Kuliah Dengan Biaya Sendiri

Facebook
Twitter
WhatsApp

Rabu, 05 Oktober 2011 | Suryani Musi
Washilah Online– Kuliah dengan biaya orang tua, itu hal biasa. Namun, kuliah dengan kemandirian dari hasil usaha sendiri. Itu baru luar biasa. 

    Mahasiswa itu, bernama  Rudiyanto Zainuddin. Dia mengakui baru kali ini, menceritakan tentang masa lalunya, kepada orang lain.

     Matanya menerawang kala menceritakan perjalanan hidupnya. Dia tidak pernah menangis. Namun,  merasa gundah. Pasalnya, setelah menempuh kuliah di semeter III. Ia dipaksa untuk pulang, karena orangtuanya, tak mampu membiayai kuliahnya.
Modal satu juta dari ayahnya dia melanjutkan kuliah di Makassar tahun 2007. Dengan modal itu, dia berusaha untuk mempertahankan hidup. Karena kebutuhannya kian mendesak, dia memulai usaha sebagai guru les privat sastra, biologi, dan teater, dan asisten praktikum.

“Ketika saya sedih, SB eSA-lah uyang mengajarkanku untuk tabah. Organisasi itu yang mengajarkanku untuk mengerti tentang hidup,”katanya.

Selama kuliah dia dua kali juara I lomba Cipta dan Baca Puisi. Pertama kali ketika ikut omba cipta dan baca puisi Kelopak Universitas Negeri Makassar (UNM) 2011 dan kedua kalinya Juara I Lomba Cipta dan Baca Puisi Universitas Hasanuddin (Unhas) 2010.

Ketika ditanya cita-citanya hendak jadi apa, dia menyatakan bahwa Master of Ceremonial (MC) yang andal. Meski berlatar dari jurusan biologi di Fakultas Tarbiah dan Keguruan (FTK), namun itu tidak menyurutkan langkahnya untuk meraih mimpi tersebut.

“Saya menyukai suaraku. Makanya setiap ada kegiatan besar dan MC-nya bagus, saya pasti datang untuk mendengarnya. Saya benar-benar menyukai MC. Ketika saya ingin sesuatu, saya tidak akan berhenti sebelum mendapatkannya. Saya tidak pernah setengah-setengah,”ujar anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Budaya (SB) eSA ini.


Gadaikan BPKB Untuk Bikin Skripsi

Untuk menyelesaikan skripsi dia mengakui di situ letak kewalahannya yang sesungguhnya. Terpaksa dia harus menggadaikan motornya untuk membeli laptop. Dari situ kemudian dia mencari uang lagi dan berusaha untuk mnecicil motornya untuk mendapatkan motornya kembali.

Salah satu untuk mencari uang adalah mengurus beasiswa. Namun, dia sempat merasa lucu juga ketika dikatakan bahwa dia cukup mampu oleh ketua jurusannya kerena punya motor dan laptop.

“Tidak mungkin saya memakai pakaian yang gembel atau compang camping ke kampus. Orang yang miskin tidak bisa ditunjukkan hanya denagn pakaian yang robek-robek. Menurut saya, pakaian itu yang mengambarkan pribadi seseorang,” katanya lebih lanjut.

Terharu Saat Memakai Toga
Rasa haru begitu dalam dia rasakan ketika pertama kali mengunakan toga saat kuliah. Dia sadar betul bahwa dia kuliah hanya dengan hasil keringatnya sendiri.

“Saya merasa begitu terharu saat diwisuda. Saya menikmati betul peristiwa tersebut. Menikmatinya detik demi detik. Juga ketika pementasan tarian Kun saya baru-baru ini,”katanya.

Namun, dia juga menyatakan bahwa teman-temannya dari jurusan Biologi marah kepadanya. Mereka pernah berjanji akan selesai sama-sama pada bulan  Desember 2011. Namun, dia harus mselesai juga pada bulan ini karena kondisinya yang tak memungkinkan.

“Saya tidak punya uang lagi untuk bayar SPP. Makanya, dengan berat saya mendahului teman saya. Di hari wisudaku mereka tidak datang,”katanya.

Namun, ada yang membuatnya sedikit merasa senang. Skripsinya yang berjudul Efektivitas Penggunaan Paket Pembelajaran Blog Sebagai Sumber Belajar Mandiri Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Biologi di Kelas XI SMA Neg III Makassar, aka dijadikan sebagi jurnal di jurusannya.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami