Dilematis Masyarakat dan Pertarungan Identitas Ditengah Pandemi Covid-19

Facebook
Twitter
WhatsApp
Doc Pribadi | Muhammad Kasim

Oleh : Muhammad Kasim

Seperti yang kita pahami secara bersama bahwa masyarakat (society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Maka tak khayal interaksi yang berlangsung begitu cepat membuat peredaran informasi dalam masyarakatpun mengalami siklus yang sangat cepat.

Sedang Ali Syariati sebagai salah satu pemikir intelektual muslim dari iran, mendaku bahwa masyarakat adalah sekelompok orang yang memiliki perasaan yang sama. Tetapi apakah dengan perasaan yang sama ini tidak akan membuat masyarakat terpecah belah dengan berbagai situasi yang melanda? Tentunya masyarakat suatu hal yang dinamis maka tidak menutup kemungkinan terjadinya konflik horizontal.

Lalu apakah yang menjadi sebab musabab terjadinya konflik dimasyarakat? Mungkin kita sepakati bersama bahwa masyarakat adalah sebuah kelompok yang lahir dari berbagai individu yang secara subtansial berbeda entah itu karakter dan bahkan cara berpikir tetapi seiring pelabelan dan ikatan dalam masyarakat maka semua memiliki visi dan perasaan yang sama seperti yang disampaikan Syariati dalam goresan penanya yang berjudul Ideologi kaum intelektual yang begitu menggugah para pembacanya.

Kondisi Dilematis Masyarakat

Pandemi Covid-19 adalah wabah penyakit yang menjadi mimpi buruk diseluruh dunia tanpa terkecuali Indonesia, tentunya hal ini sudah menjadi konsumsi sehari-hari bagi para pembaca, yang bisa dijumpai dimedia massa,media sosial dan berbagai sentrum informasi lainnya.

Covid-19 selain menjadi penyakit fisik yang melanda hampir seluruh manusia didunia, nyatanya menghadirkan kondisi dilematis bagi setiap orang di Indonesia yang menggantungkan hidupnya diluar rumah. Mengapa tidak? Pembatasan Berskala Besar (PSBB) yang dicanamkan hampir seluruh wilayah di indonesia pada faktanya menghadirkan pertentangan batin bagi setiap masyarakat, pada satu sisi harua taat pada aturan pemerintah sedang dilain sisi harus memenuhi tuntutan ekonominya yang begitu mendesak dan justru mencekam kelangsungan hidup.

Sedang solusi pemerintah yang terwujud dalam berbagai bentuk bantuan nyatanya belum terealisasi dengan baik. maka kesulitan penerapan psbb dengan baik karena bandelnya masyarakat adalah suatu bias dari ketidak hadiran pemerintah dalam situasi sulit untuk masyarakatnya.

Pertarungan Identitas

Kita orang indonesia yang kebetulan beragama Islam atau orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia? Ini adalah pertanyaan yang tak jarang kita temui baik dalam ruang-ruang intelektual maupun komunikasi verbal dimasyarakat yang pada dasarnya mengandung maksud untuk memperjelas identitas kita, apakah kita lebih condong pada Islam sebagai agama atau Indonesia sebagai label kebangsaan. Hal-hal yang seperti inilah yang tak jarang menjadi tembok pemisah umat manusia dibelahan bumi.

Bukan hanya identitas keagamaan dan kebangsaan, tetapi ada hal yang sangat sensitif dalam kehidupan sosial antara lain suku, ras dan bahkan corak berpikir sebagai hal yang paling fundamental tak jarang menjadi pemicu caos (konflik) di pusaran masyarakat. Mengapa hal itu terjadi? Mahatmagandhi telah mengajarkan kita dari pemaparan sejarah bahwa melihat manusia bukan dari hal-hal yang ia lekatkan pada dirinya melainkan apa yang melekat secara esensial padanya yaitu kemanusiaan.

Tetapi akhir-akhir ini muncul pertarungan identitas baru yakni antara simiskin dan si pura-pura miskin. Sesuai dengan ketentuan yang terncantum dalam Perpu No.1 tahun 2020 tentang bantuan langsung tunai(Blt) dana desa dengan berbagai syarat dan mekanisme pencatatan akhirnya menghadirkan polemik berlapis ditengah pandemi covid-19. Masyarakat berusaha melekatkan dirinya pada identitas sebagai korban covid-19 bahkan sampai pemerintah desa yang tebang pilih dalam menyalurkan bantuan ini.

Memang benar bahwa ketika menyentil persoalan perut semua orang akan melakukan segala cara, misal pura-pura miskin untuk menyingkirkan yang miskin dari gelanggang penerima bantuan yang berimplikasi pada hadirnya kecemburuan sosial. Nurcholis majid dalam cuitan pintu-pintu menuju tuhan mendaku bahwa revolusi kadang muncul dari kecemburuan sosial. Lihat saja akhir-akhir ini karena ketidak akuratan pemerintah dalam mengklasifikasi data penerima maka menghadirkan kecemburuan sosial yang berpucuk pada aksi protes ditengah larangan untuk berkumpul bahkan sampai pada tindakan-tindakan irasional manusia (saling memangsa).

Masyarakat Kesulitan Untuk Bersikap

Salah hal yang menjadi pembahasan ditengah masyarakat saat ini selain covid-19 sendiri yaitu kebijakan pemerintah yang salah satunya menghimbau larangan beribadah dimesjid, maka tak banyak dari masyarakat yang harus mempertaruhkan kewajibannya sebagai warga negara untuk pemenuhan ritus-ritus keagamaan. Ramadan kini ramai tapsiran pesimis, tetapi saya rasa Bulan suci Ramadan tidak kehilangan berkahnya sama sekali, karena fitrah akan kita temui dan bulan suci Ramadan adalah jalan menujunya.

Perlu dipahami tidak ada orang yang berada diatas sebuah jalan memilih statis melainkan dinamis, mari tetap berbuat baik ditengah kondisi yang sulit ini. Hilangkan segala identitas yang melekat pada tiap diri manusia demi aktualnya rasa kemanusiaan kita. yang memiliki otoritas memerintah silahkan memerintah dengan bijaksana tanpa melibatkan kekerasan dan yang diperintah mari mengikuti dengan pertimbangan yang serasional mungkin.

Jangan Saling Memangsa

Thomas Hobbes mendaku bahwa ketika manusia saling memangsa (Homo homini lupus) dalam kehidupan maka itu sama halnya dengan binatang. dengan kesulitan yang melanda akhir-akhir ini justru malah berakibat pada kehidupan manusia yang saling menindas, yang kaya mengeksploitasi simiskin, sikuat melengser silemah, sikuasa mengkerdilkan rakyatanya.

Konflik horizontal dan vertikal yang terjadi diberbagai daerah akhir-akhir ini semakin menguatkan sisi-sisi kebinatangan setiap manusia yang kapan saja bisa muncul sebagai kualitas respons terhadap berbagai kesulitan melanda.

*Penulis Merupakan Mahasiswa Jurusan Peradilan Agama Fakultas Syariah dan Hukum (FSH). 

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami