Politisi, Persiapan Perang

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh : Ardi

       “Suatu perang politik adalah  di mana setiap orang menembak dengan menggunalkan bibirnya”. Begitu cara berfikir Raymond Moley yang lahir tahun 1887, jurnalis dan guru besar hukum publik pada Kolombia University, Amerika Serikat.
       Tak jelas, adakah kalimat tersebut berbentuk satire atau panduan. Sebab, politisi ‘berperang’ lewat kata-kata, bukan perang dengan persenjataan ataupun pena seorang jurnalis dan penulis. Sebab, di masa Moley berkibar, ia juga asisten sekretaris pada sebuah kelompok Presiden F.D Roosevelt, tahun 1933. Masa-masa perang! Tapi, tampaknya ia mengingatkan bahwa politisi harus menyelesaikan masalah lewat kata yang keluar dari bibir, yang tentunya berasal dari otak yang cerdas.
          Tapi adakah terbilang cerdas  dan mengandalkan kata bila ternyata politisi justru tidak menggunakan bibirnya untuk mengeluarkan kata-kata bijak dan santun. Tetapi dipakai untuk memaki. Memang aneh tapi nyata. Misalnya saja. Ketika Abdurrahman Wahid yang saat itu sebagai Presiden Indonesia memasuki gedung MPR atau DPR-RI, ia disambut terikan’’ uuuhhhhh…!!!” dan lahirlah saat itu satu pernyataan pada Gus Dur bahwa ia memaklumi sikap anggota dewan yang masih terbilang taman kanak-kanak.
                 Mungkinkah pernyataan tersebut hanya angin lalu yang sempat mampir di telinga para politisi yang tidak mempunyai dampak positif? Ataukah memang hak anggota dewan bebas memaki. Bebas menuding! Bebas! Semuanya bebas……!!!! Tidak jarang kita menyaksikan para anggota dewan saling memaki.
              Dalam keheningan malam, saya menyalakan televisi dan langsung memindahkan ke saiaran Tv One, acara  yang disiarkan  yaitu Indonesia Lawyers Club dengan mengangkat tema “Anas siap digantung di Monas” yang dimoderatori oleh Karni Ilyas, selasa (13 /03/2012) yang lalu. Dalam acara tersebut para politisi pun berperang lewat kata-kata, bahkan melecehkan SARA.
         Para politisi yang terhormat yang seharusnya menjadi panutan masyarakat, penyambung aspirasi, tidak sepantasnya mempertontongkan hal seperti demikian. Apa tak lagi ketika Ruhut Sitompul memberikan komentar perihal yang dialami kader  Demokrat Anas Urbaningrung dan ditanggapi oleh Hotman Paris Hutapea selaku kuasa hukum Nasaruddin sehingga terjadi perang kata-kata bahkan saling memaki, saling melecehkan.
                Meraka adalah pengacara yang paham terhadap hukum. Segala macam undang-undang yang mereka hapal bahkan sudah di luar kepala. Namun, undang–undang yang  dihapal tersebut tidak terealisisi dalam perilaku. Melupakan hukum adat istiadat yang mengajarkan cara berbicara dan berperilaku. Maka benar apa yang dilkatakan Gus Dur “ maklum sikap anggota dewan yang masih terbilang taman kanak-kanak dalam prilaku”.
             Bibir yang mengeluarkan kata arif. Memang sepertinya sulit di gedung rakyat karena semuanya berhulu dan bermuara dari kepentingan. Semuanya bernada politis! apalagi mereka  ternyata tidak siap dengan perbedaan. Padahal mestinya, perbedaan menjadi kekuatan dari sikap demokratis itu. Namun adakah anggota dewan menyadari hal tersebut bila ternyata mereka tak punya lagi bibir bijak, tapi bibir yang bisa mendesiskan kata apa saja termasuk yang tabu.
                Persilatan dengan bibir yang tanpa etika itu kerap disiarkan di televisi yang sangat berdampak negatif terhadap pertumbuhan psikologis anak yang belum dewasa dalam berfikir, ketika menyaksikan siaran tersebut. Seharusnya acara tersebut harus ada bimbingan orangtua (BO) yang terpanpang di sudut layar televisi. Sehingga ketika kita menyaksiskan acara tersebut, bersama anak yang belum cukup umur, kita bisa memberikan arahan bahwasanya perdebatan yang tanpa etika yang dipertontongkan para politisi itu tidak baik, “Nanti kalau kamu sudah besar dan menjadi politisi, kamu harus menjadi politisi yang beriman, berakhlak, dan bermoral. Jangan murah senyum ketika menjadi kandidat entah kandidat Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), kandidat Badan Eksekutuf Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Walikota, Gubernur, Presiden dll. Namun setelah terpilih senyum itu terasa mahal untuk dikeluarkan.
Di kekinian, legislatif sibuk membicarakan BBM. Mahasiswa yang berlakon parlemen jalanan, juga sibuk membahas BBM. Pemerintah “sibuk” pula menutup telinga, seakan tidak mau mendengar keluhan dan protes rakyat. Malah, sepertinya tak peduli pada parlemen yang pro-kontra terhadap kebijakan kenaikan harga BBM. Para calon-calon komandan pun sibuk berkampanye dengan semangat barunya.
                Semoga yang terpilih menjadi komandan, dalam kepemimpinannya membentuk komisi baru. Yang menempati komisi tersebut yaitu para politisi yang suka berperang dengan kata-kata dengan dilatih mengangkat senjata. Sehingga suatu saat ketika ada peperangan mereka tidak lagi berperang dengan kata-kata tapi dengan senjata.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami