Ideologi Acuh Rancukan Masyarakat

Facebook
Twitter
WhatsApp
Oleh : Taufik Al-Hidayah

Pembiaran atau istilah kerennya cuek bebek atau isltilah lainnya Apatis terhadap kejadian yang ada disekitarnya. Sikap ini sungguh menjadi trendsetter di kalangan masyarakat kita dan hampir seluruh lapisan masyarakat mengidap sikap ini. Sungguh sangat disayangkan  Masyarakat kita cendrung berbalik atau menghindari kejadian atau peristiwa yang mnimpa 
Sesamanya.


“EGP ( Emang Gue Pikirin masalah loe “ istilah inilah yang cocok untuk masa kekinian. Bukannya menyelesaikan masalah yang dihadapi kita justru mendapat masalah baru jika perbuatan salah atau menyimpang diselesaikan dengan sikap cuek atau malah tutup telinga, mata dan mulut.  Contoh kecil yang dapat diambil misalnya kita tidak menegur orang yang membuang sampah di sembarangan tempat lambat laun saluran air yang di buangi sampah terus menerus akan tersumbat dan menyebabkan banjir kitapun ikut terkena dampaknya. “ Ejapi doanga” kata orang Makassar yang artinya orang baru percaya jika kejadian itu benar – benar terjadi atau kita akan percaya jika kejadian itu baru menimpa kita.

Fenomena kekinian  sikap menyipang dari masyarakat kita sudah sangat memprihatinkan hal  ini dapat di rasakan dari pelbagai sikap penyimpangan mulai dar kalangan atas sampai kebawah seperti, KKN,Narkoba, premanisme, pemerkosaan, perampokan, penculikan dan perbuatan criminal lainnya sudah bukan lagi hal yang tabuh dalam kehidupan keseharian kita. Baik media cetak dan elektronik ramai – ramai memberitakan perilaku – perilaku dan menyorotinya. 

Yang  lebih mencengangkan lagi kemajuan teknologi kita juga tidak terlepas dari  sasaran empuk perilaku yang menyimpang dalam hal pemanfaatan Situs jejaring social ( facebook ) sebagai medianya . Baru – baru ini kasus transaksi narkoba, sewa – menyewa preman dengan cara online  sampai pada kasus pencurian pulsa oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggung jawab. Namun, yang sangat miris adalah para penegak hokum di Negara kita  bak  api jauh dari panggangnya, mereka tak berfungsi sebagaimana konsitusi mengaturnya. “Ada uang masalah pun lancer dan mudah selesai “ inilah ungkapan yang diidap oleh para penegak hokum di belahan bumi nusantara ini.
Ketiga lembaga pun dalam Trias politica ( eksekutif, legeslatif, yudikatif ) tidak lepas dari perilaku menyimpang.

Sungguh sangat disayangkan lembaga ( yudikatif ) yang diharapkan atau di gadang – gadang sebagai ujung tombak untuk mewujudkan hokum yang adil bagi seluruh serta menyelesaikan perkara bagi masyarakat bak harimau yang ompong tak bertaring. “ sebuah kutipan dari bang Karni ( presenter di TV One ) ketika di tanya mengenai “ masih adakah keadilan di negeri Ini, Beliau menjawab “Masih ada keadilan masih ada, masih ada dalam SIla Ke – 5 pancasila, Keadilan social bagi seluruh rakyat indonesia.  Sama halnya seperti lembaga – lembaga ad hoc yang didirikan karena ketidakpercayaan pada lembaga ( yudikatif ) karena tak mampu berbuat banyak.  lembaga ad hoc tidak terlepas dari intervensi – intervensi  dan kepentingan politik didalamnya, dintegrasi di antara lembaga – lembaga tersebut pun memperburuk keadaan hukum di negeri carut marut ini. Kesalahan ini bukan saja dalam lingkup keatas dalam ( pemerintah ) tapi juga kebawah dalam hal ini rakyat.   Rakyat pun bertanggung jawab atas banyaknya perilaku yang memyimpang dalam masyarakat. 

pembiaran merupakan sikap yang menurut pembaca menjadi titik nadir dari maraknya perilaku menyimpang dalam masyarakat. “Sebaik – baik berperkara kalah jadi abu menang jadi arang”  pepapatah inipun mungkin penggambaran darisikap tersebut. Pun  Beberapa pertimbangan  diambil sehingga menyuburkan sikap ini diantaranya individu lebih memilih cara aman tidak terlibat langsung dalam kasus/ perkara, ketika jadi saksi dalam perkara tidak ada jaminan keselamatan meskipun telah diatur dalam konstitusi, dan ketika terlibat dalam kasus khususnya dengan pejabat yang berwenang ( polisi ) kita sering di carikan cela hukum yang dapat membuat kita terlibat dengan kasus hukum, tak pelak masyarakat cendrung menghindar dari permasalahan atau malah tidak memperdulikan masalah yang diadapi oleh orang lain.

Dalam syariat islam

Dalam kalam Allah Swt pun banyak dijelaskan bahwa kita wajib dan bertanggung jawab mencegah kemungkaran yang terjadi dalam masyarakat. Kalaupun dalam masyarakat kita tidak bisa berbuat banyak dalam mencegah kemungkaran mulailah dari internal kita, keluarga kita mulai bangun budaya saling menegur jika salah seorang anggota keluarga kita berbuat salah.
 Nabi Muhammad saw pun mengajarkan kita untuk saling tegur menegur diantara sesamanya, hal ini dikarenakan manusia secara harfiahnya tempatnya khilaf, kesalahan dan kealpaan. Beliau pun dalam sebuah hadisnya menjelaskan “ cegahlah kemungkaran itu dengan tanganmu, jika tidak bisa maka cegahlah dengan lisanmu ( perkataan / nasehat yang baik), jika tidak bisa maka cegahlah dengan lisanmu”. Beliau meniscayakan adanya budaya saling tegur menegur dengan sesamanya hal ini disebabkan karena jika budaya saling tegur menegur tidak diterapkan maka masyarakat yang berbuat salah atau menyimpang akan semakin berani dengan perbuatan salahnya. Karena tidak adanya orang yang berani atau menindaki perbuatan tersebut.

Hal itu bukan tanpa sebuah solusi, penulis memliki solusi yang sedikit akan bisa memperbaiki hal tersebut dengan beberapa cara yakni (1) untuk segi kemasyarakatannya budaya kearifan ( sirri na pace bagi orang Sulawesi Selatan ) local mesti di tumbuhkan di dalam  tubuh kita masing – masing khususnya para mahasiswa yang memiliki fungsi sebagai agen perubahan ( Agent of change ) yang akan berkutat dalam masyarakat, idealisme tetap harus tumbuh dan dipertahankan serta jangan mudah  tergadai dengan harga yang murah bak kacang goreng yang ada di pinggir jalan demi untuk memuaskan hasrat sendiri dan tidak berfikir untuk kemaslahatan masyarakat. (2) “ Sebuah UU atau aturan yang buruk ketika diberikan kepada para penegak hukum yang adil dan menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya meniscayakan sebuah masyarakat yang adil dan aman sebaliknya Sebuah aturan yang baik ketika diberikan kepada para penegak hukum yang tidak adil dan tidak menjalankan fungsinya maka meniscayakan sebuah masyarakat yang carut marut atau masyarakat yang kacau”. Penegak hukum mesti dibenahi, moral mereka sudah abnormal tergadai dengan kesenangan semu yang menyengsarakan mengabaikan apa yang menjadi fungsi dan kewajibanya sebagai penegak hukum.  

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami