Awan Sialan

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ilustrasi: Istimewa

Oleh : Saldi Adrian

Deru angin yang menghantam tubuh

Dibawa awan gelap bagai abu

Tetes demi tetes hujan mulai jatuh

Seperti mereka menyeret dan memanggilku

 

Rebas air menyentuh dengan lembut seakan merangsangku

Suara angin melintas ditelinga seakan membisikku

“Kamu hidup hanya untuk melihat manusia meninggalkanmu”

Lalu, mengapa ada air lain yang jatuh selain hujan itu

 

Ketika udara masuk menyelinap di paru-paru

Rasanya sebuah dentuman akan keluar dari mulutku

“Ahhh sial” kenapa awan itu menatapku

Apa dia menghinaku? Mengasihaniku? Atau dia menertawakanku? 

 

Ingin kudatanginya, tuk rebut kembali terangku

Rebut Hari-hari di mana semuanya tampak menyenangkan bagiku

Rebut panggilan “bungko” yang tak mungkin lagi dengarku

Sialan kembalikan itu padaku, dia milikku

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin, Filsafat, dan Politik UIN Alauddin Makassar

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami