Pandemi, Siapa yang Lebih Untung?

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok pribadi \ Muh. Akbar

Oleh: Muh. Akbar
Masih seputar Covid-19 yang tak ada redahnya di negeri ini, semakin hari kasus Covid-19 yang terinfeksi bertambah banyak, sebaigamana yang seringkali di publikasikan oleh akun resmi Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI, entah kasus ini betul-betul aktual atau hanyalah manipulasi data semata, siapa yang tau!

Dari di rumah aja sampai ke Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga new normal adalah istilah baru yang kemudian diterapkan oleh pemerintah, saya sangat mengapresiasi pemerintah yang selalu mengkaji setiap permasalahan yang ada dan hasil kajiannya tercipta segala kebijakan, tapi seolah semua kebijakan yang ada tidak memiliki substansi yang cocok, karena dari hari ke hari kasus Covid-19 bertambah banyak, dan lagi-lagi siapa yang harus disalahkan dalam hal ini?

Bisa dikatakan semua orang terdampak oleh keberadaan Covid-19 saat ini, mulai dari yang bergeluk di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan masih banyak lagi profesi lainnya, namun perlu dipahami orang-orang yang bergeluk di bidang tersebut tidaklah merasakan kebangkrutan yang besar jika dibandingkan dengan petani, nelayan, buruh atau yang lebih dikenal sebagai istilah ploretariat. Bahkan ada yang lebih parah lagi, yaitu orang tua lanjut usia ditemui di jalan, mereka tidak punya keluarga sehingga terlantar di negerinya sendiri, sungguh aneh bukan?

Tapi lagi-lagi saya kembali menepuk tangan kepada pemerintah karena cepat tanggap menangani Covid-19 ini, entahka mereka serius atau hanya mencitrakan diri sesaat, saya apresiasi pemerintah, dengan berbagai macam jenis bantuan sosial yang diserahkan kepada masyarakat ploretariat, namun ironisnya masih ada saja oknum yang memanfaatkan pandemi saat ini, antara lain yang mengkebiri hak yang bukan haknya, memanipulasi data bantuan, dan memberikan bantuan karena mereka berkeluarga, dan seperti itulah sistem pendataan bantuan ditengah pandemi saat ini, ketika dipikir secara rasionalitas bukankah gaji dan segala tunjangan yang mereka terima sudah membuatmu terasa kenyang dan tenang dibanding dengan kau merampas hak-hak orang yang lebih membutuhkan! Sungguh serakah meraka yang selalu mengambil hak-hak orang lain.

Hingga hari ini pemuda/mahasiswa tak henti-hentinya berjuang untuk menuntut keadilan dan mencari kebenaran yang terjadi di negeri ini. Namun yang kembali hangat di media saat ini setelah kasus Novel Baswedan yang disiram air keras, malah menghadirkan kontroversi besar karena dengan hukuman dan perbuatannya tidak setimpal membuat orang jadi geger di sosial media, bahkan orang yang tidak paham hukum sekalipun resah melihat bentuk ketidakadilan ini, salah satu contohnya komedian yang bernama Bintang Emon yang mencoba mengkritik putusan hakim mengenai sanksi yang diberikan pelaku, hal itu sama sekali tidak sebanding dengan apa yang diperbuat, tuturnya dalam video yang dia bagikan.

Akan tetapi dibalik kritikan komedian Bintang Emon, malah mendapat kecaman dari beberapa netizen, yaitu malah di fitnah bahwa Bintang adalah seorang pengedar narkoba, sungguh aneh dan tidak ada sama sekali korelasi dengan apa yang disampaikan komedian itu. Bukan ini yang ingin saya gubris lebih dalam lagi melainkan tentang tuntutan mahasiswa ditengah pandemi saat ini.

Maraknya status dan story kawan-kawan mahasiswa yang mengeluhkan sistem perkuliahan di tengah pandemi saat ini dan juga mengenai kebijakan-kebijakan yang kerap dikeluarkan oleh pihak kampus, mulai dari bentuk kurangnya kepedulian pihak kampus kepada mahasiswa, dan yang lebih ironis lagi tentang akan tetap diberlakukannya pembayaran UKT/BKT di semua kampus di Indonesia, tentu hal ini akan menjadi acuan perlawanan kawan-kawan mahasiswa terhadap pihak kampus yang betul-betul kurang memahami pandemi, bahwasanya tidak semua mahasiswa mampu untuk membayar SPP, bahkan ada yang rela bekerja, orang tuanya di PHK, dan ada pula yang meminjam uang demi pembayaran UKT/BKT agar namanya terpampang di portal resmi kampus.

Tentu ini akan menjadi kesempatan besar bagi semua elemen mahasiswa untuk turut andil dalam merefleksi keputusan pihak kampus yang mengeluarkan kebijakan begitu saja tanpa kurang mempertimbangkan kondisi mahasiswanya saat ini, dengan demikian perlawanan akan selalu ada dibalik tidak adanya transparansi dan ketidakadilan yang sering terjadi, meskipun perjuangan kawan-kawan seringkali mendapat tindakan yang tidak semestinya dia dapatkan, karena bagi para birokrat satu-satunya cara untuk menghentikan pergerakan adalah melakukan tindakan refresif, dan inilah yang sering kami rasakan ketika sedang menyampaikan aspirasi.

Pandemi ini, siapa yang lebih untung? Harusnya rakyat! bukan mereka yang selalu mengkebiri hak rakyat!
Pandemi, siapa yang lebih untung? Harusnya mahasiswa! bukan para petinggi kampus.

Saya akhiri tulisan ini dengan kata Pramoedya Ananta Toer yang pernah berkata, ”Seseorang yang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran,” tuturnya dalam buku Bumi manusia.

Semoga setiap dari kawan-kawan selalu merawat jiwa perlawanannya terhadap siapapun yang melakukan penindasan, panjang umur semua hal-hal yang di anggap baik.

*Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan
ilmu Hadits Fakultas Filsafat Ushuluddin Filsafat dan Politi (FUFP), semester IV.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami