Washilah — Mahasiswa Pencinta Alam Sultan Alauddin (MAPALASTA) UIN Alauddin Makassar terlibat aktif dalam Focus Group Discussion (FGD) Validasi Konsep Post Complex Humanitarian Emergency di Baruga Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa.
Riset ini dilaksanakan secara kolaboratif oleh Kemenag RI, IAIN Kendari, LPDP, IAIN Bone, UNM, MAPALASTA, WIRPALA Politani Pangkep, FISS, dan Yayasan Bumi Toala Indonesia, di bawah pimpinan Dr Andi Yaqub.
Ketua Tim Peneliti, Dr Andi Yaqub, menegaskan bahwa forum yang dihadiri oleh 77 peserta dan 37 peninjau dari unsur pemangku adat, pemerintah, dan akademisi ini bertujuan menyusun model pemulihan kawasan yang relevan dan ilmiah.
”FGD ini bukan forum akademisi yang menggurui masyarakat, melainkan ruang pertemuan berbagai bentuk pengetahuan untuk bersama-sama menyusun kerangka pemulihan yang berakar pada nilai-nilai lokal,” ujarnya.
MAPALASTA ditugaskan untuk mengobservasi lapangan di Gunung Bulu Bawakaraeng.
Gunung Bulu Bawakaraeng dipandang sebagai kawasan pegunungan yang memiliki kerentanan geomorfologis tinggi sekaligus menyimpan nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang kuat.
Melalui penelitian ini, tim berupaya menyusun model pemulihan kawasan pasca kedaruratan yang mengintegrasikan ekoteologi Islam, pengetahuan adat, geomorfologi, dan tata kelola pelestarian.
Penelitian ini melakukan pendekatan Participatory Ecotheological Assessment, merumuskan validasi komponen inti restorasi berbasis ekoteologi Islam, pemetaan titik prioritas dan situs sejarah Islam, serta penyusunan indikator awal pemantauan lingkungan.
Ketua LP2M IAIN Kendari, Dr Abdul Kadir, menegaskan bahwa keterlibatan pemangku adat dan tokoh agama menjadi bagian penting dalam memastikan validitas ilmiah sekaligus legitimasi sosial terhadap kerangka pemulihan yang sedang disusun.
“Kehadiran para pemangku adat dan tokoh agama merupakan inti dari keabsahan ikhtiar ilmiah yang dilakukan,” ujarnya.
Penulis: Faisal Takwin (Citizen Reporter)
Editor: Sappe











