Washilah — Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Alauddin Makassar mengeluhkan sejumlah fasilitas di Gedung L yang tak kunjung dibenahi.
Kondisi fasilitas di gedung tersebut dikeluhkan mahasiswa. Diantaranya, lubang pada salah satu kelas di lantai empat, AC yang tidak berfungsi, toilet rusak dari lantai satu hingga empat serta kursi rusak yang menumpuk di kelas lantai tiga.
Gedung L yang merupakan bangunan alternatif digunakan oleh beberapa fakultas dan lembaga di UIN Alauddin Makassar, seperti Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF), FSH, serta sejumlah lembaga lainnya.
Secara rinci, lantai dasar gedung ditempati oleh Jurusan Kesehatan Masyarakat FKIK, lantai dua digunakan oleh Lembaga Penjaminan Mutu dan Jurusan Farmasi FKIK, lantai tiga ditempati oleh FSH, dan lantai empat digunakan oleh FUF.
Seorang mahasiswa FSH, Dewa (bukan nama sebenarnya) resah terhadap kondisi air di toilet yang tidak mengalir di toilet menimbulkan bau tidak sedap, ditambah lagi ruang kelas semakin sesak dipenuhi tumpukan kursi rusak di bagian belakang.
“Pernah ke kamar mandi, di sana itu bukan cuma rusak, kadang airnya juga tidak jalan dan jorok. Kursi yang tertumpuk di belakang itu mengganggu karena tidak bisa digunakan dan memakan banyak tempat,” ucapnya.
Ia berharap pihak kampus segera memperhatikan kondisi tersebut, terutama di lantai tiga yang menjadi tempat belajar mahasiswa FSH.
“Kursi rusak sebaiknya dikeluarkan agar tidak mengganggu. Kami beberapa kali harus menggunakan kursi yang sudah tidak layak karena kurangnya kursi yang bisa dipakai,” ucapnya.
Senada dengan itu, mahasiswa lainnya, Fako juga turut mengeluhkan kondisi toilet. Ia menyebut toilet di lantai satu, tiga dan empat tidak bisa digunakan, sehingga mahasiswa terpaksa menggunakan toilet di lantai dua. Bahkan, toilet wanita di gedung tersebut sudah tidak ada yang berfungsi.
“Toilet perempuan rusak, jadi biasanya pakai toilet laki-laki atau keluar dari gedung cari toilet,” keluhnya.
Fako juga menyoroti ketidakefektifan sistem pelaporan fasilitas melalui portal akademik yang disediakan setiap akhir semester. Menurutnya, laporan yang sudah disampaikan tidak pernah direspons dengan perbaikan nyata.
“Kami membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT), tapi tidak mendapatkan fasilitas yang layak. Padahal kami punya hak,” ujarnya.
Tak hanya mahasiswa, dosen pun turut mengeluhkan kondisi Gedung L. Salah satu dosen FSH, Abdullah (Bukan nama sebenarnya) mengeluhkan kurangnya ruang kelas. Dari empat ruangan di lantai tiga, hanya satu ruangan dengan mesin pendingin yang masih berfungsi. Para dosen kerap kali berebut ruangan agar mahasiswa bisa belajar dengan nyaman.
“Tiga ruangan lainnya tidak memiliki AC atau AC-nya tidak berfungsi. Kami harus datang lebih awal agar bisa menggunakan ruangan yang ada pendinginnya,” katanya, Sabtu (26/7/2025).
Ia bahkan sering kali harus meminjam ruangan FUF agar tetap bisa mengajar dengan kondisi yang lebih lebih layak sebab ruangan yang dipakai di gedung tersebut bersampingan dengan toilet yang menimbulkan bau tidak sedap sehingga mengganggu kenyamanan dalam proses perkuliahan.
“Kelas saya tepat di depan toilet. Dua pekan terakhir air tidak mengalir, jadi bau menyebar ke ruang kelas,” tambahnya.
Meski begitu, Abdullah menegaskan bahwa keluhan ini bukan ditujukan sebagai kritik terhadap pimpinan fakultas atau jurusan, melainkan sebagai bentuk harapan agar kondisi gedung dapat segera diperbaiki.
“Kami bukan ingin menyalahkan siapa pun. Kami hanya ingin menyampaikan bahwa pengguna Gedung L tidak berada dalam zona nyaman,”tutupnya.
Penulis: Atma Sudarminata Bahari (Magang)
Editor: Hardiyanti











