KARENA INDONESIA PENUH WARNA

Facebook
Twitter
WhatsApp

Andi Tenriawaru
Semenjak kran demokrasi kembali dibuka lebar-lebar pada era Reformasi ini, bangsa ini terjebak dalam euphoria yang berlebihan. Semua hal harus berbau demokrasi. Semua hal yang berbau militerisme dianggap bertentangan dengan demokrasi. Padahal dalam dunia kampus terdapat keberagaman yang tetap harus dijaga. Keberagaman inilah yang membentuk pola pikir dan cara pandang mahasiswa itu sendiri.
Dalam suasana keberagaman, mahasiswa dipersilakan memilih jalannya sendiri dalam berpartisipasi dalam pembangunan bangsa. Jika ia mempunyai kepedulian lingkungan yang tinggi, ia akan menjadi seorang Pecinta Alam, jika ia seorang yang humanis bisa bergabung dalam Palang Merah remaja, jika ia religius ada Himpunan Mahasiswa Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha.[1]
Diatas adalah sepenggal pemikiran dari Ipmawan Bachtiar yang penulis kutip ketika berkelana di dunia maya. Sebuah proses pemikiran yang cukup menggelitik ketika posisi kita sebagai mahasiswa yang mengagungkan daya kritis dan kesetaraan hak kemudian memilih jalur diskriminasi secara halus. Ya, dalam pelaksanaannya kita acapkali melakukan diskriminasi dengan sangat halus. Tak perlu rasanya berkoar tentang Indonesia dengan ratusan ribu pulau, etnis, suku, agama, dan “kepentingan”. Pada pemilihan HMJ atau BEM saja tak jarang kita temui paksaan kepada Mahasiswa Baru untuk memilih calon bukan atas nama kualitas namun atas nama harga diri organisasi tertentu yang menjadi pendukung utamanya.
Bukankah hal ini pada akhirnya juga merupakan diskriminasi pada calon kompeten yang independen? Bukan diskriminasi? Lantas?
Lalu, untuk saudari kita yang memiliki paham tak bersentuhan dengan pria, kita menghakiminya sebagai sikap eksklusivitas. Bukankah ketika kita mencap dia saat itu juga kita telah eksklusif atasnya? Ironis.
Hmm … baiklah sepertinya saya pun harus ikut “solider”, bukan?
Ya, saya harus sepakat. Sangat sepakat bahwa tujuan tulisan ini harusnya tentang Indonesia sebagai negara majemuk yang didalamnya ada komunitas Bissu (Sulawesi Selatan), suku Dayak (Kalimantan), suku Anak Dalam (Jambi), etnis Tionghoa dan puluhan etnis Papua yang disinyalir terdiskriminasikan oleh paham seragam. Kalau fakta seperti yang disebut sebelumnya aku sepakat, kawan. Sangat sepakat. Namun, ayolah kita melihat sedikit lebih sederhana. Sekeliling kita. Lingkungan akademik kita. Kampus kita. Dan k.i.t.a sendiri? Bersihkah dari sikap diskriminasi dan upaya penyeragaman? Tak jarang kita yang memiliki ego lahiriah memaksakan kehendak pada saudara-saudara kita. Sesuatu yang benar di konsep kita sepertinya harus benar saja di pemikiran mereka, padahal bila menilik secara kultutal, etnis, dan agama nyaris sama. Lantas atas nama apa lagi perbedaan ini?
Entah pikiran yang tak bekerja dengan baik, atau apalah namanya sehingga terbetik pemikiran bahwa bukan Indonesia yang beragam namun ego kodrati kita yang memicu untuk berbeda. Sikap solider diantara kita pun acapkali bermakna penyeragaman akan suatu yang sudah kodrati beragam.
Kawan..
Saya tak harus pakai baju merah putih agar engkau mengenaliku sebagai Indonesia. Cukup aku melihatmu, mendengarmu, dan menemukan bedamu, lalu diam tersenyum hangat dan menjabat erat segala beda ini, maka panggillah aku Indonesia. Tak perlu aku pakai atasan baju batik, rok bali, sarung songket dipundak kiriku, keris jawa di sakuku, hiasan rambut a la rumah Toraja, dan sepatu khas cibaduyut baru kalian mengenaliku sebagai pecinta keberagaman karena siapapun yang mendapatiku di jalan akan menyebutku “sableng”. Beragam dan sableng itu beda, kan?
Kawan..
Kau tak perlu risau akan beda denganku, bertahun-tahun ditempa di sekolah berbasis Islam tak buatku setuju dengan sikap frontal FPI, atau mengiyakan diskriminasi Ahmadiyah, atau kalian pikir aku membela pelaku bom Bali? Jelas tidak.
Bagiku .. Biarkan saja beda, so what?
Bukankah lagu yang indah tercipta dari harmonisasi nada rendah dan tinggi? J
Karena itulah Indonesiaku, Indonesiamu,  Indonesia kita adalah …

Mahasiswa dengan berbagai kemajemukan latar belakang harus dapat mewujudkan penghormatan terhadap keberagaman. Dari lingkup kecil itulah kita dapat membiasakan diri bersikap toleran dalam skala lebih luas untuk saling menghormati keberagaman.[2]


       [1] “Resimen Mahasiswa dan Peranannya Untuk Negeri”, Kompasiana, diakses dari http://hankam.kompasiana.com/2010/10/03/resimen-mahasiswa-dan-peranannya-untuk-negeri/, pada tanggal 14 September 2011 pukul 20.05
       [2] “Pendidikan Keberagaman di Mata Mahasiswa”, Suara Merdeka, diakses dari http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/10/09/126148/Pendidikan-Keberagaman-di-Mata-Mahasiswa, pada tanggal 14 September 2011 pukul 20.15

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami