Washilah – Sebagai rangkaian dari Halaqoh Akbar, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Ushuluddin Filsafat dan Politik, Komisariat UIN Alauddin Makassar Cabang Gowa menggelar dialog yang bertemakan “Relasi dan Bangsa dan Agama.” Berlangsung di Amaris Hotel, Panakkukang. Minggu (3/11/2019)
Ketua PMII Rayon Ushuluddin Filsafat dan Politik, Rahmat Jasinal mengatakan dengan diadakannya dialog ini dapat memberi pemahaman tentang aspek dari relasi beragama.
“Dengan adanya dialog ini kita semua bisa paham tentang aspek relasi beragama dan moderasi beragama karena dari sini dapat mendewasakan iman kita,” paparnya.
Dalam dialog ini juga menghadirkan tiga narasumber, yakni dari dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan La Ode Ismail, serta dosen Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik Awal Muqsith dan Syamsurijal Ad’han.
Dalam pemaparan materinya, La Ode Ismail menuturkan sebuah perbedaan itu adalah sunnatullah, itu lahir dari pemahaman yang berbeda-beda.
“Perbedaan itu sunnatullah, termasuk perbedaan dalam memahami agama. Jadi kelompok-kelompok agama itu lahir dari perbedaan dalam memahami teks-teks agama, seperti alquran dan hadis itu adalah kitab suci yang memungkinkan orang-orang melahirkan berbagai macam interpretasi baik yang dibangun atas basis ilmu maupun yang dibangun tanpa ilmu yang mumpuni,” ucapnya.
Sedangkan dari Syamsurijal Ad’han sendiri memaparkan tiga model hubungan yang sangat lazim dikenal yaitu hubungan antara negara dan agama.
“Yang pertama yaitu membalutkan antara negara dengan agama yang lazim kita sebut dengan negara teokrasi yakni menyatunya negara dan agama di dalamnya, kedua yaitu sekularisme, yakni memisahkan secara tegas antara negara dan agama dan yang terakhir adalah bukan menyatukan agama dangan negara tetapi tidak pula menyingkirkan agama dari urusan bernegara,” jelasnya.
Penulis: Lismardiana (Magang)
Editor: Dwinta Novelia











