Ikhlas dan Riya’

Facebook
Twitter
WhatsApp
Sumber | Prelo.co.id

Oleh : Muhammad Jufriadi 

Perjalanan bulan suci Ramadan pada kondisi pandemi ini tidak terasa sudah di pertengahan. Sejak awal ramadan kita sudah melakukan aktivitas di rumah sebagai menuriti aturan pemerintah dan ibadah sholat tarawih dilakukan dirumah juga.

Semua aktivitas ibadah kita lakukan sebagaimana bulan Ramadan dulu, karena kita tahu pintu rahmat terbuka lebar. Ramadan adalah moment dimana semua ibadah yang kita kerjakan atas keridhaan Allah SWT akan di lipat gandakan.

Tapi moment ramadan kali ini kita dilanda pandemi covid-19 yang dimana sebagian orang melakukan ibadah puasa dan juga ada orang yang kelaparan karena tidak mampu. Dan banyak bantuan untuk para orang yang tidak mampumampu tersebut.

Tapi, para donatur mendokumentasikan dan menyebarkan di media sosial bahwa mereka sudah melakukan salah satu ibadah. Ada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

“Seseorang yang mengeluarkan shadaqah lantas di-sembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya”

Inti hadits itu adalah tentang keikhlasan, ikhlas ketika memberi tanpa ada maksud lain di belakangnya, tapi sebagian orang lagi berpendapat bahwa untuk urusan kebaikan, sebaiknya orang juga di beri tahu dengan tujuan supaya bisa mengispirasi mereka.

Kita boleh ambil salah satunya dan juga keduanya, namun semua tergantung dari niat kita. Dipertengahan bulan ramadhan ini saatnya kita merenungi bagaimana kualitas ibadah kita yang kita sudah jalankan.

Disaat masih tersisa setengah bulan lagi ramadhan tahun ini benar-benar meninggalkan kita, sudahkah kita melakukan ibadah puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga tapi juga mampu menahan diri dari segala hal yang mampu mengurangi atau menghilangkan pahala ibadah kita.

puasa kali ini jangan sampai hanya berhenti pada imsak dari makan minum dan terpenuhinya syarat rukun lainnya, tapi yang lebih penting adalah bagaimana pelaksanaan ibadah puasa itu benar-benar dilaksanakan dengan niat yang ikhlas dan konsisten menjaga integritas pribadi dari hal-hal yang dapat merusak dan mengurangi pahala puasa kita, sehingga nilai puasa  dapat memberi pengaruh dan kesan spiritual bagi diri kita dan masyarakat.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Semester X.

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami