Bias Jender dalam Pendidikan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Washilah Online – Program Pascasarjana (PPs) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar dalam bidang Pendidikan dan Keguruan kembali menghasilkan doktor baru yang ke 90 di UIN. Doktor tersebut adalah Promovenda Dra Hj Supi’ah M Pd dinyatakan lulus oleh Dewan Penguji dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor yang berlangsung di gedung PPs UIN Alauddin, Rabu (19/05/2011) malam.
Promovenda mempertahankan disertasinya yang berjudul, “Bias Jender dalam Pendidikan (Alalisis Materi Fikih pada Madrasah Aliyah).”

Disertasi tersebut di hadapan Dewan Penguji yang terdiri dari, Ketua; Prof. DR H Qadir Gassing HT MS, Prof DR Hj Andi Rasdiyanah, Prof DR H Natsir A Baki MA, Prof DR H Ahmad Sewang , Dr Susdiyanto M Si, Drs H Muh Mawardi Djalaluddin Lc M Ag Ph D dan Prof DR Muhammadiyah Amin M Ag.

Dalam disertasinya itu, secara garis besar dikatakan, penelitian ini membahas tentang bias jender dalam pendidikan (analisis materi fikih pada madrasah Aliyah). Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran materi fikih yang dinilai bias jender dalam madrasah aliyah, aspek-aspek apa yang saja yang dinilai bias jender dalam materi fikih dan faktor-faktor penyebab terjadinya materi fikih yang bias jender.

Adapun tujuan penelitian tersebut adalah untuk mendeskripsikan dan menemukan aspek-aspek yang dinilai bias jender dalam materi fikih di Madrasah Aliyah mengungkapkan dan mengetahui factor-faktor terjadinya materi fikih yang bias jender, menganalisis dan menemukan sehingga diketahui upaya-upaya yang dilakukan untuk mewujudkan materi fikih yang responsif jender.

Penelitian ini menggunakan jeneis penelitian kualitatif dengan pendekatan antardisipliner, yaitu pendekatan teologis noramtif, sosiologis, psikologis, dan cultural. Adapun sumber data primer dan sumber data sekunder. Sedangkan teknik pengumpulan datanya melalui dokumentasi, kualifikasi dan analisis kritis. Di samping itu juga menggunakan prosedur analisis data terkait dengan beragam interpretasi bias jender.

Hasil-hasil penelitian berdasarkan pembahasan dan masalah yang diteliti dapatlah disimpukna bahwa buku elajaran fikih yang dipelajari dan diajarkan pada madrasah Aliyah belum dapat melepaskan diri dari dominasi fikih klasik yang partriarkis.


Bias jender dalam buku pelajaran fikih Madrasah Aliyah secara garis besar ada empat aspek, yaitu ias jender dalam perkawinan, bias jender dalam peradilan, bias jender dalam teks ayat dan bias jender dalam teks hadits.

Adapun factor-faktor penyebabnya adalah pertama, adanya penafsiran teks-teks keagamaan yang didominasi oleh laki-laki. Kedua, factor budaya patriarkhi yang mendeskriminasiakn perempuan bahwa perempuan sebagai makhluk kelas dua yang hanya cocok untuk berperan di sector domestic. Ketiga, penulis buku dan guru belum resposif gender.

“Implikasi penelitian ini perlu direkomendasiakn pentingnya rekonstruksi matari-materi fikih yang masih bias jender, sehingga ke depannya dapat dihasilakan bahan ajar atau buku pelajaran fikih yang tidak hanya yang berspekstif jender, tetapi juga sensitive dan berkeadilan jender,” kata Supi’ah.

Untuk itu, tambahnya penulis buku materi fikih di Madrasah Aliyah mesti ditunjukkan kapada pihak-pihak yang memiliki sensivitas dan responsifitas jender. Bila realitas bahwa penulis buku-buku matari fikih itu masih diserahkan kepada pihak-pihak yang kurang mengerti persamaan jender dan resposif jender, maka harapan peserta didik yang mengerti keadilan jender tidk akan terwujud.

Laporan | Suryani Musi

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami