Oleh : Azwar
Negara menuntut tentaranya untuk berperang melindungi masyarakat tetapi tidak diberikan senjata yang lengkap” itulah yang dirasakan tenaga kesehatan saat ini. Hari ini adalah awal pecan kedua sosial distancing diberlakukan, himbauan ini perlahan mulai diperhatikan dan dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat. Semua ini terjadi karena adanya virus yang kian viral di seluruh dunia yang disebut sebagai corona virus atau Covid-19 yang dikabarkan muncul pertama kali di salah satu kota besar di China yakni Wuhan.
Virus ini telah berhasil mengubah roda kehidupan dunia saat ini, transmisi dan penularan yang begitu mudah membuat virus ini dapat membawa partikel kecil ini mengunjungi berbagai Negara di dunia tak memandang Negara tersebut maju ataupun masih berkembang. Virus ini pula telah membuat beberapa pemimpin Negara untuk berpikir keras bagaimana cara “menyingkirikan” mereka dari wilayah mereka China terutama termasuk beberapa Negara maju seperti Korea Selatan, dan Italia dengan berbagai macam teknologi yang berkembang tak terkecuali system pelayanan kesehatan yang begitu maju.
Saat ini Covid-19 sendiri telah sampai ke negeri kita tercinta Indonesia, tak ada kata selamat datang untuk mereka. Butuh sekita tiga sampai empat bulan untuk Covid-19 sampai di Indonesia, yang awalnya ada beberapa masyarakat bahkan politisi yang mengklaim bahwa virus ini tak akan mampu sampai negeri ini. Hadirnya virus ini telah memberikan banyak perubahan besar dari berbagai elemen kehidupan negeri ini baik dari segi pendidikan dengan diliburkannya seluruh lembaga pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, kemudian dari aspek ekonomi tak jarang mendapati pasar yang harus ditutup sementara dan kegiatan ibadah yang terpaksa dilakukan dirumah semata-mata untuk mencegah Covid-19 menginfeksi masyarakat.
Sampai hari ini telah ditemukan kurang lebih 514 kasus positif dan tentunya ini agak merepotkan tenaga kesehatan kita, dan imbasnya adalah tidak sesuainya rasio pasien dan jumlah tenaga kesehatan yang bertugas di beberapa rumah sakit rujukan Covid-19. Sebut saja RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar sebagai pusat rujukan Se Indonesia Timur sepertinya sudah mulai kualahan dengan kondisi ini, sebut saja penulis memiliki pengalaman praktik profesi di ruang Infection Centre RS wahidin dan saat itu tempat tidur tidak terisi penuh tapi lelah tetap terpancar dari wajah para senior perawat yang bekerja, lantas bagaimana dengan hari dimana bayangan virus yang begitu fenomenal muncul dihadapan mereka dengan alat pelindung yang begitu kompleks harus mereka kenakan yang menurut penulis sebagai mahasiswa profesi ners begitu melelahkan bagi mereka.
Selanjutnya hal yang paling menyayat hati penulis adalah adanya perawat dan beberapa dokter yang harus meregang nyawa setelah berusahan untuk menolong pasien yang terindikasi Covid-19. Hal ini terjadi karena tidak lengkapnya alat pelindung diri (APD) yang digunakan oleh tenaga kesehatan kita, sementara saat ini dapat dilihat sulitnya APD untuk didapatkan karena adanya beberapa oknum yang berusaha untuk menimbun masker maupun hand sanitizer demi keuntungan financial semata tanpa memikirikan nasib saudara mereka lainnya.
Tentunya ini berbeda dengan kondisi yang terjadi di Negara tetangga kita yang mereka bahu membahu untuk mengumpulkan masker dan antiseptic untuk kebersihan tangan dan tentunya bukan hanya untuk tenaga kesehatan saja yang terpenuhi tetapi juga untuk masyarakat luas. Tentunya hal tersebut sungguh menggelitik nalar pikir bahwa rasa kemanusiaan sebagian masyarakat kita telah pudar.
Banyak sisi lain dari petugas kesehatan yang telah berpulang, salah satu dokter yang merupakan guru besar Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia harus meregang nyawa menghadapi virus ini karena kerendahan hati beliau untuk tetap membuka klinik praktek beliau dengan alasan kasihan karena pasien yang datang tersebut berasal dari jauh, kemudian ada sesosok dokter spesialis muda yang usianya masih sekitar tiga puluh tahun yang beberapa terakhir harus meninggalkan istri yang sementara hamil dan anak yang sementara bertumbuh demi menolong dan merawat pasien dengan Covid-19 ini.
Kemudian belakangan diketahui dokter ini pernah pulang ke rumahnya untuk melihat istri dan anaknya, akan tetapi beliau hanya sampai di depan pagar dan memandangi anak dan istrinya dan mungkin saja pertemuan tersebut adalah kali terakhir mereka bertemu. Itu hanya sepenggal kisah bagaimana para tenaga kesehatan kita berjuang dengan ikhlas untuk menyelamatkan jiwa yang lain sementara nyawa sendiri kurang begitu dipikirkan.
Dari cerita tenaga kesehatan yang harus mengorbankan nyawa demi menyelamatkan sesama harusnya menyadarkan masyarakat Indonesia untuk sama-sama bertanggugjawab dalam mengatasi virus corona ini. Pemerintah telah menetapkan untuk sosial distancing bagi seluruh warga negara akan tetapi tidak sedikit warga yang tidak mengindahkan peraturan ini, hal ini bisa dilihat dengan masih ramainya pusat perbelanjaan, jalan-jalan yang masih padat dengan kendaraan dan ironisnya mereka sama sekali tidak menggunakan alat pelindung diri seolah-olah program antivirus alami telah terpasang dalam tubuh mereka.
Sungguh lucu bukan kondisi masyarakat kita ? slogan yang selalu digaungkan oleh tenaga kami bekerja untuk kalian dan kalian bekerja untuk kami dari rumah tak membuat semua masyarakat sadar bahwa itu tak sekedar kata-kata melainkan kata yang merujuk ke kita semua agar seluruh masyarakat bisa selamat. Perlu diketahui bahwa Covid-19 bisa disembuhkan dan dapat dicegah dengan catatan kodisi tubuh yang baik serta mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap di rumah.
Sementara ketika separuh masyarakat tidak mengikuti anjuran tersebut maka dapat dipastikan bahwa rantai penularan virus akan lebih besar sehingga fasilitas kesehatan tak akan cukup untuk menampung ODP yang terinfeksi, sehingga angka kematian akan lebih tinggi pula. Untuk itu diperlukan kerjasama dari semua pihak dalam upaya menangani Covid-19 ini.
Semua elemen harus saling mendukung dan mengayomi dengan rasa kemanusiaan yang dikedepankan dengan bijak dalam menggunakan alat pelindung diri sehingga kebutuhan alat pelindung diri tenaga kesehatan kita dapat terpenuhi sehingga mereka dapat melayani pasien dengan aman dan tenang.
*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Profesi Ners Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar.











