KKN, Take Me Out yang di Fasilitasi Kampus

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok 2019 Mahasiswa KKN angkatan 60 Desa Lagori Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Bone.

Oleh : Epi Aresih Tansal

Sapa temen-temen KKN UIN Alauddin angkatan 62 dulu ah…. “dari posko mana bossku?” semoga dalam mengemban tugas mulia selalu kompak, saling menjaga, dan senantiasa aman dari wabah radikal virus corona, tulisan ini adalah sekuel dari tembereng yang kemarin diawal keberangkatan, sekuel ini bernuansa santai lagi jenaka sebagai wejangan dan celetukan dengan teman seposko, selamat membaca mungkin juga membuat pipi auto merona hehehehe….

Bagaimana kondisi terkini gengs, korcam…kordes, pasukan jaket hijau yang datang dari Samata sehat ?… semoga paranoid terhadap virus corona tidak menghalangi pengabdian dan anterean proker yang sedang dalam pelaksanaan.

Memantau dari media daring www.washilah.com, program kerja teman-teman KKN angkatan 62 layak diapresasi, salah satunya, mengolah kulit rambutan menjadi teh herbal di desa Saotengah kecamatan Tellu Limpoe kabupaten Sinjai, dan mahasiswa KKN desa Tombolo Kecamatan Kelara kabupaten Jeneponto yang mengadakan pelatihan terhadap warga bagaimana mengolah limbah kulit jagung.

Sehingga dikotomi yang mungkin menganggap mahasiswa UIN hanya bisa berjibaku dengan ayat dan dakwah juga bisa menyelaraskan sains dan religiositas ditengah masyarakat. Tidaknya dua program ini telah mengejewantahkan visi misi UIN Alauddin Makassar yang mampu menghidupkan ilmu dalam agama. Kenerja teman-teman patut diacungi jempol oleh dosen pembimbing dan segenap jajaran LP2M, bukan begitu Bapak (Dr Muh Suhufi M Ag) ? hehehehehe…..

Oke kembali ke pernyataan mengapa “KKN adalah Take Me Out yang di fasilitasi kampus?”… karena tidak sedikit mahasiswa yang sedang dalam tugas mulia mengabdi bertemu cinta sejati di lokasi. Masih ingat hari keberangkatan teman-teman, dipagi-pagi buta sontak mengubah kampus kala itu layaknya suasana terminal Daya dan Mallangkeri, bus dan mobil berjejer ria memadati parkiran sekitar auditorium, LP2M dan Gedung Rektorat.

Euforia dari kerumunan jaket hijau yang menenteng backpacker dan koper super besar layaknya ingin berkeliling Eropa diantar oleh keluarga dan orang terdekat untuk melepas kepergian yang cukup lama dari Samata. Kala itu teman-teman yang awalnya saling menganggap sebatas orang lain, dalam hitungan 45 hari, kalian yang asing akhirnya seling menemukan sebagai sahabat baru dan kemungkinan besar menemukan seseorang yang lambat laun akhirnya mengisi ruang hati.

Tulisan ini ada setelah termangu melihat kalender, terisolasi dirumah dari kebijakan lockdown pemerintah untuk hari yang terbilang panjang dan membosankan, akhirnya terpikirkan menulis untuk menyapa teman-teman yang hampir sebulan di lokasi pengabdian. Menurut Psikolog Klinis Lisa M Djapre, idealnya rata-rata manusia membutuhkan waktu 30 hari untuk membuat suatu hal menjadi “habits” atau kebiasaan, dan cinta biasanya datang tiba-tiba tanpa aba-aba karena terbiasa. Terbiasa makan bersama, terbiasa berboncengan bersama, terbiasa saling memandang, hati-hati dengan aktifitas yang sudah mulai terbiasa.

Setap posko dipastikan teman-teman mempunyai peran masing-masing dilaur program kerja, ada yang paling didengarkan karena dituakan, ada silambe turah yang memantau setiap gosip di posko, dan ada mak comlang yang hobinya menjodoh-jodohkan teman-temannya, paling suka menggoda dengan kata cie cie, setiap hari bila ada-ada saja momen menis diantara dua sejoli yang sudah menjadi targetnya, mak comlang ini tugasnya menjadi booster kedekatan, teman salah tingkah sedikit, “cie… cie” lagi lagi dan setiap hari. Karena keseringan, akhirnya dua teman yang biasa saja mulai saling malu-malu dan sembunyi-sembunyi saling memperhatikan satu sama lain.

Sekiranaya itulah sedikit balada, dibalik jebakan sesuatu hal yang hanya dianggap “biasa” diawal mula. Mungkin suara dan bau kentut yang kelepasan di posko juga sudah jadi biasa, bukan lagi aib yang harus disembunyikan sejadi-jadinya, tidak ada yang benar-benar bisa menjaga image selama ber-KKN. Bagaimana tidak full time kalian bersama,sekurang-kurangnya kedapatan kentut dan ngupil di posko mau tidak mau sudah menjadi hal memalukan yang dilakukan pada saat me time, bukan lagi karena keadaan.

Kalau ada teman yang ala bisa selalu terlihat sempurna tidak pernah meluapkan emosi naik pitam dan segala kekurangannya,sangat pandai menjaga citra, berhati-hatilah karena itu satu ciri primer Psychopathy. Karena tidak ada manusia normal yang benar-benar mampu menjaga image dalam jangka waktu salama itu.

Masih seputar kebiasaan, sudah pasti ada kebiasaan sederhana ala-ala yang kerap dilakukan di posko agar komunikasi dan kekompokan selalau terpupuk, juga untuk memenuhi kebutuhkan humor sebagai penyeimbang dari tekanan dan lelah. Walhasil bermain kartu kerap dijadikan hiburan oleh mahasiswa KKN untuk menghidupkan suasana jenaka. Sebagai hukuman atas kekalahan, haruslah rela menerima kejailan teman posko, yang biasanya memdempuli wajah yang kalah dengan bedak putih atau tepung seluruh wajah.

Sadar tidak….. teman-teman sudah mempunyai pengagum rahasia selama ada disana, ada yang berusaha mencari tahu nama, jurusan, kontak whatsApp , akun Isntagram dan sudah mulai stalking. Mungkin penggemar itu teman seposko atau rekan sejawat posko tetangga atau bisa juga pemuda desa. Jika merasa sudah menerima perlakuan khusus yang istimewa, ditambah dianya yang rutin mampir ke posko dengan alasan dibuat-buat hanya sekedar ingin minum kopi atau ngerumpi tidak jelas untuk mencari perhatian, itu sudah ada tanda gengs, hehehehe… tidak salah memperjuanhkan perasaan bung Hatta pernah berkata “Jika kau mencintai seseorang maka kejarlah. Jika kau tidak bisa maka berjalanlah, jika tidak bisa juga berjalanlah ditempat. Setidaknya kau tidak diam”. Tidak ada salahnya berjuang mengusahakan.

Tidak setiap orang berani memperjuangkan, apalagi bila yang jatuh hati ini “perempuan”, menjadi sang Mujahidah pemendam rasa lebih dipilih, mempertahankan gengsi dianggap lebih baik dari pada kehilangan sedikit harga diri depan orang yang disukai. Kerap kali perempuan jatuh hati dari perhatian yang menurut teman laki-lakinya adalah perhatian biasa yang diberikan kepada siapun temannya, yang membuat si perempuan ini merasa di istimewakan, sehingga muncul istilah “datang.. lalu memberi rasa nyaman, kemudian menghilang” seolah yang salah adalah laki-laki, seolah laki-laki lah yang jahat dan mempermainkan, padahal dia hanya berusaha bersikap baik dan ramah sebagai seorang teman, perempuan terkadang menyakiti diri sendiri tanpa disadari dengan harapan-harapan yang dibangunnya dalam memedam perasaan.

Karena terlalu banyak romansa dan romantika cerita, KKN bukan hanya ajang Take Me Out yang di fasilitasi kampus, namun juga menjadi uji kesetiaan bagi yang sudah memiliki seseorang yang membersamai yang ditinggal sementara untuk mengabdi, esensinya perlu dipahami bahwa manusia selalu punya dahaga akan kasih sayang, perselingkuhan sangat mungkin terjadi karena faktor jarak, senada dengan yang dikemukakan oleh Debbie Layton-Tholl seorang Psikolog pada tahun 1998 meneliti alasan perselingkuhan diantara pasangan terjadi, salah satunya adanya lingkungan yang mendorong seseorang untuk mengambil keputusan menduakan, karena kedekatan dengan teman yang memberi rasa nyaman, kekosongan emosional yang dialami menjadi alasan selanjutnya.

Maka dari itu bijak dalam menata rasa diperlukan dalam pengabdian, tidak baik membawa nelangsa patah hati sepulang KKN karena tumpukan buku dan jurnal menunggu untuk menyusun skripsi, sebuah tugas akhir sebagai syarat meraih gelar sarjana yang memerlukan semangat dan kerja keras tidak main-main dalam proses penyelesaiannya. Semoga beruntung menemukan seseorang akan membersamai bagi yang masih sendiri, dan selamat bersetia bagi yang sudah mempunyai tambatan hati, kesetiaan adalah komponen penting yang menentukan kualitas pribadi seseorang yang gengs…

*Penulis Merupakan Alumni Mahasiswa Jurusan Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK).

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami