Iduladha: Berkurban, Esensi dan Eksistensinya

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi | M Nur Rahmat Achdar

Oleh : M Nur Rahmat Achdar

Berdasarkan hitungan kalender Hijriah, Hari Iduladha kali ini jatuh pada tanggal 10 Zulhijah 1440 H atau dalam hitungan kalender Masehi, jatuh pada tanggal 11 Agustus 2019. Semarak di berbagai pelosok dan penjuru dunia terdengar gema lantunan suara takbir yang saling bersahutan oleh umat muslim dan juga maraknya pamflet-pamflet di media sosial yang bertebaran sebagai bentuk permohonan maaf mewakili keluarga, lembaga dan sebagainya. Bahkan ada yang iseng meng-update status menggunakan kalimat “Kalian semua saya maafkan”, semua itu adalah pertanda bahwa hari kemenangan telah tiba.

Iduladha merupakan hari yang sangat istimewa dalam syariat Islam, sebab terdapat dua hal utama yang dilaksanakan secara serentak pada momentum kali ini. Pertama, dilaksanakannya ibadah haji di Makkah, sebagaimana yang ditegaskan pada rukun islam yang kelima. Kedua, dilaksanakannya ibadah kurban yang secara arti sempit yakni menyembelih binatang ternak yang sudah cukup umur (Sapi, Kambing dan lain-lain) setelah shalat sampai tergelincir matahari pada hari terakhir Tasyrik.

Namun berbeda dengan anak perantau, salah satu wujud dari konstruksi sosial yang telah menjadi budaya dan telah menjalar sampai hari ini, ketika hari raya tiba, maka pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga tercinta adalah momentum yang tentunya memang selalu dinanti-nantikan. Sebab, betapa bahagianya seseorang yang hari ini masih sempat berkumpul dan saling bertukar maaf bersama orang tua dan keluarga, yang saya pikir hal ini nilainya tidak dapat ditukar dengan rupiah.

Tapi, momentum Iduladha kali ini agak berbeda, polemik hidup yang transendental dan juga diwarnai dengan beberapa tugas kuliah yang sudah menjadi tuntutan setiap mahasiswa untuk melaksanakan kuliah praktik sesuai dengan waktu yang telah dijadwalkan oleh pihak birokrasi. Sehingga mengharuskan saya merayakan Iduladha di kampung halaman teman, yang notabenenya adalah teman lama ketika berada di pondok pesantren. Letaknya tidak jauh dari Kota Bulukumba, yakni di Lapangan Sepak Bola Desa Padang Loang Kecamatan Ujung Loe Kabupaten Bulukumba.

Sejumput haru, namun juga sedikit bercampur dengan rasa bahagia mewarnai Iduladha tahun ini ketika melihat teman-teman secara langsung bisa berjabat tangan dengan orang tua dan keluarga karibnya. Kesaksianku atas kejadian tersebut seakan hendak membawaku terbang dalam sekejap, sebagaimana peristiwa yang dialami oleh Baginda Rasulullah SAW ketika hendak menerima wahyu atau perintah shalat dari Allah SWT, hingga beliau bisa sampai ke “Sidratulmuntaha (langit ketujuh)” dalam waktu sekejap.

Namun lepas dari hal tersebut, rasa syukur senantiasa terpanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat-Nya sehingga saya masih sempat menikmati sucinya Iduladha kali ini, dan kepada doa yang tidak lagi berujung pada usai, semoga keluarga dan orang-orang terdekatku di sana selalu dalam keadaan sehat walafiat dan senantiasa berada dalam Lindungan-Nya.

Sesuai yang dijelaskan sebelumnya bahwa, disyariatkannya ibadah kurban ini sebenarnya berangkat dari kisah Nabi Ibrahim Alaihisalam (As) dan Nabi Ismail As, sebagaimana yang dijelaskan dalam Alquran Surah As-Saffat ayat 99-113. Kisah ini berawal dari Nabi Ibrahim a.s yang telah lama menikah dengan Sitti Hajar namun belum juga dikaruniai seorang anak, akan tetapi Nabi Ibrahim terus berusaha dan berdoa kepada Allah SWT. Lambat laun ternyata usahanya membuahkan hasil, hingga akhirnya lahirlah seorang bayi laki-laki tampan dan anak itu adalah Nabi Ismail As, yang menurut sejarahnya Nabi Ismail lahir ketika Nabi Ibrahim berusia 86 tahun.

Namun, kebahagiaan keluarga kecil tersebut tidaklah berlangsung lama. Tiba-tiba, datanglah sesuatu yang mengagetkan dalam mimpi Nabi Ibrahim. Dalam mimpinya, beliau mendapatkan perintah untuk menyembelih anak semata wayangnya itu.

Pada awalnya, beliau tidak pernah yakin dalam mimpinya itu. Namun, saat mimpi tersebut datang untuk ketiga kalinya, seketika dia begitu yakin bahwasanya mimpi itu datangnya dari Allah SWT. Isi mimpinya tersebut diabadikan dalam Alquran Surah As-Saffat ayat 102. “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.” Kemudian selanjutnya, di ayat yang sama Nabi Ismail menjawab “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Sungguh luar biasa jawaban yang diberikan oleh Nabi Ismail, demikian juga dengan Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah dan berhasil membunuh “Berhala” rasa cinta kepada anak satu-satunya yang telah ia tunggu selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Tak lupa juga hal yang luar biasa dilakukan oleh sosok Siti Hajar, seorang ibu yang ikhlas terhadap keputusan tersebut.

Singkat cerita, bapak dan anak tersebut menuju suatu tempat yang telah ditentukan. Lalu tatkala Nabi Ibrahim sudah membaringkan Ismail dan siap disembelih olehnya, maka seketika itu pula Allah SWT memanggil Nabi Ibrahim dan mengganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar. Sebagaimana yang dikisahkan dalam Alquran Surah As-Saffat ayat 104-109 yang berbunyi “Lalu Kami panggil dia, Wahai Ibrahim. Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu (Ismail) dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Selamat sejahtera bagi Ibrahim.”

Lantas, apa kisah yang dapat ditarik dari kisah pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Siti Hajar ketika menerima perintah untuk menyembelih anak semata wayangnya tersebut?

Tentunya berupa keimanan yang lahir dari keyakinan yang kuat, kemudian keikhlasan dan juga sikap tawaduk (rendah hati) dalam menerima segala hal, yang tentunya segala sesuatu yang terjadi merupakan skenario kecil Tuhan yang diperuntukkan oleh seorang hamba.

Wallaahualam Bissawab…

  Berita Terkait

Bonsai

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami