Sadar dan Bangkit dari Pandemi Covid-19

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok pribadi \ Andi Muh Galib.

Oleh: Andi Muh Galib

Virus Corona memang memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap perekonomian, politik, sosial dan budaya di masyarakat. Tingginya intensitas jumlah penderita Covid-19 menyisihkan fenomena di masyarakat.

Kepanikan yang belakangan ini terjadi di tengah pandemi Covid-19 salah satunya penolakan pemakaman pasien Positif Corona di lingkungan mereka. Padahal sesuai dengan imbauan pemerintah bahwa seluruh pasien Positif yang dinyatakan meninggal, harus dimakamkan dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) atau mekanisme yang telah di anjurkan.

Perlu diketahui pula bahwa virus tidak akan bertahan lama kalau tidak berada di tubuh manusia, dengan kata lain bahwa virus selalu membutuhkan inangnya (manusia). Makanya tidak tepat jika ada kemudian masyarakat yang menolak pemakaman pasien positif Covid-19.

Hal lain yang kemudian jadi persoalan ditengah masyarakat adalah ketersediaan masker yang sangat langka. Banyak kemudian oknum-oknum dengan sengaja membeli dan menimbung masker untuk mendapatkan keuntungan semata.
Banyaknya persoalan sosial yang terjadi ditengah masyarakat, bisa saja disebabkan kurangnya upaya promotif kepada masyarakat tentang bagaimana mencegah ataupun menanggulangi penularan Covid-19.

Setiap harinya masyarakat disuguhkan oleh pemberitaan-pemberitaan tentang angka kematian Covid-19. Hal itulah yang kemudian menjadikan masyarakat menjadi ragu dan takut terhadap pandemi ini. Yang terjadi adalah kepanikan sosial di tengah  masyarakat.

Kita juga dapat melihat kasus yang terjadi di Kota Surabaya, dimana pasien positif Covid-19 dijemput di sebuah warkop tempat mereka berkumpul yang seketika membuat gempar seluruh pengunjung warkop tersebut. Lagi-lagi persoalan kepatuhan masyarakat juga menjadi kunci penangan pandemi Covid-19.

Menelisik ke belakang, persoalan munculnya Corona di Indonesia memang dianggap enteng oleh berbagai pihak. Banyak yang menganggap bahwa Indonesia akan bebas dari Corona dikarena Indonesia beriklim tropis. Hal ini kemudian berubah seketika Presiden Jokowi pada tanggal 2 Maret 2020 mengumumkan kasus pertama di Indonesia, dimana dua warga Depok dinyatakan positif Corona setelah berkontak langsung dengan salah satu warga Jepang yang terdeteksi terjangkit Corona setelah meninggalkan Indonesia dan tiba di Malaysia.

Berikutnya muncul kasus-kasus baru dan semakin hari terus bertambah angkanya. Bisa dikatakan bahwa kita semacam kebablasan dalam menangani persoalan Covid ini. Apakah kita makin enteng? Kembalikan kepada kita semua melihat kondisi yang ada sekarang ini.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kini diterapkan di berbagai daerah guna menekan angka penyebaran virus tersebut. Banyak daerah menganggap ini efektif untuk diterapakan melihat pergerakan jumlah kasus sedikit berkurang. Namun kembali lagi bahwa setiap kebijakan tentunya menyisakan problematika di masyarakat, diantaranya: Pendidikan, kebijakan pemerintah untuk meliburkan seluruh aktifitas pembelajaran baik tingkatan Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Perguruan Tinggi membuat pusing berbagai banyak pihak.

Ketidaksiapan tenaga pengajar serta instrumen yang dapat digunakan dalam metode pengajaran menjadi persoalan utama dalam lingkup sekolah dasar sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Lain halnya di tingkatann sekolah, perguruan tinggi pun juga dibuat pusing dengan ini, utamanya mahasiswa, baik menyangkut kepengurusan oraganisasi maupun tentang  masalah akademik.

Seringkali juga kita menjumpai mahasiswa yang mengeluh akan jadwal padatnya perkuliahan online serta persoalan konsumsi data internet yang menguras banyak pada proses perkuliahan. Hal lain yang menjadi persoalan dalam pendidikan adalah akses bagi mereka untuk mengikuti proses belajar. Kita sama-sama mengetahui bahwa tidak semua daerah di Indonesia memiliki akses internet yang baik, masih banyak daerah yang terkendala akan hal tersebut.

Perekonomian, pembatasan sosial yang diterapkan daerah tentunya mempengaruhi perekonomian masyarakat. kurangnya pemasukan serta daya beli masyarakat yang menurun dan pembatasan aktifitas yang dilakukan oleh pemerintah sangatlah berdampak terhadap pelaku ekonomi.

Berbeda dengan orang kantoran misalnya, mereka tetap melaksanakan rutinitasnya di rumah, itu berbanding terbalik dengan masyarakat, seperti pedagang yang harus terjun langsung ke lapangan menjajakan jualanya. Disinilah tentunya pemerintah diharapkan mampu hadir memberikan solusi serta kebijakan yang proaktif terhadap pelaku ekonomi dengan tetap memperhatikan persoalan pandemi Covid-19.

Kegiatan keagamaan, hal yang menjadi perbicangan hangat dimasyarakat saat ini adalah persoalan pembatasan keagaaman. Banyak oknum menyalah artikan imbauan pemerintah terkait pembatasan keagamaan adalah sesuatu yang salah. Imbasnya, disetiap daerah masih banyak masyarakat yang tetap menjalankan rutinitasnya dalam beribadah dan menyepelekan imbauan pemerintah.

Persoalan Corona memang menyisakan banyak persoalan di masyarakat. Banyaknya stigma negatif terhadap pandemi Covid-19 tentunya menjadi salah satu persoalan juga. Hal inilah yang menghasilkan kepanikan sosial di tengah masyarakat dan sulit untuk dibendung oleh pemerintah.

Pemberitaan-pemberitan yang setiap harinya didapatkan masyarakat, baik berupa kasus kematian hingga ketimpangan ekonomi di wilayah terdampak. Ketika kita menyikapi persoalan ini tentunya banyaklah hal yang dapat ditelurusuri. Namun lain dari hal itu, sebagai masyarakat yang baik dan cinta akan tanah tanah air, seharusnya kita sebagai garda terdepan guna penanganan pandemi sekarang ini.

Bukan hanya melalui fungsi kita sebagai relawan, tetapi juga sebagai masyarakat. Pemanfaatan teknologi media sosial bisa kita lakukan dengan memberikan atau menyampaikan informasi yang bersifat positif dan interaktif ke masyarakat. Hal yang ingin kita capai tentunya bagaimana masyarakat secara mandiri mampu mencegah penyebaran serta diharapakan untuk melawan stigma negatif pandemi Covid-19.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), semester VI.

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami