Krisis Iklim dan Sampah Plastik Jadi Bahasan Utama Kegiatan Ragam HMJ Kessos

Facebook
Twitter
WhatsApp
Pemaparan salah satu pemateri dalam kegiatan Ragam yang diselenggarakan HMJ Kessos di LT FDK UIN Alauddin, Rabu (10/8/2025). | Foto: Washilah-Syahraty Ridhayah S (Magang).

Washilah — Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kesejahteaan Sosial Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar adakan kegiatan Ragam bertajuk “Rawat Bumi Jaga Manusia” di Lecture Theater (LT) FDK, Rabu (10/9/2025).

‎Pemateri pertama, Bau Asseng menyoroti fenomena krisis iklim yang kian nyata di Indonesia. Perubahan pola musim, termasuk kemarau panjang tanpa hujan hingga Agustus, menjadi tanda serius.

‎“Krisis iklim adalah perubahan kondisi iklim yang membuat bumi semakin panas. Efek rumah kaca berdampak langsung pada kesehatan kita, terutama saat berada di luar ruangan,” paparnya.

‎Sementara itu, Founder Berdaur, Yayang Malil berbagi pengalaman gerakan yang dirintisnya sejak 2019. Fokus awalnya pada edukasi dan sosialisasi pengurangan plastik sekali pakai.

‎“Kami mendorong tren produk ramah lingkungan sejak 2020, seperti sedotan dan kemasan alternatif, agar masyarakat terbiasa dengan gaya hidup minim plastik,” jelasnya.

‎Narasumber ketiga, Slamet Riadi menyinggung problematika pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Ia menekankan bahaya gas metana dan air lindi yang dihasilkan dari sampah menumpuk.

‎“Di TPA Tamangapa Antang, ada indikasi peningkatan Ispa pada warga sekitar akibat polusi. Ini masalah serius yang perlu perhatian semua pihak, bukan hanya pemerintah,” ujarnya.

‎Pemateri selanjutnya dari komunitas Catatan Bumi, Zulkifli menggarisbawahi pentingnya perubahan gaya hidup. Ia memberi contoh kolaborasi bersama kedai kopi yang memberi diskon bagi pelanggan yang membawa tumbler.

‎“Membakar sampah bukanlah solusi. Kita harus mengubah lifestyle, sadar bahwa menjaga bumi berarti menjaga hak orang lain,” ucapnya.

‎Pemateri terakhir, perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut menyampaikan program literasi keuangan yang berkaitan dengan lingkungan. Salah satunya melalui bank sampah, di mana sampah yang disetor dapat bernilai ekonomi.

‎“Kesadaran lingkungan harus sejalan dengan pengelolaan ekonomi. Jika kesejahteraan masyarakat meningkat, perhatian terhadap lingkungan juga ikut tumbuh,” jelasnya.

Penulis: Syahraty Ridhayah S (Magang)
Editor: Hardiyanti

  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Tabloid Edisi 122: KIP Kuliah Marak Calo

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami