“Burung Dalam Sangkar” Puisi oleh Nurul Is. Wardani

Facebook
Twitter
WhatsApp

Burung Dalam Sangkar

Menatap langit yang kebiruan
Angin yang berhembus sesuka hatinya
Dedaunan yang berguguran
Bahkan tak pernah membenci angin

Mereka yang di luar sana
Mampu bernapas bebas
Mengepakkan sayap selebar mungkin
Demi menembus lembutnya awan

Ahhh… sungguh menyakiti hati
Mereka membuatku iri
Selalu membawa penyesalan pada diriku
Ketika mengingat awal segalanya terjadi

Ketika itu,
Masa dimana aku sama dengan mereka
Bisa merasakan sejuknya udara pagi
Dinginnya angin malam
Bertengger di ranting pohon
Bersinarkan bulan dan bintang

Tapi kini?
Aku dan diriku
Hanya bisa menatap dari kejauhan
Meneropong pepohonan
Tanpa pernah lagi hinggap di rantingya

Aku, seekor burung dalam sangkar
Merindukan kebebasanku kembali
Mengejar citaku kembali
Mengepakkan sayap hingga mampu menembus awan

Aku, burung dalam sangkar
Kini makan dan minum ketika diberi
Tak pernah lagi mencari sendiri
Selalu diawasi, diintai, dikawal

Aku mengusik dalam hati
“sanggupkah aku kabur dari sini?”
Sangkarmu pun terlalu kuat untukku
Lantas, sekejam itukah dirimu?
Atau terlalu berhargakah diriku bagimu?

Tidak, kau tidak kejam
Kau beri aku makan
Kau pelihara tubuhku, bersihkan lukaku
Kau bawa diriku ke tempat yang aman
Hingga aku terlindung dari sangarnya alam bebas

Tapi, tak sadarkah dirimu?
Aku adalah makhluk Ilahi
Hidupku di alam bebas
Kelayakanku memanglah di luar sana

Tidak mengerti kah kau?
Wahai pemilik sangkar -____-

Puisi oleh Nurul Is. Wardani

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami