Melongok Kultur Komunitas Kampus Tanpa Bos

Facebook
Twitter
WhatsApp

Selasa, 25 Oktober 2011 | Suryani Musi
Rektor UIN Alauddin Makassar
Washilah Online-Belakangan ini muncul sebuah gejala baru yang disebut kultur Komunitas kampus tanpa bos dalam dunia akademik. Hal tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN)Alauddin Makasssar, Prof Dr Qadir Gassing HT MS ketika memberi sambutan pada pengukuhan guru besar di kampus II Samata Gowa, Selasa (25/10/2011).
Menurut Rektor, gejala ini ditandai dengan munculnya laboratoria, perpustakaan, situs internet yang tidak mengikuti jam kantor dan sellu dipenuhi pengunjung sampai dini hari. 
“Bukan kah ini adalah kultur akademik yang wajar dan patut? Inilah salah satu laboratoria tentang kampus tanpa bos,” katanya.
Tanpa kehadiran bos sekalipun, civitas kademika bergerak kreatif mencari pengetahuan dan mengasah keterampilan. Komunitas kampus tanpa bos tesebut merupakan ciri dari lembaga perguruan tinggi yang berhasil dan berprestise.
 Komunitas dan civitas inilah yang akna mengembangkan kultur saling menghormati dengan kriteria utama keunggulan sebagai ilmuan.
“Tetapi jangan salah paham. Jangan menganggap bahwa kultur dan komunitas tanpa bos sama artinya dengan tidak memerlukan denagn demikian perlu ada pemimpin. Seorang bos yang berkarakter pemimpin malah diperlukan karena pada suatu waktu dan tempat, keputusan perlu dimbil. Dalam konsep komunitas kampus tanpa bos, sang bos yang memimpin adalah sosok yang kreatif dan produktif dalam berperan sebagi pengayom, mitra, dan fasilitator bagi seluruh civiats akademika, agar semua orang yang berada di bawah kepemimpinan dapat mengembangkan secara produktif talenta yang melekat atau yang masih terpendam dalam dirinya,” tambahnya.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami