Opini: Realita Sosial

Facebook
Twitter
WhatsApp
Megawati Latif

Oleh: Megawati Latif

“Ini realita sosial”
Di era modern sekarang, perbedaan fisik dan materi menjadi realita paling kuat di masyarakat.

Jika tak cantik/tampan, jangan berharap orang-orang akan mengajakmu bicara, melirikpun tak akan mau.
Akhirnya orang-orang berlomba untuk berpenampilan menarik, tak masalah jika mengeluarkan uang yang banyak agar terlihat cantik. Ini karena tuntutan masyarakat sekarang.
Karena takut di kucilkan, karena takut tak punya banyak teman.

Lalu pertanyaannya!
Bagaimana dengan orang-orang yang tak punya uang untuk memperbaiki ? Bagaimana dengan mereka yang tak terlahir cantik/tampan?
Ini yang jadi masalah sekarang,betapa sifat ego di masyarakat semakin menjadi-jadi setiap harinya.
Beberapa dari mereka yang kurang beruntung mencoba untuk berbahagia dengan mendengar motivasi dari orang-orang.

“Tidak usah mengeluh, syukuri apa yang tuhan berikan kepada kita” kata kebanyakan orang-orang pemotivasi.
Tetapi masalahnya adalah orang-orang yang memberikan motivasi tersebut pasti tak pernah merasakan dikucilkan dari masyarakat. Mereka kebanyakan orang-orang yang berpenampilan menarik dan berkecukupan.

“Ini realita sosial”
Ketika materi menjadi tolak ukur pertemanan, jika tak tampan asal berduit segalanya bisa di beli, termasuk juga teman.

Masyarakat sekarang akan gengsi bila tidak mengikuti trend. Maka kebanyakan anak sekolah dan mahasiswa berlomba-lomba tampil modis agar dikatakan mengikuti perkembangan zaman.

Tapi masalahnya kebanyakan orang-orang kurang mampu melakukan segala cara agar mampu bersaing dengan orang-orang kelas atas. Mereka mulai membohongi orang tua, mencuri, menjual diri, dan sebagainya.

Maka tak heran jika sekarang kasus prostitusi merajalela di masyarakat.
Semua karena adanya tuntutan sebagian masyarakat yang tidak ingin disaingi.

“Ini realita sosial”
Ketika anak-anak kecil tak dapat merasakan bangku sekolah karena tak mampu, ini salah pemerintah atau salah  orang tua mereka? Lebih parahnya lagi anak kecil sekarang sudah bekerja di jalanan bersama orang tua mereka. Yang seharusnya mereka menikmati menuntut ilmu tetapi karena begitu sulitnya dan begitu kerasnya kehidupan di zaman sekarang mereka menghabiskan masa kecil mereka untuk bekerja bahkan bermain pun mereka tak sempat.

Dan bahkan kebanyakan anak balitapun di pakai untuk bekerja.

Si kecil yang malang, mereka seharusnya di perhatikan oleh pemerintah. Kemana para pejabat-pejabat yang angkuh itu? Apa susahnya mengeluarkan banyak uang untuk mereka. Di bandingkan membangun hal-hal yang tidak terlalu penting yang mencapai bertriliun-triliun biayanya.

Ini realita sosial
Ketika korupsi menjadi hal wajar di negara kita,tak ada hukum yang mampu membuat para tikus-tikus itu jera.
Bagaimana mau membuat hukuman yang berat bagi koruptor jika yang membuat Peraturan itu sendiri hampir seluruhnya di buat oleh para koruptor itu sendiri.

Negeri kita ini terlalu lucu,inginkan damai inginkan ketentraman tapi masih mencuri uang negara sendiri, bagaimana mau negara ini sejahtera, bagaimana ingin negara ini maju kalau para perut besar mereka yang menghabiskannya sendiri.

Ini realita sosial
Ketika kasus kekerasan seksual pada anak semakin menjadi-jadi tiap harinya, berapa banyak anak yang sudah menjadi korban para orang-orang bejat.
Tak usah jauh-jauh mencari siapa pelaku mereka,bukan orang asing. Yang paling sering melakukannya adalah orang-orang terdekat anak itu sendiri, ayah, om, sepupu, kakak,dsb.

Bagaimana masa depan anak-anak jika hal seperti ini selalu terjadi? Apa yang harus pemerintah lakukan untuk menaggulangi kasus seperti ini?

Ini realita sosial
Ketika siaran tv tak lagi berkualitas tak dapat lagi menjadi contoh yang baik.

Siaran tv hanya membuat siaran-siaran pembodohan, menjadikan anak-anak mengikuti trend orang dewasa,ini lah salah satu bentuk penjajahan secara tidak langsung oleh orang-orang luar yang ingin menhancurkan masa depan penerus bangsa.

Hanya sebagian kecil yang masih bisa dijadikan tempat pembelajaran, tapi hampir seluruhnya merupakan siaran pembodohan.

Anak sd sekarang sudah tahu pacaran semua itu karena mengikuti tontonan sinetron di tv,anak-anak tahu segala gosip artis,perceraian, karena siapa? Karena siaran tv,bagaimana mau maju kalau siarannya hal-hal yang itu terus.

*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Hukum Pidana dan Ketatanegaraan (HPK) semester II

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami