Washilah — Sejumlah mahasiswa baru Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar mengeluhkan pungutan atribut Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) sebesar Rp 100 ribu.
Salah satu mahasiswa baru berinisial AS menilai pengeluaran Rp 50 ribu untuk fakultas dan Rp 50 ribu untuk jurusan tidak masuk akal.
“Mengeluarkan Rp 50 ribu untuk fakultas dan Rp 50 ribu untuk jurusan sangat tidak masuk akal,” ujarnya.
AS menambahkan, biaya atribut ospek mestinya tidak semahal itu. Menurutnya, mahasiswa sebaiknya diberi kebebasan membuat atau membeli atribut sendiri agar lebih hemat.
Keluhan serupa disampaikan mahasiswa baru lain, JK. Ia menilai pungutan tersebut tidak adil karena kondisi ekonomi mahasiswa berbeda-beda.
“Menurut saya ini melanggar aturan. Saya berharap pungutan semacam ini ditiadakan dan ditindaklanjuti pihak universitas,” katanya.
Ketua DEMA FDK, Ahmad Nur mengatakan pungutan atribut telah disepakati bersama Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Wakil Dekan (Wadek) II FDK selaku Ketua Panitia PBAK 2025.
“Setelah ada kesepakatan barulah kami berlakukan jadwal registrasi pengambilan atribut untuk mahasiswa baru,” ujarnya.
Menurut Ahmad, penyediaan atribut bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk kreativitas panitia untuk menyambut mahasiswa baru.
“Tujuannya agar para maba merasakan kebersamaan dan keberagaman saat menggunakan atribut tersebut,” jelasnya.
Sementara Ketua Panitia PBAK FDK, Dr Rahmawati Haruna membenarkan adanya kesepakatan dengan lembaga mahasiswa. Ia mengaku telah menyampaikan kepada Dekan FDK dalam rapat pimpinan terkait pembayaran atribut.
“Saya sebagai ketua panitia sudah menyampaikan kepada Dekan dalam rapat pimpinan bahwa ini bukan rahasia umum. Kalau tidak dibatasi, biayanya bisa sampai Rp 100 ribu atau Rp 150 ribu. Maka saya batasi pada angka wajar, Rp 50 ribu,” ucapnya, Kamis, (28/8/2025).
Ia menegaskan bahwa pungutan tersebut bukanlah pungutan liar karena mahasiswa mendapatkan timbal balik berupa atribut yang didapatkan.
“Nilai Rp 50 ribu itu ada isinya. Itulah kenapa kami tidak menganggapnya pungutan, karena ada feedback berupa selayer, pita, dan makanan yang menjadi penanda. Itu membantu ketertiban, keseragaman, serta memudahkan identifikasi mahasiswa. Jadi menurut kami ini bukan pungutan,” tambahnya.
Penulis: Ratman/ Gholib Al Hakam (Magang)
Editor: Hardiyanti











