Dampingi Mahasiswa, Dosen FUFP UIN Alauddin Berhasil Terbitkan Buku 

Facebook
Twitter
WhatsApp

Washilah – Menulis adalah jalan keabadian, hal itu membuat Dosen Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik (FUFP) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Fajar S Sos M Si berhasil menerbitkan buku bersama Mahasiswa di masa pandemi.

Ayah dua anak itu, mulai membuat buku sejak 2016 dan terbit awal 2017. Buku pertamanya yakni ‘Demokrasi, Gender dan Politik’.

“Karena banyak mengkaji soal ilmu sosial dan politik yang hanya berakhir di ruang diskusi seperti kelas dan Warkop, ada baiknya tiap ide dan gagasan dibukukan agar menjadi tanda dan habitus baru di lingkungan akademik,” katanya, pada Reporter Washilah Senin (30/11/2020).

Dosen pengampu Administrasi dan Kebijakan Publik itu mengaku, membuat buku bersama dengan mahasiswa itu bukanlah hal yang biasa dilakukan oleh Dosen di ruang perkuliahan.

“Saya merasa bahwa, Dosen mengajar di ruang kelas itu sudah biasa, tapi meriset, meneliti dan menulis bersama mahasiswa itu hal yang tidak biasa, itu hakekatnya,” tegasnya.

Adapun total buku yang telah diterbitkan, sebanyak tujuh buah buku sejak 2016 hingga 2020.

“Saat ini masih ada satu buku sedang proses naik cetak penerbit di kota Jogja dan satu buku masih proses editing. Jadi total sembilan buku,” ungkapnya.

Tentunya proses pembuatan buku ini bukanlah hal yang mudah, ada banyak rintangan dan tantangan yang ditemui.

“Tantangan dalam proses membuat buku yaitu menagih tulisan dari mahasiswa-mahasiswa. Karena saya meminta tulisan mereka, dalam satu minggu itu mereka membuat tulisan sebanyak tiga halaman dari 15 sampai 20 halaman yang disepakati,” kata Dosen Kelahiran Kabupaten Bone.

Untuk mengatasi masalah itu, ia berusaha untuk tetap berdiskusi dengan mahasiswan untuk mencari jalan keluar dari masalah tersebut.

“Menulis butuh membaca, literatur, dan terkadang mereka meminjam buku di Perpustakaan, meminjam ke teman ataupun seniornya. Tiap ditagih ada saja yang belum menyelesaikan catatan kaki, ide pokok dan kerangka pikir, bahkan ada yang kesulitan menentukan judul. Ya itu semua kita diskusikan, tantangan seperti itu adalah muatan paling ideal dalam menggerakkan literasi di kalangan mahasiswa di kampus,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bagaimana proses membuat dan menerbitkan sebuah buku yang membutuhkan wadah, ingatan, harmoni dan cita-cita.

“Menerbitkan buku membutuhkan wadah, ingatan, harmoni dan cita-cita. Lantaran menerbitkan buku butuh anggaran yang kita talangi sama-sama. Jika ada yang kurang masing-masing menutupi. Karena menyenangkan sekali melihat mereka memegang buku hasil karya mereka masing-masing,” terangnya.

Selain berbagai rintangan atau tantangan yang didapatkan, pastinya ada hal-hal yang menarik yang juga mewarnai proses pembuatan buku tersebut.

“Hal-hal menarik banyak, diantaranya membimbing mahasiswa yang menulis sesuai dengan kaidah penulisan. Mahasiswa juga beda-beda ketertarikannya terhadap model tulisan, ada yang suka fiksi, nonfiksi, opini, dan lain-lain. Tapi karena gerakan literasi ini saya arahkan kepada mahasiswa untuk menulis opini, melakukan penelusuran wacana, bacaan dan riset lapangan, setelah itu mereka tulis dan saya diskusikan hasil tulisannya,” paparnya.

Menurutnya menulis butuh banyak membaca, literatur, dan referensi dari berbagai sumber dan tentunya semangat cita-cita.

“Memang perlu banyak membaca agar tulisan mempunyai model dan ciri khas. Sejak membimbing menulis, mahasiswa rata-rata punya bakat hanya saja mereka kurang terkontrol. Mesti punya wadah, ingatan, harmoni dan cita-cita,” katanya.

Lain halnya dengan salah satu mahasiswa Ilmu Politik yang juga ikut dalam pembuatan salah satu buku, Fahmi Husain mengatakan ada hal-hal menarik yang didapatkan selama proses pembuatan buku tersebut.

“Hal menariknya itu, kita jadi tahu bagaimana dengan saudara-saudara kita yg berbeda keyakinan dalam menyikapi perpolitikan di Indonesia apalagi yang minoritas. Jadi kita bisa tau sebenarnya apa yg mereka inginkan sehingga di dalam dunia politik mereka juga bisa merasa mendapatkan keadilan,” ujarnya.

Fahmi mengungkapkan banyak menemukan pengalaman dan pengetahuan baru selama ikut berpartisipasi membuat buku bersama dengan Pak Fajar.

“Kami banyak menemukan pengalaman dan pengetahuan baru terkait moderasi beragama, karena memang sebagian besar di buku itu berisi bagaimana agama-agama yang ada di Indonesia dalam menyikapi perpolitikan di Indonesia,” ungkapnya.

Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Politik ini berharap agar lebih banyak lagi dosen dan mahasiswa yang seperti Pak Fajar.

“Harapannya agar supaya lebih banyak dosen dan mahasiswa yang seperti Pak Fajar, yg senantiasa melakukan riset dan terus menulis. Semangatnya dari muda sampai sekarang itu tidak pernah surut khususnya dalam dunia literasi. Beliau adalah orang yang serius dalam mengerjakan sesuatu, termasuk dalam hal membimbing kami mulai dari cara-cara penulisan dan sebagainya, kami di bimbing dengan baik dan serius,” ulasnya.

Penulis: Lismardiana Reski

Editor: Rahma Indah

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami