Oleh: Abab
Kutiup angin yang meniup dirinya sendiri. Sampai mengenai buku dari suatu jarak untuk membukanya. Tapi ia tidak ingin, dibelai pun tak mau. Buku itu menghendaki dirinya tertutup lalu berdebu di ujung lemari. Barangkali ia berbahaya, terlalu banyak mencatat derita.
Siapa yang tidak tahu pemilik kebenaran? Kutanya pada tembok kiri kananku, katanya, tak tahu. Sudah dicat baru. Kutanya pada tanah di bawahnya, tak dapat ia bicara, milik negara.
Kucari sertifikat di gedung-gedung tinggi, termasuk perguruan tinggi. Tak sanggup kumembeli. Harganya teramat tinggi. Tak dapat kumeminta-minta, dikasihani. Masih ada harga diri.
Bagaimana caranya jadi polisi? Lari pagi, perut roti, otot kawat, otak gawat? Gampang, bukan? Kata google, begitu. Kata salah satu polisi yang normal, jual tanah air dulu. Tak peduli sehat atau cacat waras, asal ada duit, tak ada sulit.
Kulihat berita-berita di media, polisi suka memukuli orang kecil. Kepada siapa mereka menjual harga dan diri untuk menjadi polisi?
Semoga sepi cepat berlalu. Kubenci tirani, tapi lelah betul berorganisasi. Agitasi-agitasi mengaktivasi, sedang makan saja belum teratasi. Kubenci fasis, tapi hanya kudesis lewat puisi.
Sudah melawan kah aku? Kuapakan tenagaku yang meluap-luap ini? Menghancurkan, atau kuhabiskan saja semua untuk mencintaimu? Aku hanya ingin kau menemani. Tidak ingin ku terbakar sendiri.
Dan jika kau bertanya mengapa aku risaukan manusia dalam negara ini, maka kau telah salah, nona. Aku tak sekalipun peduli pada nasib banyak orang. Biar saja mereka pulang ke rahim ibunya. Menghisap segala harta keluarganya. Menikmati jerih payah ayah-ibunya sampai mati.
Aku tak pernah menyakralkan kebebasan banyak orang. Apalagi menyayangi. Tak ada tenaga tersisa untuk mereka. Mereka harus merebutnya sendiri. Aku tidak menyayangi semua orang. Terutama pejabat dan polisi. Juga dia, yang pernah kau cintai.
Aku hanya tak ingin jika kelak saudara sedarahku harus membaca dan berdiskusi sambil sembunyi-sembunyi dari pentungan dan bedil milik tentara dan polisi.
Aku hanya tak ingin perbincangan kita tentang kucing-kucing liar yang kita pelihara dan beranak pinak kelak terganggu oleh para tikus dan babi.
Aku hanya tak sudi jika jari jemari manismu membiru menghidupi tuan-tuan culas itu. Sungguh aniaya bagiku bila kau yang indah itu terkekang. Air muka dan matamu tak boleh muram. Kau harus terbang bebas. Sebebas-bebasnya.
*Penulis merupakan mahasiswa UIN Alauddin Makassar











