Selain Kemanusiaan, Kita Butuh Humanisme

Facebook
Twitter
WhatsApp
Doc Pribadi | Ilham Aidil

Oleh: Ilham Aidil

Saya suka nuansa perkemahan dan memang sejak kecil saya sudah biasa pergi berkemah. Saat masih duduk di bangku SD saya mengikuti perkemahan Pramuka yang diadakan menjelang perayaan hari kemerdekaan Indonesia. Saya sudah terbiasa meninggalkan rumah. Saya belajar untuk mandiri sedari kecil. Di SMP, saya kembali bergabung dengan ekskul pramuka, selama berseragam pramuka saya tidak pernah alfa mengikuti acara perkemahan sabtu minggu atau lebih dikenal dengan istilah Persami, dan perkemahan yang berskala kecamatan hingga kabupaten.

Hanya saja di waktu SMA entah angin darimana berembus, saya memutuskan untuk bergabung di PMR (Palang Merah Remaja), tidak jauh berbeda dengan pramuka hanya saja di PMR kita dilatih untuk lebih peka terhadap masalah kemanusian sebagaimana prinsip dasar  yang tertuang dalam gerakan palang merah. Dan itu merupakan salah satu poin penting dalam kepalangmerahan. Bagaimana menanamkan rasa kemanusian dalam diri. Saling mengasihi dan mempedulikan. Bertindak dengan penuh rasa tanggung jawab.

Berkat seorang pembina yang bijaksana bernama Pak Syam, ia menyulap perkumpulan remaja bernama PMR menjadi wadah yang menarik, membina generasi-generasi yang memiliki kepemimpinan, kemandirian, dan kepalangmerahan. Menghayati rasa kemanusian dari status sosial yang berbeda, budaya, dan agama. Menghilangkan segala bentuk primordial. Membangun kebersamaan. Membuat hidup lebih bermakna. Mendesain sekolah kemanusiaan.

Kemanusiaan
Menjalani hidup ini tidak lepas dari persoalan manusia dan kemanusian. Kemanusiaan itu sendiri adalah persoalan yang terkait dengan kebaikan dan rasa peduli terhadap sesama. Sebagai anggota Wira PMR di masanya, saya mengartikan kemanusiaan adalah prinsip yang menekankan kemanusiaan dalam hal memberikan bantuan atau pertolongan tanpa membeda-bedakan suku, ras dan agama tidak hanya berlaku pada peperangan atau bencana alam tetapi juga berlaku pada saat wabah menyerang seperti sekarang ini. Banyak orang tergerak hatinya untuk melakukan kegiatan sosial atas nama kemanusiaan.

Menyalurkan bantuan berupa peralatan yang menunjang kerja tim medis baik berupa APD maupun yang bersifat finansial, memberikan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat yang membutuhkan berupa makanan dan bahan pokok lainnya dan membagikan masker dan sanitizier secara cuma-cuma selama mereka menghadapi wabah Covid19. Munculnya kelompok atau komunitas yang membawa misi kemanusian dengan suka rela membuktikan bahwa kemanusiaan itu benar adanya. Bagaimana mereka semua menjadi pahlawan dan tumpuan harapan yang dengan senang hati berbuat atas dasar kemanusiaan.

Humanisme
Jauh sebelum abad modern ini, kemanusiaan sudah digaungkan pada zaman renaissance dengan bentuk yang berbeda, atau yang lebih dikenal dengan istilah humanisme di mana gerakan ini muncul sebagai bentuk pembaharuan peradaban manusia di zaman tersebut sebagai permulaan kebangkitan dunia modern yang berkembang pada abad  ke 14 dan  15. Kemanusian adalah sifat dan empati di mana humanisme bertujuan untuk menghidupkan kemanusiaan itu sendiri. Keduanya memandang manusia sebagai objek untuk keberlangsungan hidup manusia.

Humanisme yang menurut Ali Syariati adalah berkaitan dengan eksistensi manusia, bagian dari aliran filsafat yang menyatakan bahwa tujuan pokok dari segala sesuatu adalah kesempurnaan manusia. Aliran ini memandang bahwa manusia adalah makhluk mulia yang semua kebutuhan pokok diperuntukkan untuk memperbaiki spesiesnya.

Di tengah serangan wabah Covid19 manusia berupaya bertahan hidup dan saling menguatkan baik dari pandangan agama maupun ilmu pengetahuan. Saling mengisi menyatukan harapan dan cita-cita untuk proses kelangsungan hidup manusia di masa yang akan datang. Para ilmuwan berupaya menciptakan anti virus melawan virus yang tengah berkembang. Para ahli tim medis berjuang di garis depan menangani pasien yang terpapar virus.

Para agamawan saling menjaga ummatnya agar terhindar dari wabah yang mematikan ini. dan segenap orang yang berjuang dengan kesadaran dan akal budi yang dimilikinya untuk mengatsi covid19. Bukankah ini suatu bentuk kemajuan. Bukankah gerakan demikian adalah gerakan humanisme yang pernah terjadi di masa lampau di Eropa. Kita tidak mesti kembali di abad demikian, kita hanya perlu menghadapi zaman sendiri untuk bangkit dengan tumpuan kaki sendiri. Kita mempunyai kemanusiaan dan humanisme.

Kemanusiaan dan humanisme saling terkait satu sama lain. Kita membutuhkan keduanya. Tidak ada pilihan lain bagi kita selain harus saling membantu, melayani, menguatkan dan memutus rantai penularan covid19 demi keselamatan bersama. Jika tidak bisa mengambil bagian dalam melawan covid19 layaknya mereka yang berjuang di baris depan, maka mari memarkir kebodohan dengan pongah mengatakan tidak takut corona di baris belakang dan egoisme pribadi dan kelompok sejenak dengan berdiam diri di rumah.

*Penulis Merupakan Tenaga Pengajar PIBA Bahasa Inggris UIN Alauddin Makassar.

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Dummy Edisi 6 Maret

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami