Oleh : Saldi Adrian
Deru angin yang menghantam tubuh
Dibawa awan gelap bagai abu
Tetes demi tetes hujan mulai jatuh
Seperti mereka menyeret dan memanggilku
Rebas air menyentuh dengan lembut seakan merangsangku
Suara angin melintas ditelinga seakan membisikku
“Kamu hidup hanya untuk melihat manusia meninggalkanmu”
Lalu, mengapa ada air lain yang jatuh selain hujan itu
Ketika udara masuk menyelinap di paru-paru
Rasanya sebuah dentuman akan keluar dari mulutku
“Ahhh sial” kenapa awan itu menatapku
Apa dia menghinaku? Mengasihaniku? Atau dia menertawakanku?
Ingin kudatanginya, tuk rebut kembali terangku
Rebut Hari-hari di mana semuanya tampak menyenangkan bagiku
Rebut panggilan “bungko” yang tak mungkin lagi dengarku
Sialan kembalikan itu padaku, dia milikku
*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin, Filsafat, dan Politik UIN Alauddin Makassar











