Minat Literasi Pemuda Desa di Era Globalisasi

Facebook
Twitter
WhatsApp
Dok Pribadi I Idul Azhar

Oleh: Idul Azhar

Literasi yang sering diartikan luas sebagai orang yang belajar atau sering disempit artikan sebagai orang yang menyukai dunia menulis ataupun kecakapan berbicara ini, menjadi tren dikalangan masyarakat saat ini. Mengapa tidak, di era globalisasi dimana teknologi semakin berkembang membuat akses mendapatkan referensi semakin banyak.

Jauh sebelum ini pun literasi banyak digunakan untuk mengungkapkan perasaan atau sebagai bentuk perlawanan. Di Indonesia saja literasi atau minat menulis sudah ada sejak zaman dulu. Contohnya saja Raden Ajeng Kartini melalui tulisan-tulisannya, salah satunya adalah “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang merupakan bentuk perlawanan perempuan menuntut haknya pada wilayah politik, pendidikan dan sebagainya. Ada juga salah satu perempuan Mesir bernama Nawal El-Saadawi, perempuan yang sudah banyak mengeluarkan buku sebagai bentuk perlawanannya pada dunia seksualitas.

Ini membuktikan bahwa, literasi bisa diakses dari kalangan manapun sebagai bentuk pengekspresian perasaan. Hanya saja di samping keuntungan globalisasi yang menyediakan banyak akses referensi, ini juga membuat banyak kalangan yang bahkan tidak mempunyai minat literasi, dengan suguhan alat teknologi yang membuat lupa untuk mengabadikan diri melalui literasi.

Literasi saat ini mendapat banyak perhatian dari banyak kalangan pemuda dan mahasiwa, contohnya saja pemuda dan mahasiswa yang berada di wilayah Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa. Seiring kesadaran pemuda akan pentingnya berorganisasi, di dalamnya itu juga di tanamkan minat literasi meskipun tidak begitu banyak tetapi ada yang menyukai dunia literasi. Belum lagi, mahasiswa yang pulang ke kampung dan membagikan pemahaman tentang literasi, sedikit banyaknya akan nada karya yang dilahirkan. Seperti salah satu perempuan dari Tombolo Pao, Andi Eka Saputri yang sudah mempunyai beberapa opini di bidang gender. Diantaranya “Pentingnya Pendidikan Seks Sejak Dini,” yang mengkritik tentang kekerasan seksual yang menjadi darurat di Indonesia. Bukan hanya itu, salah satu pemuda Tombolo Pao, Ahmad Baharuddin yang juga mempunyai opini “ NGURAKI’ NAK “ tulisannya ini menitik beratkan pada nilai-nilai luhur kemanusiaan dan budaya pada perkembangan globalisasi.

Terlepas dari pemuda berprestasi tersebut ada banyak juga yang belum mempunyai minat literasi dengan beberapa faktor, yaitu pendidikan dan kurangnya kesadaran pemerintah akan pentingnya pemahaman literasi sejak dini.

Pemerintah bisa saja mengadakan sekolah menulis yang dapat bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk mendobrak minat literasi, bukan hanya pemerintah yang berperan penting, organisasi-organisasi juga penting melihat ini. Karena tak menutup kemungkinan banyak yang mempunyai bakat di dunia literasi, hanya saja wadah yang disiapkan tak memadai. Selain itu, bisa juga dengan lomba menulis cerpen, opini, puisi, dan lainnya di bidang literasi. Langkah-langkah seperti ini bisa meningkatkan minat literasi. Lomba semacam ini juga sudah mulai punah, jadi apa salahnya ketika pemerintah dan organisasi yang ada membiasakan budaya seperti ini lagi tanpa terlepas dari kemewahan yang disuguhkan globalisasi.

Kita juga bisa melihat pemerintah bagaimana meningkatkan dalam hal pembangunan yang ada di Tombolo Pao sendiri yang sudah lumayan banyak, beranjak dari itu kekhawatiran melihat perkembangan dalam hal SDM nya sendiri lebih tidak nampak.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) semester IV.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami