Pentingnya Toleransi

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I Ardiansyah Safnas

Oleh: Ardiansyah Safnas

Sangat indah rasanya, jika manusia tidak memandang apapun untuk memanusiakannya. Namun, itulah arti perbedaan yang sebenarnya. Jika berbeda tidak akan bisa sama, maka dari perbedaanlah muncul yang namanya menghargai bukan menyamakan.

Berbeda memberikan nuansa cinta atas ladang yang bermuara di sekitar kehidupan. Ladang surga menaburkan nuansa cinta dan bahagia Itu untuk mereka yang mengerti bahagia yang sesungguhnya. Namun, tidak dengannya yang hanya menghabiskan sisa-sisa hidupnya, dengan bersujud dan meminta terhadap Tuhannya tanpa saling menyapa dengan sesamanya.

Sungguh ketamakan terlalu religius, jika hanya diperkaya oleh hubungan dengan penciptanya, sudah saatnya manusia menyadarkan diri tentang hubungan keduanya.

Seperti yang seharusnya kita tahu, setiap manusia itu jelas saat mereka keluar dari rahim ibunya ia hanya sendiri. Namun yang terjadi di realita kehidupan kita, tak bisa lepas dari yang namanya mahkluk sosial.

Seperti halnya di kehidupan sehari-hari jelas terbukti, memanglah sulit jika kita hanya ingin melakukan sesuatu tanpa bantuan dari orang lain. Dari situlah kita dapat mengiyakan, bahwa memang benar kehidupan di dunia ini akan makmur dan sejahtera bila kita sadar dan paham apa arti dari makhluk sosial itu sendiri.

Itu semua mutlak tidak akan terjadi, jika kita hanya selalu mengedepankan sifat apatis dan egois, bukan malah sifat sosialis terhadap sesama. yang harus kita ketahui bahwa, kehidupan ini bukan hanya tentang kita. Namun ada banyak orang lain di luaran sana, yang berharap bantuan dan toleransi dari sesamanya.

Adapun salah-satu contoh yang saya ketahui, dalam Agama Islam sangatlah memperhatikan apa itu bentuk toleransi terkait kebebasan beragama. Hal ini dapat kita temukan dalam Firman Allah SWT: Lakum diinukum waliya diiin. Bagiku agamaku dan bagimu agamamu (QS. Al-Kafirun: 6), yang menegaskan hakikat toleransi dalam beragama.

Selanjutnya Islam menegaskan tidak boleh ada pemaksaan untuk masuk agama Islam, apalagi agama yang lain, yakni dalam firman Allah: “Laa ikraaha fiddiin” (QS. Al-Baqarah [2]: 256). Ajaran Islam jelas memberikan pengakuan terhadap eksistensi agama selain Islam dan keberadaan penganut-penganutnya.

Saya harap semoga kita semua bisa sadar akan polemik yang terjadi di era industri 4.0 yang selama ini kita anggap sebagai teknologi yang maju di negeri kita, sebab dapat membantu dan meringankan segala bentuk pekerjaan dalam kehidupan manusia, sehingga lupa meminta bantuan kepada sesama, dan perlahan menghilangkan esensi dari bentuk toleransi dan mahkluk sosial itu sendiri.

Penulis merupakan Mahasiswa Program Studi Ilmu Falak Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Semeseter IV

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami