibir

Facebook
Twitter
WhatsApp
Oleh : Ardiansya
Kampus merupakan tempat transformasi ilmu dari generasi kegenerasi. Tempat para mahasisawa menghabiskan waktunya untuk menimbah ilmu pengetahuan. Dan kampuslah banyak mencetak kaum intelektual. Dari tahun ketahun-ketahun, penyambutan mahasiswa baru (Maba) banyak diwarnai dengan pengaderan dibeberapa lembaga organisasi, baik intra maupun ekstra kampus. Dalam pengaderan tersebut berbagai ilmu pengetahuan yang disodorkan kepada para peserta. Tanpa ketinggalan materi yang paling penting dalam proses pengaderan tersebut yaitu Identitas Mahasiswa.

Apa yang dimaksud mahasiswa? Siapakah yang layak dikatakan mahasiswa? Itulah pertanyaan yang paling mendasar dalam materi Identitas Mahasiswa.  Mahasiswa secara etimologi terdiri dari dua suku kata yaitu maha dan siswa. Adapun secara terminologi yaitu seseorang yang mempunyai pengetahuan yang tinggi (ini hanya definisi yang sempat saya dengar dari para senior).

Adapun definisi secara informal, ada beberapa pendekatan: Pertama secara akdemik, mahasiswa yaitu seseorang yang terdaftar di perguruan tinggi dan mengikuti semester yang berjalan, keduasecara sosiologis, mahasiswa yaitu seseorang yang mempunyai tangung jawab social seperti agen of change (agen perubahan), social of control (control social) dan moral force (berahklak baik), ketigasecara filosofis mahasiswa yaitu seseorang yang senantiasa mengaktualkan potensi yang ada pada dirinya.
 Menyandang nama mahasiswa adalah kebanggan terbesar sehingga banyak orang yang ingin melanjutka pendidikannya di perguruan tinggi karena mereka menganggap mahasiswa adalah orang yang cerdas. Bahkan tetangga saya menangis karena ingin melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi namun karena keterbatasan materi sehingga dia memutuskan mencari pekerajaan demi keberlangsungan hidupnya.

Tidak sedikit orang yang senasib dengan tetanggaku. Anak yang seharusnya mengenyam ilmu pendidikan, tidak lagi mewarnai lampu merah disetiap jalan. Di bawah terik matahari demi kelangsungan hidupnya mereka rela berjualan Koran. Adakah pemerintah pernah melirik mereka?

Satu tahun yang silam, ketika saya mahasiswa baru (Maba) kala itu. Saya mengikuti seminar yang dibawakan oleh Pak Wahyuddin Halim selaku pemateri, Beliau berkata “ Ketika kita memasuki Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, ada suatu makna yang tersirat yaitu selamat datang di Fakultas intelektual.”Apa benar seperti demikian, atau  hanya sekedar retorika belaka?
 Di kekinian kondisi kampus hari ini sangat jauh berbeda dari apa yang sering diceritakan para pendahulu yang lebih dulu merasakan asam manisnya menjadi mahasiswa. Ada budaya yang hilang dalam dunia mahasiswa. Budaya baca, budaya tulis, dan budaya diskusi yang digantikan dengan aktivitas yang cenderung hedonis.

“Diskusi yang dulunya hampir kita temui disetiap sudut-sudut kampus” ,kata para senior, berubah menjadi sekumpulan mahasiswa yand sibuk dengan laptop masing-masing. Dan kecenderungan mahasiswa ketika mengakses jaringan internet adalah membuka akun facebook atau twitter, mengeluh dan bercerita tentang kehidupan pribadi mereka. Budaya diskusi pun hilang.
Mahasiswa seakan ikut arus perkembangan teknologi dan tidak berusaha untuk keluar. Fasilitas yang disediakan kampus menjadikan sebagian mahasiswa menjadi apatis dan hedonis. Dengan adanya jaringan internet menjadikan mahasiswa malas membaca buku. Terkadang tugas yan diberikan oleh dosen diselesaikan dengan copy paste.

Mahasiswa yang dulunya identik dengan buku namun dikekinian identik dengan batu. Budaya melempar batu bukan lagi hal yang biasa. Ketika pemerintah ingin menaikkan harga BBM (1 april 2012) berbagai elemen menentang kebijakan tersebut utamanya mahasiswa dengan alasan akan menyusahkan masyarakat kecil.

Berbagai aksi yang dilakukan mahasiswa untuk menentang kebijakan tersebut bahkan pembakaran dan pengrusakan mobil PT. Coca-cola dan pengangkut gas elpiji yang terjadi di depan pintu satu Kampus Tamalanrea, Universitas Hasanuddin, Rabu (21/03/12). Tidakkah mereka menyadari sopir mobil tersebut juga adalah masyarakat miskin yang tidak tahu apa-apa.
Melihat kondisi tersebut, apakah mahasiswa masih layak dikatakan kaum intelektual? Ataukah kata intelektual itu hanya sekedar buah bibir belaka, agar kedengaran indah? Tentu jawabannya ada pada pribadi masing-masing.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami