Mahasiswa dan Kelas sosial

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I Lihind

Oleh: Lihind

Berbagai watak bersatu dalam dunia kampus untuk melakukan transformasi ilmu pengetahuan, proses melangsungkan pendidikan formal sampai transaksi kepentingan untuk mempertahankan kehidupan. Mulai dari Dosen, Mahasiswa, Staf Akademik, Cleaning Service sampai Anak penjual tisu keliling.

Ruang kelas merupakan ruang transformasi ilmu pengetahuan dalam dunia kampus yang juga tidak meniadakan kemungkinan adanya klasifikasi sosial. Ada karena kecenderungan manusia pada banyak hal yang dianggap kurang perlu, sebut saja bersosial dengan manusia lainnya. Kecenderungan bisa terjadi karena adanya pengasingan diri atau sebaliknya diasingkan oleh pergaulan sosial dalam kelas.

Manusia juga merupakan makhluk sosial yang punya kecenderungan pada sifat individualis. Individualis merupakan hal yang tidak akan lepas dari sisi kehidupan manusia. Lantas apakah yang kurang pantas dari sifat individualis?.

Efek terhadap kehidupan sosial yang condong pada kenegatifan inilah yang menjadikan sifat individualis dianggap hal yang kurang baik, karena biasanya individualis akan kurang peka dengan keadaan sosialnya sebut saja peduli satu sama lain atau hanya sekedar memperpanjang tali persaudaraan. Sifat inilah yang merupakan salah satu titik berangkat adanya klasifikasi sosial dalam ruang kelas.

Klasifikasi sosial dalam ruang kelas yang saya maksud adalah klasifikasi sosial yang banyak dipengaruhi oleh ekonomi, ras, politik, dan banyak kepentingan lainnya sehingga membentuk sekat-sekat, kelompok, atau segala macamnya yang menyebabkan tidak bersatunya manusia karena kesadaran bersosial.

Singkatnya, pertemuan dalam ruang kelas bukan karena kehendak pribadi atau kelompok atas kepentingan merawat hubungan sosial, tetapi lebih di pertemukan oleh kepentingan lainnya seperti dipertemukan oleh kepentingan mengisi jam kuliah, absen, sampai unjuk kepemilikan pribadi.

Kurangnya kesadaran akan kepentingan bersama inilah yang menjadi awal terbentuknya klasifikasi kelas dalam kelas. Selain itu faktor ekonomi, suku, politik ternyata memiliki pengaruh besar atas terbentuknya klasifikasi kelas dalam kelas.

Sebagai contoh pertama yaitu persoalan ekonomi. Ekonomi merupakan hal yang setidaknya memiliki pengaruh terhadap pergaulan sosial. Semisalnya si subjek yang nemiliki perekonomian menengah ke atas akan condong memiliki gaya hidup yang apatis dengan dunia sekelilingnya dalam kelas.

Maka jalan yang sering diambil yaitu mencari individu yang setara secara perekonomian, sehingga akan menimbulkan keminderan bagi individu yang memiliki kelas ekonomi menengah ke bawah untuk bergaul. Ada si kaya dan si miskin yang setiap saat akan terus melakukan klasifikasi secara sadar maupun tidak sadar berdasarkan tingkat kesanggupan ekonomi yang biasanya banyak dipengaruhi oleh gaya hidup.

Bukan berarti ini sepenuhnya benar, hanya saja saya berangkat dari berbagai pengamatan pribadi saya akan realitas dalam dunia kampus khususnya dalam ruang kelas.

Kemudian faktor yang kedua adalah Ras. Dunia kampus merupakan ruang pendidikan dari berbagai Ras, suku dan budaya yang berbeda. Semakin bergengsi kampus maka semakin banyak akan kita jumpai perbedaan. Menjadikan saya melihat pemersatuan ras dalam dunia kampus dari sisi yang berefek pada pergaulan sosial.

Ras yang merupakan salah satu hal yang menjadi titik berangkat klasifikasi kelas dalam kelas. Ada karena kurangnya kesadaran individu akan kemajemukan, karena dipengaruhi rasa gengsi dan sulitnya saling menyesuaikan diri. Inilah yang menjadi persoalan yang sering kita jumpai, bukan hanya dalam dunia kampus namun diberbagai ranah kehidupan.
Si putih akan cenderung bergaul dengan si putih, si hitam dengan si coklat. Sehingga akan melahirkan keminderan bagi yang merasa tidak siap dengan hal seperti ini.

Faktor yang tidak lepas juga dalam mempengaruhi adalah politik. Banyaknya organisasi, studi club, maupun ruang belajar lainnya merupakan satu hal yang memiliki pengaruh besar dalam pergaulan sosial dalam ruang kelas. Hal demikian inilah yang sering sekali dijumpai, bisa tumbuh subur karena kurangnya kesadaran akan pentingnya menjalin hubungan persaudaraan.

Di musim pemilihan umum mahasiswa atau pada momen kedatangan mahasiswa baru misalnya, semua organisasi berlomba-lomba menunjukkan eksistensinya demi merebut perhatian calon-calon kader yang nantinya juga akan mempengaruhi pada pemilihan jabatan organisasi. Perekrutan akan dimulai dengan menanamkan doktrin yang bahkan tidak menghindarkan fitnah antar satu sama lainnya.

Adanya arogansi warna inilah yang memiliki pengaruh besar terhadap pergaulan sosial dalam kelas. Individu yang tak memiliki pertahanan yang kuat terhadap doktrin akan mudah saja menjadi fanatik sehingga mengenyampingkan pergaulan sosialnya yang semestinya harus dijaga. Kurangnya kesadaran karena perbedaan ideologi ataupun pandangan politik dalam hal ini akan terus mempengaruhi keadaan pergaulan sosial dalam kelas, sehingga akan menimbulkan kecanggungan dalam pergaulan yang akan berkepanjangan.

Tiga hal di atas merupakan titik berangkat berbagai persoalan yang masih sering kita jumpai dalam dunia kampus. Setiap forum keilmuan, diskusi dan transformasi ilmu lainnya ala mahasiswa pasti akan kita jumpai doktrin-doktrin perlawanan terhadap penindasan oleh birokrat, oleh kapitalis, oleh manusia terkutuk apapun yang menindas.

Sampai kita lupa mempersatukan pandangan untuk melawan dosen yang dengan seenaknya mengatur jalannya perkuliahan sehingga begitu monoton. Sampai kita lupa pada aturan kampus yang membatasi pergerakan kita sebagai mahasiswa. Disebabkan kita hanya fokus pada perbedaan dan terus menerus saling menghisap satu sama lain, sampai lupa juga pada generasi mendatang karena konflik yang berkepanjangan.

Jika kita mahasiswa masih patah dalam persatuan maka kemenangan apa yang akan kita dapatkan?

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Hukum Tatanegara Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) semester II.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami