Oleh : Asmiati
Dengan bantuan hujan di luar sana izinkan saya berfilsafat, barangkali saya bisa berkontemplasi dan fokus pada windows di depan saya sembari mendengarkan suara kepala dan suara perasaan, apa yang di transfer oleh pikiran dan jari-jari untuk terus bergerak dan menulisnya dengan refleks, sesekali berhenti, berpikir, mengetik, memasuki masa lalu, mengetik.
Ketika memasuki masa lalu, aku melihat aku kecil berlari-larian, berkejaran, melompat, bermain, tertawa selebar-lebarnya, bernyanyi lagu anak, tak perlu menjadi rumit, saat kecil kita bebas berekspresi, alangkah leganya menjadi anak kecil, kita bisa berteriak, menjerit dan bahkan kita bisa menangis sejadi-jadinya dan tenang saja sebab secara bersamaan di sanalah tangan dan pelukan ibuku menjadi obat yang menyembuhkan dari segala sakit dan dari bibirnya berbisik “jangan menangis, tidak apa-apa” atau bahkan ketika kita terjatuh dan luka sedikit ia akan berkata “bagian mana yang sakit, nak. Bagian mana, Biar ibu tiup”. Dengan tangannya ia usap punggung kita, air mata kita, kepala kita dan dengan tangan itu ia sembuhkan kita dari segala sakit secara ajaib.
Di dunia anak kecil sepertiku semua akan baik-baik saja jika ada ibu, mainan dan teman. Sederhana sekali, Aku iri pada aku kecil, saat aku belum mengenal dunia filsafat, dan saat itulah aku tahu bahwa sebetulnya di sanalah di kesederhanaan itu semuanya tampak bahagia.
Di wajah kita terlihat ketulusan, keikhlasan. Saat kita belum di jejali pemikiran dialektika. Nihilism, eksistenlialisme, hedonism, stolkisme, marxisme, feminism, romantisme, rasionalisme, relativisme, idealism, skeptisisme, materialism, dualism, platonisme, pragmatisme dan berbagai isme-isme yang tak pernah selesai di bicarakan, di diskusikan, di perdebatkan, berbagai pemikiran dari timur matahari terbit dan di barat tenggelamnya semuanya berkumpul dalam kepalaku. yang pembahasannya seperti labirin gelap tak berujung, berkelok-kelok, dingin dan sendirian, dan sejak saya menginjakaan kaki di dunia filsafat isi kepala saya selalu berisik, rumit, kacau.
Beda dengan aku kecil yang polos, di saat aku yang kecil itulah aku paling banyak belajar tentang cinta, keluarga, persahabatan dan rasa syukur dalam bentuk yang paling sederhana. Yang saya tahu hanya menggambar, bermain boneka, main masak-masakan, menulis di buku diary, di ceritai dongeng kisa Nabi, yang jelas melihat dunia dari mata anak kecil yang tak pernah mengkhawatirkan apa-apa.
Awal memasuki filsafat semua orang mengingatkan tapi aku dengan percaya diri “bahwa sejak kecil kedua orang tua saya sudah menanam keimanan dalam diri saya dalam-dalam, jadi tenang saja, aqidah aku tidak akan terlepas, goyah atau tercabut sampai akar-akarnya”
Sekarang … aku tidak akan bisa mengenal tuhan seperti aku kecil mengenal Tuhan dahulu, aku rindu mengenal Tuhan sebagaimana aku kecil mengenal Tuhan, kalau jahat masuk neraka, kalau tidak puasa makan ulat dan minum darah, kalau tidak sholat masuk neraka jahanam. aku kecil tidak perlu bertanya “apakah neraka itu ada? Neraka itu dimana? Apakah neraka itu ada di dalam tanah? Pernahkah kamu masuk neraka? Adakah orang yang pernah melihat neraka? Bagimanakah isi neraka? Di selidiki dari berbagai aliran empirisme-positivisme-materialisme-rasionalisme-dan lain lain.
Ku ingin kembali menjadi anak-anak sekali lagi. Dalam mata anak-anak, kau akan melihat dunia ini dengan cara pandang sederhana, kau akan melihat sebuah dunia yang tidak mengerikan, manakutkan, melelahkan dan penuh kebencian. Kau akan melihat dunia dengan cinta. Begitulah mata anak kecil melihat segala sesuatu dengan mata polosnya, tapi ketika kau memasuki filsafat kau akan melihat dunia dari mata Descartes, Sartre, Albert Camus maupun yang ekstrim seperti Karl Marx atau Fredrich Nitzche dan masih banyak lagi.
Segalanya tentang Tuhan menjadi tidak masuk akal, semakin aku gencar mencari Tuhan, semakin semuanya terlihat gelap. Pencarian Tuhan seperti penderitaan pribadi, penyakit yang sulit di sembuhkan, aku melihat diriku sekarat karena pikiran-pikiranku sendiri. Aku tidak tahu harus di mana meminta tolong untuk di sembuhkan dari penyakit ini, Filsuf-filsuf itu pandai bicara dan meyakinkan, ia kacaukan isi kepalaku, di bibir filsuf itu segala yang masuk akal menjadi tidak masuk akal, segala yang tidak masuk akal di ubah menjadi masuk akal, yang tidak pasti di pastikan yang pasti di tidak pastikan, yang abstrak, yang kabur, samar-samar di singkap sehingga menjadi terang
Sekarang … segala hal di depanku menjadi rumit dan kejam. Isi kepalaku berisik oleh pertanyaan-pertanyaan yang timbul-tenggelam. Aku siapa? Apakah aku ada? Apa hidupku tidak ada gunanya? Hidup ini mengerikan. Apakah ini nyata? Atau ini semua ilusi, imajinatif? Objektif-subjektif, fisika-metafisika, tesa-antitesa, imanen-transenden, Rasional-Irasioanl, Materi-nonmateri, Stop Stop.
Saya mulai tak yakin dengan apa yang ku percaya, segala yang benar mulai tidak benar, segala yang ku percaya menjadi keragu-raguan, yang tidak di pikirkan di pikirkan, segala yang tersusun mulai berantakan, aku mulai bingung, perilakuku mulai aneh, mulai sinting, mulai gila, semua pengetahuan di bumi semakin di ketahui semakin membuat kacau apa yang tertata.
Bayangkan, kita bertanya apa itu Tuhan? Kita baca 100 sudut pandang filsuf tentang apa itu Tuhan perspektif mereka, kita campuradukkan, kita bingung, pusing, sakit kepala, kepala kepala mau pecah, meletup-letup, kepala mau meledak, dan di waktu itu aku ingin menjadi anak-anak seperti dulu yang hanya tahu main. Di mana semua di mata anak kecil semua yang tidak biasa tampak biasa, segalanya yang rumit di sederhanakan.
Kadang aku ingin lari, tidak ingin mempertanyakan apapun tentang Tuhan, aku ingin mengenal Tuhan seperti saat aku kecil dulu, tapi tetap saja pertanyaan seputar Tuhan timbul-tenggelam dalam kepalaku. Aku ingin mendamaikan pikiranku yang kalut, mengurai pikiranku yang rumit menjadi lurus. Dengan mencoba menghindar, menolak untuk tahu, menolak ingin tahu, menolak mencari tahu, saya mencoba melarikan diri dari keacauan pikiran yang ku pikirkan sendiri.
Apa Tuhan yang kita cari selama Ribuan tahun telah di temukan? Apa Tuhan telah kita temukan dari buku-buku dialektika yang telah kita baca? apa Teknologi Ilmu pengetahuan yang sedemikian hebat sudah bisa mendeteksi Tuhan? Apa peradaban kita yang kuat dan megah ini menemukan Tuhan? Aku tahu, segala hal yang kita bicarakan tentang Tuhan takkan pernah selesai di diskusikan.
Di perdebatkan, pencarian Tuhan yang hilang semacam terjebak di lingkaran setan. Filsuf itu dengan cerdasnya memainkan kata-katanya, logikanya masuk akal dan mereka menjadi rasionalis professional. Kita terus baca buku filsafat, tenggelam dan tersesat dalam buku itu, kita tak pernah berusaha keluar dari buku filsafat itu sebab kita menuntut apa yang tidak kita tahu menjadi kita tahu lalu benar-benar tahu dan menjadi maha tahu dan berujung kita tak bisa menemukan jalan keluar dari buku filsafat itu. Dan akhirnya kita sakit dan mati terjebak dalam buku filsafat itu. Kita menuntut kejelasan tentang Tuhan dan segalanya dari pemikiran manusia-manusia.
Segalanya … Ilmu pengetahuan dan tokoh-tokohnya yang cerdas tak pernah bisa menemukan Tuhan, tak pernah bisa menyentuh Tuhan bahkan dari gambaran samar-samar tak pernah bisa mendefenisikan Tuhan, bahkan dari segala macam pemikiran hebat filsuf itu, entah bagimana caranya, dengan intuisiku, begitu saja aku tahu bahwa tuhan itu ada di suatu tempat terdalam, di ulu hati ku.
Menjadi anak-anak adalah salah satu impianku untuk memulihkan apa yang retak perlahan-lahan. Sebab sekali lagi … sewaktu aku kecillah aku paling banyak belajar tentang cinta, ketulusan, dan rasa syukur.
*Penulis Merupakan Mahasiswi Jurusan Akidah Filsafat Islam (AFI) Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik (FUFP).











