Opini: Masih Ingin Jadi Mahasiswa Kupu-kupu?

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ramalia

Oleh Ramalia

“Mahasiswa kupu-kupu” sebuah istilah yang akrab di dunia kampus yang menyindir para mahasiswa utamanya bagi mereka yang tidak aktif dalam sebuah organisasi. Dari kampung menuju kota untuk kuliah, pulang kuliah kembali ke kos sebagai tempat berteduhnya di kota dan melepas penat akan tugas-tugas kuliah. Itulah gambaran singkat dari istilah tersebut. Tidak terjalin sebuah interaksi dan kepekaan sosial antara mahasiswa dan lingkungan kampusnya.

Sadar atau tidak, mahasiswa dengan pola seperti ini sebenarnya sedang menghambat proses pencarian dan pembentukan jati dirinya. Menutup diri dari lingkungan sosial, Padahal sesungguhnya, para mahasiswa ini dituntut untuk dapat melakukan perang nya sebagai agen of change di masyarakat.

Ada hal yang tidak akan bisa didapatkan dalam sebuah ruangan tertutup ukuran 5x 6 m persegi. Teori- teori yang kita dapatkan dalan ruangan sesungguhnya membutuhkan sebuah pengaplikasian, pembuktian yang pastinya hal itu akan melibatkan orang lain. Datang, duduk dan diam mendengarkan penjelasan dari dosen tidak akan bisa menjelaskan secara rinci apa yang sebenarnya terjadi, karena terkadang teori yang kita pelajari berbeda dengan pengaplikasiannya dalam dunia nyata.

Ada banyak alasan mengapa mahasiswa malas untuk ikut organisasi, misalnya takut akan mengganggu waktu kuliah yang menjadi alasan mereka ada di kampus, tugas kuliah yang sudah numpuk ditambah masalah di kos, dilarang orang tua, dan sebagainya. Namun dewasa ini, minat berorganisasi mahasiswa itu sendiri yang rendah. Mereka terlalu asik dengan zona nyamannya masing-masing.

Selain itu, adanya anggapan di kalangan mahasiswa bahwa siapa yang aktif berorganisasi akan terlambat selesai. Ini adalah anggapan yang kurang tepat. Cepat tidaknya seseorang selesai tergantung pada keseriusannya dalam menjalani proses perkuliahan dan menyelesaikan tugas-tugas yang menjadi kewajibannya sebagai seorang mahasiswa.

Justru dalam organisasi kita dituntut untuk dapat bertanggungjawab terhadap apa yang kita lakukan, mengajarkan kita kerjasama dalam menyelesaikan permasalahan, dan melatih kepekaan sosial kita. Dimana semua itu sangatlah berguna saat kita benar-benar terlibat langsung dalam sebuah masyarakat.

Ada banyak organisasi yang bisa kita masuki di kampus, namun yang pasti organisasi itu dapat memberikan dampak yang positif bagi kita. Dalam sebuah organisasi kampus, mahasiswa akan dipertemukan dengan mahasiswa lainnya yang memiliki keperibadian, watak yang berbeda-beda, disinilah fungsi organisasi melatih bagaimana mahasiswa bisa saling memahami, menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain.

Masyarakat memiliki harapan yang besar kepada para mahasiswa sebagai seorang calon pemimpin, sebagai orang yang terpelajar, dapat menjalankan tugasnya sebagai agen of change di masyarakat, menciptakan keadaan yang lebih baik lagi.

Organisasipun sesungguhnya bisa jadi penunjang bagi mahasiswa ketika ingin bekerja, baik ketika ia ingin menciptakan lapangan kerja sendiri ataupun melamar pekerjaan di sebuah perusahaan. Karena dalam organisasi dia telah belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin dan telah terbiasa bekerja sama dengan orang lain. Dia akan memiliki banyak koneksi yang dapat membantunya. Selain itu, ketika seseorang melamar pekerjaan, pihak perusahaan biasanya akan memeriksa riwayat organisasinya sebagai bahan pertimbangan.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam semester IV

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami