Oleh : Andi Sahi Alqadri
Menyelesaikan studi dalam sebuah perguruan tinggi tentu merupakan sebuah kebahagiaan, entah untuk diri pribadi maupun orang-orang sekitar, dalam hal ini keluarga, lebih dalam lagi kedua orang tua. Lantas apa yang membuat kita, dan orang tua berbahagia, selain mengurangi beban perkuliahan yang saat ini sedang meroket, juga alasan yang tak kalah penting agar kita bisa menuju tingkatan yang lebih jauh, mencari pekerjaan mungkin.
Sedang untuk kedua orang tua, selain mengurangi beban biaya, tak lain karena orang tua mana yang tak ingin melihat sang anak bisa menyelesaikan kuliahnya dan meraih gelar sarjana, Orang tua mana yang tak ingin melihat darah dagingnya memiliki penghasilan sendiri? Kita sepakat semua orang tua ingin anaknya sarjana.
Tak Ada Manusia yang Nganggur
Menganggur berasal dari kata anggur, yang berarti tidak bekerja atau tidak melakukan apa-apa. Saya mengambil kesimpulan bahwa menganggur memang tidak memiliki kesibukan atau tidak melakukan apapun. Benang merahnya bahwa itu tak satupun manusia bisa dikatakan menganggur, termasuk seorang sarjana, sebab semuanya memiliki kesibukan, sibuk cari kerja, sibuk cari kesibukan dan sibuk nongkrong contohnya. Itu kan juga disebut kesibukan, tapi genrenya berbeda.
Analisa di atas terserah mau diterima atau tidak, saya hanya tidak ingin membuat ada golongan yang tersinggung, itu tidak baik, sebab saya menganut paham pluralistik yang tak ingin negeri ini gaduh hanya karena berbeda keyakinan, kalau kata Gus Dur “Gitu Aja Kok Repot”.
Tak Istimewa Lagi
Namun rasa-rasanya, saat ini menjadi sarjana bukan lagi sesuatu yang istimewa di mata masyarakat, mengingat, tak sedikit diluar sana sarjana-sarjana yang memadati dunia kerja ataupun dunianya sendiri. Bayangkan bapak-bapak, ibu-ibu, dan kawan-kawan, di Sulawesi Selatan contohnya, setiap kampus yang ada disini, itu melahirkan sarjana sebanyak lebih kurang 3000 sampai 4000 alumni pertahun, kemudian kita kalikan dengan kurang lebih 11 Perguruan Tinggi Negeri di Sul-Sel, belum lagi Perguruan Tinggi Swasta, coba bayangkan. Kiri, kanan, depan, belakang, mereka para sarjana ada dimana-dimana.
Lulus dan menjadi alumni dalam sebuah perguruan tinggi rupanya hanya menjadi kebanggaan diri sendiri dan orang-orang terdekat kita kawan-kawan, beda cerita 30 hingga 40 tahun yang lalu, bagaimana gelar sarjana begitu mengagumkan. Makanya, jangan sampai saudara terlampau hanyut dalam kebahagiaan, bangkitlah dari kebahagiaan yang tak kekal itu, sebab akan ada tuntutan lain yang sewaktu-waktu akan datang kepadamu. Saya merinding saat menulis ini.
Kembali kita kalkulasi dan membayangkan banyaknya sarjana di bumi yang entah bulat atau datar ini, saya sebagai penulis artikel ini merasa sesak bila membayangkan. Apakah mungkin kita bisa mendapat pekerjaan semudah menebar fitnah kepada sesama yang saat ini lagi tren? Atau mungkin perjuangan kita akan lebih berat dari program reality show yang begitu dramatik saat mencari orang-orang yang akan menolong kesulitan dari masalah pemeran utamanya?. Entahlah, kita hanya bisa berusaha sekeras mungkin agar mampu angan-angan itu menjadi nyata.
Beban Seorang Sarjana Berat
Adik-adik yang pernah menyaksikan dan luluh atas kelihaian bertutur dari seorang Dilan pada salah satu kutipannya “Rindu itu Berat”, itu sah-sah saja. Dilan masih duduk di bangku SMA, belum merasakan bagaimana beratnya memikul tanggung jawab sebagai seorang sarjana.
Mungkin adik-adik mahasiswa yang juga menikmati sajian film Dilan akan melek kembali apabila mendengar dan mengetahui bahwa satu dari beragam makna dari sarjana adalah orang yang ahli dalam ilmu pengetahuan! Bisa saya rasakan beban itu, perlahan-lahan mulai terasa, berat, agak berat hingga semakin berat. Perlu saya sampaikan bahwa, saya adalah alumni dari jurusan Pendidikan Bahasa Asing (PBA) dan saya tak pernah betul-betul menekuni konsentrasi ini, itu kemudian berdampak besar pada saat saya sibuk menyelesaikan tugas akhir. Apakah pantas sekiranya saya mendapat gelar seorang sarjana? Yang bermakna ahli dalam ilmu pengetahuan? Oh Tuhan, saya khawatir, gelar ini tak mampu saya pertanggung jawabkan.
Mencari atau Membuka Lahan Kerja
Tapi tunggu dulu, ada hal yang perlu dipertimbangkan dari seorang sarjana. Kita harus garis bawahi bahwa perguruan tinggi merupakan tempat ideal untuk membentuk atau mencari jati diri. Belajar mandiri bagi yang jauh dari sanak family dalam hal ini mahasiswa rantau dan mempermantap pola pikir dari berbagai organisasi yang ada. Biasanya, mereka-mereka ini sadar betul bagaimana memanfaatkan momentum menjadi mahasiswa.
Selanjutnya, apakah kita akan mudah mendapat pekerjaan? Bisa iya, bisa tidak. Artinya dengan bermodalkan skill dari ketekunannya dalam sebuah organisasi atau fokus pada konsenstrasi jurusan yang digeluti, itu akan memudahkan kita sebagai alumni dalam mendapat pekerjaan. Tarulah misalkan fokus dalam bidang akademik, silahkan tuntaskan segala bentuk akademisi agar mudah mendapat pekerjaan. Untuk mereka yang sibuk dengan pengembangan skill pada sebuah komunitas atau organisasi, saya rasa itu juga merupakan bekal mendapat kerja.
Lain lagi dengan mereka yang memilki kreativitas dan produktivitas tingkat tinggi. Jangan bilang mereka akan sibuk melamar kerja dimana-dimana, sebab mereka akan fokus untuk membuka lahan kerja, karakter seperti ini biasanya berpikir “Lebih Baik Membuka Usaha Kecil dan Bertindak Sebagai Pemimpin, Daripada Kerja pada Perusahaan Besar tapi Menjadi Karyawan.”
Terlepas dari segala bentuk pekerjaan di atas yang akan dijalani oleh seorang sarjana, yang patut dicamkan bahwa tak ada sesuatu yang instan disini, semuanya butuh proses panjang, proses panjang melulunya berhadapan dengan masalah, dan masalah juga punya tingkatan, dari sulit, agak sulit sampai masalah yang tersulit. Lain halnya dengan ‘Ngepet‘, meski juga butuh proses, tapi ini soal lain, skillnya diluar nalar dan sedikit lebih ekstrim.
Karena saya orang bijak, saya sedikit memberi saran, nikmatilah hidup. Kawan-kawan mau bekerja, pensiun dan meninggal, silahkan atau ingin bebas tanpa terikat sebuah tuntutan pekerjaan dan berlaku semau-maunya sampai meninggal dunia juga silahkan. Hidup itu soal selera, tapi perlu diingat, bahwa setiap pilihan, pastilah ada resiko, setiap tindakan pastinya beriringan dengan dampak, setiap perilaku pasti menimbulkan akibat, artinya segala-galanya pasti berdampak, terlepas baik atau buruk, kalau disingkat biasanya disebut hukum kausalitas.
Sebagai penutup, terima kasih atas saudara yang meluangkan waktunya mampir dan membaca tulisan ini di tengah kesibukan kerja, kesibukan berpikir cari kerja dan kesibukan online. Lebih khusus saya ucapkan terima kasih atas saudara yang menjadikan tulisan ini sebagai bahan kesibukan.
*Penulis Merupakan Alumni Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah dan Keguruan











