Harapan Usang Untuk Rektor Baru

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I Muhardi

Oleh: Muhardi

Dunia Pendidikan kita seperti tak henti-henti dirundung duka dan prahara. Bahkan, setumpuk persoalan pelik pendidikan di negeri ini seperti benang kusut yang sulit diurai. Bagaimana tidak?, krisis nalar, pembungkaman, nepotisme, sampai kepada kondisi sarana dan prasarana pendidikan khususnya kampus UIN Alauddin Makassar  yang masih jauh dari harapan layak yang tentunya akan berefek kepada proses pembelajaran dan transformasi ilmu pengetahuan, ditambah lagi persoalan biaya pendidikan yang setiap tahun semakin mencekik dan tidak berbanding lurus antara biaya kuliah dengan feed back yang didapatkan dari kampus atau universitas itu sendiri.

Namun, Apakah setumpuk persoalan yang melilit dunia pendidikan itu akan dibiarkan berlarut-larut?, Padahal pendidikan itu merupakan nafas suatu bangsa yang  mengajarkan proses menjadi manusia yang paripurna, manusia yang produktif dan tidak terjajah.  Pendidikan mengajarkan perihal sejarah agar manusia tidak dikutuk oleh zaman untuk mengulangi sejarah perbudakan, pendidikan mendidik manusia untuk merdeka tanpa belenggu, sebab ketika pendidikan membelenggu dan memperbudak maka sama halnya bahwa kita telah dikutuk oleh sejarah. Pendidikan mesti hadir sebagai spirit permbaharu dan menjadi senjata dalam menjejaki kehidupan. Seperti ungkapan sosok yang selalu menjadi patron perjuangan, sosok yang anti apartheid, revolusionaris, politisi, filantropi sekaligus mantan presiden afrika selatan yakni Nelson Mandela yang mengungkapkan bahwa “Pendidikan adalah senjata yang paling mematikan yang bisa digunakan untuk merubah dunia”.

Selaras dengan ungkapan Nelson Mandela, tentunya Pendidikan menghadirkan sebuah wacana dan penerapan yang didalamnya sikap ilmiah, objektifitas, sikap kritis, kebebasan dan pikiran bebas dibentuk secara sadar yang menjadi pondasi dalam pencarian dan pengembangan pengetahuan. Sehingga wujud Dunia pendidikan yang sesungguhnya dapat dibangun berlandaskan nilai-nilai objektivitas, keilmiahan, dan tanpa belenggu. Sebab Pendidikan sangat penting bagi kehidupan, karena tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang. Negara maju tentunya tidak terlepas dari dunia pendidikan, semakin tinggi kualitas pendidikan suatu negara, maka semaki tinggi pula kualitas sdm yang akan didapat. Tujuan pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidudpan bangsa dan mengembangkan SDM semaksimal mungkin. Pendidikan harus mampu mempersiapkan masyarakat intelektual agar dapat berperan aktif dalam seluruh bagian kehidupan, Cerdas, aktif, kreati, terampil, disiplin, demokratis, dan toleran.

Mengadu nasib adalah cermin keputusasaan, bangsa yang dihuni memang banyak menyisakan masalah yang takkunjung selesai, malah cenderung semakin terpuruk. Pendidikan yang diharapkan mampu membuat bangsa ini cerdas ternyata masih jauh dari harapan, pendidikan kita masih melangkah terseok-seok ditengah jutaan orang yang bertahan dan kerumunan pergulatan yang semakin sulit.

Pengadaan sarana dan prasarana pun menjadi poin yang harus selalu diperhatikan, seperti halnya keluhan dan kegelisahan yang selalu dinampakkan oleh mahasiswa UIN Alauddin Makassar terkhusus Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik terkait sarana dan prasarana serta pengadaan gedung atau fakultas baru yang sampai hari ini belum terealisasi. Bukan soal ego jurusan atau fakultas namun berangkat dari kondisi dan fasilitas yang kurang memadai di Fakultas Ushuluddin Filsafat Dan Politik, yang tentunya akan berefek pada proses transformasi ilmu pengetahuan menjadi terseok-seok lantaran tidak adanya sarana prasarana dan gedung memadai yang dapat digunakan. Proses penerimaaan dan transformasi ilmu pengetahuan yang seharusnya disediakan oleh kampus  sesuai amanat UU RI No. 20 tahun 2003 tentang pengadaan sarana dan prasarana  kampus, namun karna tidak adanya kepedulian kampus terkait keluhan dan keresahan tersebut sehingga mahasiswa mesti menumpang di bale-bale dan pelataran fakultas. Tentunya hal ini akan mencoreng nama baik kampus yang katanya ter Akreditasi “A”  nyata telah mengingkari dan tidak sesuai dengan harapan sebagai kampus yang ter Akreditasi “A”.

Tentunya hal ini harusnya menjadi pekerjaan rumah yang harus dibenahi Kemendikbud dan Kemenag  dalam meningkatkan sarana prasana dan mutu pendidikan hari ini. Baru-baru ini menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Syaifuddin secara resmi melantik Prof. Hamdan Juhannis menjadi rektor UIN Alauddin Makassar periode 2019/2023. Dan prosesi pengambilan sumpah tersebut berlangsung di ruangan OR Gedung Kemenag, Benteng Raya, selasa (23/07/2019). Tentunya jabatan tersebut bukan hanya sekedar kepercayaan melainkan sebuah kehormatan. Dengan dilantiknya rektor baru UIN Alauddin Makassar, maka tentunya diharapakan bisa membawa angin segar bagi kampus peradaban terkhusus Fakultas Ushuluddin Filsafat Dan Politik yang sudah lama berteriak soal fasilitas yang sampai hari ini belum diwujudkan.

Penulis merupakan Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik Semester IV Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik*

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami