Kun eSA, Tak Ingin Hilang di Kampung Sendiri

Facebook
Twitter
WhatsApp

Rabu, 28 September 2011 | Suryani Musi
Washilah Online-Pernahkah kita berpikir bahwa apa yang hilang secara mareri kita kita sudah stress? Sementara kehilangan ‘diri’ yang sebenarnya kita hanya biasa-biasa saja? Padahal titah Tuhan ternarasiakan lewat pernyataan tuhan Kunfayakun. 
Pernyataan tersebut disampaikn oleh Dr Sabri Ar ketika membawakan materi di cara seminar yang bertema Kun, Tak Ingin Hilang di kampung Sendiri. Seminar tersebut digelar di gedung Training Centre Kampus I Universiats Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Rabu (28/09/2011).
“Lewat pementasan Kun ini yang kan menggedor pintu kesadaran kita untuk kembali ke padanya. Supaya kita tak ingin hilang di kampung sendiri. Kampung yang dimaksudkan di sini adalah kembali kepada habitat original. Yakni kejujuran, malu, dan nilai budaya yang asli,” kata Dr Sabri Ar yang bertindak selaku moderator.
Ishak Ngeljaratan menambahkan bahwa Tak Ingin Hilang di Kampung Sendiri merupakan revitalisasi nilai-nilai kultur yang hilang. Dia menyatakan bahwa butir-butir Pancasila tidak akan ada artinya jika tidak dibarengi oleh lempu atau kejujuran.
Kegiatan yang dilaksanakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Budaya (SB) eSA ini merupakan serangkaina kegiatan yang akan dilaksanakan untuk keesokan harinya yang berupa Pagelaran Tari. Yang menggambarkan bagaiamana dalam gerakannya digambarkan bagaiamana kelahiran seorang manusia, sampai aktifitas lainnya yang tergambar lewat gerakan tari. Kegiatannya akan berlangsung pada malam hari di belakang gedung Training Centre.
“Manusia tanpa seni hanya merupakan rupa tau. Fungsi seni merupakan suatu proses penggunaan, Aku sadar sebagai tubuh sebagai instrument sebagai sesuatu yang berdaya pesona. Tari juga merupakan ibadah kultur,” tambah Ishak Ngeljaratan.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami