Ketika Mahasiswa & Pemuda Masa Kini Tidak Bernyali

Facebook
Twitter
WhatsApp
Penulis | Agus
Washilah Online – Mahasiswa sebagai pemuda sekaligus generasi penerus bangsa, sepatunya harus memiliki jiwa yang besar, mental sekuat baja serta harus memiliki nyali apapun resikonya. Sebab banyak orang bijak mengatakan bahwa semakin sering seseorang menjalani resiko maka kematangannya dalam bertiindak serta berpikir tidak diragukan lagi. Hal tersebutlah yang selalu terpatrih oleh setiap Mahasiswa sebagai pemuda penerus bangsa, sebab merekalah tulang punggung bangsa ini, apa jadinya ketika bangsa ini dihuni oleh pemuda–pemuda yang memiliki nyali yang ciut.

Salah satu tokoh Nasionalis dan juga merupakan Presiden pertama Republik ini menyadari betul fungsi serta peran pemuda terhada sebuah peradaban bangsa, sehingga beliau pernah berkata “Berikan aku sepuluh pemuda maka akan kugemparkan dunia ini”. Hal ini membuktikan bahwa ternyata peran pemuda sangatlah berarti. Dan tentunya sepuluh pemuda yang dimaksud tersebut bukan pemuda yang memiliki nyali yang ciut, melainkan pemuda yang memiliki pemikiran yang soluktif, mental yang kuat serta berani menanggung resiko apapun itu. 

Melihat kondisi saat ini tentunya berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan oleh tokoh Nasionalis tersebut, bagaimana tidak, pemuda atau bahkan Mahasiswa saat ini lebih condong kepada perilaku pragmatism, serba instan serta selalu ingin terjun pada pola politik praktis, yang lebih parah lagi mereka hanya mampu memandangi dan hanya terdiam melihat kondisi bangsanya yang amburadul. Pemikiran yang kritis, nyali yang amat tinggi serta semangat yang membara menempatkan pemuda/Mahasiswa menjadi figure yang dipandang mampu mendobrak segala ketimpangan yang melanda bangsa ini. Namun sungguh disayangkan saat ini hal yang seperti itu hanya dalam tataran konsep belaka.

Kemerosotan ide kritis serta nyali melanda pemuda saat ini, menurut hemat penulis indikatornya sederhana, mereka tidak mau pusing. Bayangkan diberikan saja tugas makalah oleh dosen mereka langsung ke warnet, bukan cari bahan melainkan melakukan plagiat (Copy Paste). Era yang amat modern serta instan ini juga dapat dikatakan sebagai salah satu indikatornya. Kecenderungan berfoya-foya (hedonism) menggerogoti sikap Mahasiswa/pemuda saat ini. Pembobotan intelektual yang idealis sungguh sangat jarang kita jumpai, padahal hal inilah yang mampu membawa arus perubahan sosial.

Meminjam istilah kang Jalal, bahwa untuk mendapatkan sebuah perubahan haruslah dimulai dari hal yang terkecil serta sederhana karena dengan hal tersebutlah akan muncul perubahan yang hakiki. Lain halnya dengan pendapat karl Marx yang mengatakan “ dibutuhkan sedikit Kerusuhan (Caos) untuk mencapai sebuah perubahan. Namun sangatlah ironi kedua hal tersebut diatas didak mampu tuk diterapkan bagaimana tidak, Mereka kan tidak mau susah. Dan cenderung pragmatis.

Bangkitlah kawan !!! karena bangsa ini tergangtung kepadamu.
Bangkitlah kawan !!! karena bangsa ini haus dengan ide-ide cemerlangmu.
Dan bangkitlah !!! untuk mendobrak nyalimu yang ciut dengan satu gertakan yang akam membelenggumu untuk selamanya.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami