Pentas Tari ‘Kun’ Libatkan 30 Orang

Facebook
Twitter
WhatsApp

Jumat, 30 September 2011 | Suryani Musi
Washilah Online-Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Budaya (SB) eSA Universitas Islam Negrei (UIN) Alauddin Makassar menyelenggarakan pementasan seni tari spektakuler “Kun” dengan tema  “Jika Itu dan Sebut Itu Aku”, Kamis (30/09/2011) malam.
Pentas seni tari ini dipentaskan di lapanagn terbuka di belakang gedung Training Centre (GTC) Kampus I UIN.
Dewan Pembina UKM SB eSA, Dr Sabri menceritakan pemaknaan-pemaknaan pentas tarian Kun yang dipentaskan oelh 30 orang itu tersebut.
“Tema Kun dalam tarian ini  adalah proses penciptaan tuhan. Dia bukan bahasa Arab atau bahasa Al-Qur’an. Tetap bahasa Illahi. Kun juga bukan suara namun dia adalah bunyi tanpa suara. Dunia Kun adalah asal usul. Dunia azali sebelum ada yang diciptakan manusia,”papar Dr Sabri ketika sesi dialog setelah pementasan.
Meski dia menyatakan bahwa Kun secara harafiah adalah proses kejadian. Namun, Kun itu ada ketika Tuhan dikepung oleh kemaha Esa-anya. Kemaha Tunggalnya. Maka media untuk menjadikan Dirinya dikenal maka hadirlah Kun (diambil dari penggalan ayat kunfayakun). Olehnya itu untuk mahluknya, hanya ada satu untuk berangkat dan pulang sekaligus kepada-Nya yakni Kun.
Olehnya itu maka hadirlah Kun eSA. Karena pada hakekatnya untuk menangkap pesan illahi hanya-lah dengan tari.
Tarian ‘Jika Itu Aku’ yang kareograferi oleh Minarni Aswita bercerita tentang manusia bumi yang hanya hadir di muka bumi ini untuk piring. Dia ada hanya dari piring ke piring. Lalu pertanyaannya hanya piring-kah kita hidup? 
Sementara ‘Tarian Aku Sadar’ yang diramu dengan apik oleh Ridwan Aco. Gerakan-gerakan yang ditampilkannya menceritakan tentang manusia bumi. Tentang ruh yang terpanggil untuk kembali ke asal-usulnya.
“Tari menemukan tubuh. Tubuh menemukan jasad. Tapi yang menemukan tari bukan tubuh atau jasad akan tetapi roh. Simbol sarung berarti penjara-penjara di mana setiap orang yang ada di dalamnya hanya mampu berinteraksi pada ruang sempit tersebut. Termasuk melepas sarung tersebut dan baju mereka adalah proses di mana seseorang terlahir kempbali kepada-Nya,”papar Dr Sabri lebih lanjut.
Asdar Muis RMS juga hadir di anatara sastrawan, budayawan, dan seniman lainnya malam itu. Asdar Muis menyatakan bahwa dia seakan-akan terlahir kembali ke dunia seniaman. Karena jarang sekali perguruan tinggi lain yang mampu memainkan pementasan yang dinilainya itu cukup gila. 
Namun dia mengeritisi gema yang bersumber dari pementasan ini. Sepertinya itu luput dari perhatian mereka bahwa ada gedung besar di sampingnya dan secara otomatis menciptakan gema di sebelah Timur dan Barat lokasi pementasan.
“Saya juga pada awalnya tidak menemukan sosok pemeran utama dari pementasan ini. Di akhir baru muncul. Jadi itu tadi belum pertunjukan yang terakhir, namun awal untuk mewujudkan pertunjukan yang sebenarnya,”paparnya lebih lanjut.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami