Tradisi Masyarakat Balia di Mata Prof Sidik M Ag

Facebook
Twitter
WhatsApp

Laporan | Suryani Musi

Washilah Online-Drs Sidik M Ag melangsungkan acara promosi Doktornya di Gedung Pascasarjana (PPs) Universitas islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Selasa (05/062011) malam.

Di hadapan para promotor dan penguji yang terdiri dari Prof Dr Moh Qassim Mattar MA, Prof Dr H Ahmad M Sewang MA, co Promotor Prof Dr H Abd Rahim Yunus MA. Dewang penguji Prof Dr H Moh Ramli M Si, Dr Norman Said MA, dan Dr Susdiyanto M Si, dia berusaha mempertahankan disertasinya yang berjudul Pandangan Masyarakat Muslim Kaili Terhadap Tradisi Balia di Palu.

Isi disertasi tersebut secara garis besar menggambarkan bahwa, pandangan masyarakat muslim Kalili terhadap tradisi Balia di Palu dengan menggunakan studi Teo-sosiologis. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui dan menganalisis pelaksanaannya dan pandangan masyarakat muslim Kaili terhadap tradisi Balia serta analisis dalam pendekatan teo-sosiologis.

Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

“Hasil penelitian ini menyatakan bahwa tradisi Balai adalah satu bentuk upacara adat orang Kaili di Palu yang dilakukan secara turun temurun dari nenek moyang mereka. Yaitu dengan cara meminta kepada roh-roh nenek moyang dengan tujuan untuk penyembuhan penyakit dan permohonan perlindungan kepada roh-roh halus, karena roh-roh tersebut dapat juga memberikan malapetaka bagi manusia,” kata salah satu Pimpinan Pondok Pesantren di Palu ini.

Adapun faktor-faktor penyebab tradisi Balia tetap dilaksanakan oleh sebagian masyarakat muslim Kaili, karena kurangnya pengetahuan agama, budaya, ekonomi, dan faktor sosial masyarakat. Ada beberapa pandangan masyarakat muslim Kaili terhadap upacara Balia, yaitu pertama memandang bahwa upacara Balia tidak bertentagan dengan ajaran Islam karena itu merupakan tradisi turun temurun yang dilaksanakn oleh mereka.

Kedua, mereka berpandangan bahwa tradisi Balia bertentangan dengan ajaran Islam karena mereka meminta sesuatu yang bukan selain Allah, melainkan pada roh-roh dan jin-jin yang ada di gunung, daratan, dan lautan.

Ketiga, mereka memandang bahwa tradisi Balia paling berintegrasi pada ajaran Islam. Sebab budaya tersebut telah mengalami akaulturasi dengan ajaran Islam itu sendiri. Tradisi Baila bagi masyarakat Kaili dipercaya sebagai sarana pengobatan yang dikaitkan dengan alam dan agama, bahwa alam bukan hanya sesuatu yang disaksikan atau dipahami secara empiris (al-syahadah) tetapi sesuatu di luar jangkauan manusia. Pelaksanaan tradisi Balai juga berfungsi sebagai media komunikasi mempertemukan masyarakat dan memperkuat interaksi sosial.

Sidik Berhasil lulus sebagai Doktor dalam bidang Pemikiran Islam dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 87,72. Dia lulus sebagai doktor yang ke 96 di UIN.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami