Tembok Pemisah Masyarakat dan Mahasiswa

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I Muhammad Kasim

Oleh: Muhammad Kasim

Seperti yang kita pahami bahwa mahasiswa adalah iron stock, agen of change, moral force, social control dan masih banyak lagi citra-citra mahasiswa dalam ruang lingkup masyarakat. Tetapi arah dari semuanya adalah perubahan yang mana selayaknya perubahan diawali dari diri secara pribadi sebagai mahasiswa. Seperti yang kita ketahui pada perjalanan mahasiswa adalah masyarakat pada dasarnya dan pada akhirnya harus kembali membangun segala aspek di masyarakat. Lalu kenapa masih ada jarak pemisah antara masyarakat dan mahasiswa? Lalu apa dampak dari adanya keterpisahan ini?

Kadangkala mahasiswa terlalu kental pada balutan teoritis sehingga lupa pada suatu kondisi praktis yang selalu menjadi tolak ukur dari penempatan nilai di mata masyarakat, puncaknya adalah mahasiswa sebagai pemuda gagal meraih eksistensinya di ruang lingkup asalnya sendiri. Selanjutnya adalah mahasiswa biasanya cenderung menggunakan otoritas kemahasiswaannya sebagai legalis untuk menganggap suatu paham atau budaya yang sudah lama mengakar sebagai hal yang salah. Bukan berarti seorang mahasiswa atau pemuda tidak seharusnya berpikiran kritis di masyarakat tetapi terlebih dahulu sebelum mematahkan suatu paham harus ada tawaran solutif terlebih dahulu yang tentunya mudah diterima dan masuk akal.

Mungkin yang paling nampak adalah mahasiswa sebagian sudah apatis terhadap nilai-nilai kearifan lokal dan kehilangan fungsi sebagai mitra kritis di masyarakat. Di mana kita pahami bersama bahwa mahasiswa sebagai social control adalah poros penghubung antara masyarakat dan pemerintah, dan inilah yang hilang dalam diri sebagian mahasiswa. Pada akhirnya ada langkah pembiaran terhadap berbagai bentuk despotisme (kesewenang-wenangan) dan demagogis (tipu muslihat) dari pada tiran yang harus memaksakan kehendak pribadinya atau kelompoknya pada setiap masyarakat yang memiliki keterbatasan ruang didik dan status sosial rendah.

Mahasiswa harus senantiasa memberikan citra baik terhadap masyarakat, entahkah dari sisi akhlak dan lain sebagainya. Mengingat mahasiswa adalah iron stock di mana selalu dituntut untuk menjadi manusia yang berkemampaun dan berahklak mulia. Serta mahasiswa adalah moral force yang harus selalu menjadi representasi kampus dalam bertingkah laku . Tentunya dalam masyarakat yang paling diharapkan adalah transformasi dari segala bentuk status quo dan ini sangat membutuhkan peran mahasiswa sebagai agent of change.

Mungkin ungkapan dari salah satu sastrawan ternama WS Rendra bisa menjadi tamparan bagi setiap mahasiswa bahwa “Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, sastra, teknologi dan ilmu kedokteran bila pada akhirnya, ketika ia pulang ke kampungmya lalu berkata “Disini aku merasa asing dan sepi.” Sebuah ungkapan yang sangat indah namun ketika dipahami secara mendalam ini adalah ungkapan pesimis melihat mahasiswa pada eranya dan mungkin sekarang lebih parah dari itu. Kadangkala ada ungkapan seperti ini “Yang melakukan itu bukan masyarakat tetapi mahasiswa,” ungkapan ini meski tidak berlandaskan pada hal-hal yang rasional tetapi ini menjadi sentilan tersendiri bahwa memang benar ada jarak pemisah antara mahasiswa dan masyarakat akhir-akhir ini.

Sebagai penutup dari sendi-sendi tulisan ini adalah mari membaur dengan masyarakat tanpa ada sekat pembatas, karena pada dasarnya indentitas kemahasiswaan hanya sampai pada tataran kampus. Karena dampak dari adanya batasan antara masyarakat dan mahasiswa adalah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap mahasiswa ataupun anak muda sebagai pemegang tonggak perubahan ke arah yang lebih baik. Tegasnya adalah mahasiswa hanyalah bahasa simbolik yang di dalamnya terkandung tindakan-tindakan moral sosial.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) semester VIII.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami