Workshop Evaluasi PIKIH, “Lanjutkan atau Hentikan”

Facebook
Twitter
WhatsApp


Laporan | Mitsari

Wokshop Pembahasan Pikih UIN Makassar

Washilah– Program Pencerahan Imani dan Keterampilan Hidup (Pikih) untuk ajaran 2011-2012 telah memasuki tahap semester kedua, namun sebelum memasuki semester selanjutnya dari pihak birokrasi merasa perlu membahas keefektifan program tersebut. Perihal  efektif atau tidaknya Pikih selama ini masih menjadi perbincangan para anggota senat sehingga Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar pada rapat senat sebelumnya membahas pedoman edukasi UIN merasa perlu mengadakan Worksop Evaluasi Pikih dan sekaligus Pemantapan Character Building Training serta keterampilan akademik UIN Alauddin Makassar. 
Workshop yang dihadiri oleh Rektor, Pembantu Rektor I sampai III, anggota senat,  Dekan dan pembantunya, para ketua jurusan, Ketua Pusat Bahasa  berkumpul di ruang rapat rektorat lantai I, Selasa (15/02/2012) pukul 9.00 Wita. Acara workshop dibuka oleh Rektor UIn Alauddin Makassar Prof Dr H Qodir Gassing mengungkapkan bahwa Pikih harus tetap ada, namun perlu adanya revisi agar Pikih bisa berjalan lebih efektif.
 “Alumni UIN harus memiliki 3 keterampilan yaitu harus bisa baca Al-qur’an, terampil berbahasa Arab dan Inggris serta memiliki akhlak yang mulia, ”tambahnya.
Setelah Rektor membuka acara, lanjut ke agenda berikutnya yaitu pemaparan gagasan dari kedua pemateri yang menggagaskan konsep Pikih yang akan datang.  Pemateri pertama yaitu Dr Hj Amrah MA, salah satu anggota senat UIN dan sekaligus Direktur Pondok Pesantren IMMIM putri. Ia memaparkan bahwa yang perlu dibenahi dalam pengajaran Pikih adalah perlunya spesifikasi bahasa untuk masing-masing jurusan.  ia juga menyebutkan beberapa komponen penting Pikih nantinya yaitu lafaz, makna, bunyi dan struktur.
Pemateri kedua yaitu Wahyudin Khalik yang merupakan Alumni UIN yang sedang melanjutkan studynya di Australia bidang pendidikan Islam juga memaparkan gagasannya tentang sistem baru yang perlu pada program pikih. Menurutnya bukan hanya sistem yang perlu diperhatikan agar Pikih dapat berjalan efektif. “Banyak faktor yang penting seperti, faktor tujuan, pengajaran, materi, siswa, sarana, dan prasarana, situasi kondisi serta jumlah siswa yang di ajar”Ungkapnya.
Selain memaparkan gagasan untuk revisi Pikih, khalik juga menggagaskan ide baru mengenai perlunya Akademik skill untuk mahasiswa UIN. Akademik skill akan mengajarkan Mahasiswa untuk lebih mandiri yang mengajarkan mahasiswa yang sedang melewati proses pergiliran psikologis dari SMA menuju tahap kemahasiswaan dan pengetahuan akademika serta skill informatika agar mahasiswa mampu bersaing dengan lulusan perguruan tinggi lainnya.

Setelah kedua pemateri memaparkan materinya, moderator membuka sesi untuk tamu workshop yang ingin memberi kritik dan saran. Drs Muis  Said M Ed selaku ketua Pusat bahasa dan Pikih mengungkapkan permasalahan yang dialami program Pikih selama ini. Salah satu permasalahan yang ia utarakan kepada seluruh tamu undangan yaitu tidak adanya ruangan khusus untuk pembelajaran Program Pikih sehingga Sarana dan prasarana lain juga sulit terpenuhi.” Keefektifan waktu pula menjadi kendala, materi juga menurut saya perlu di revisi dan evaluasi mahasiswa pada akhir pembelajaran yang penting untuk mengukur keefektifan Pikih,”tambahnya.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami