Washilah – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Farmasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), UIN Alauddin Makassar mengadakan Seminar Nasional Kefarmasian pada kegiatan Alauddin’s Pharmaceutical Competition (ALPHA-C) yang berlangsung di Ballroom Kencana, Hotel Artha Kencana, Selasa (30/7/2024).
Mengusung tema “Pengembangan Potensi Herbal sebagai Antibiotik dalam Penanganan Resistensi Antibiotik.” Kegiatan ini dihadiri sebanyak 75 peserta offline, dan 180 peserta online.
Seminar ini menghadirkan tiga pemateri, yaitu Wakil Dekan III Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Githa Fungie Galistiani Galistiani, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Abdul Rahim, Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit Hikmah dan Dosen Farmasi UIN Alauddin Makassar, Dr Mukhriani.
Pemateri pertama, Githa Fungie Galistiani menyoroti masalah Antimikroba Resistansi (AMR) sebagai isu global serius yang memerlukan perhatian khusus. Ia menjelaskan bahwa mikroorganisme semakin resisten terhadap pengobatan yang ada, menyebabkan penyebaran patogen resisten yang membuat terapi menjadi lebih sulit.
“Situasi saat ini tentang AMR di nasional menunjukkan bahwa kita harus menghadapi kondisi resistansi antimikroba yang semakin meningkat, yang mempengaruhi berbagai aspek kesehatan masyarakat,” ujarnya
Lebih lanjut, Ia juga menekankan perlunya regulasi yang kuat dan standar yang jelas untuk obat-obatan herbal serta dorongan untuk penelitian lebih lanjut guna mengembangkan obat tradisional yang efektif dan aman serta pentingnya mengedukasi masyarakat untuk meningkatkan penggunaan obat tradisional yang aman dan efektif.
“Regulasi obat herbal masih perlu diperkuat, dan keamanan serta efikasinya harus dievaluasi lebih lanjut,” jelasnya
Pemateri kedua, Abdul Rahim, mengungkapkan bahwa meskipun AMR meningkat, bukan berarti kita harus sepenuhnya beralih ke obat herbal. Ia menjelaskan bahwa pencarian senyawa antibiotik baru dari bahan alam dapat menjadi salah satu metode efektif.
Rahim menekankan bahwa kadang-kadang senyawa dengan struktur tertentu tidak pernah dibayangkan sebelumnya hingga ditemukan dalam tanaman, yang membuka wawasan baru tentang potensi senyawa tersebut.
Sementara itu, Mukhriani menyampaikan pandangannya mengenai penggunaan obat tradisional di rumah sakit sebelum dan sesudah era BPJS. Ia mengungkapkan bahwa sebelum BPJS, permintaan obat tradisional cukup tinggi, mencapai 20 box per-minggu. Namun, setelah era BPJS, penggunaan obat tradisional menurun drastis karena pasien lebih memilih obat yang ditanggung BPJS.
“Kita menjual di rumah sakit itu, boleh dibilang dalam satu minggu atau satu bulan bisa sampai 20 box. Tapi setelah era BPJS, penggunaannya semakin menurun,” katanya
Dirinya juga menyoroti tentang bagaimana penelitian obat tradisional lebih kompleks dibandingkan obat modern karena keragaman komposisi dan variabilitas sumber. Meski demikian, minat masyarakat terhadap obat tradisional tetap tinggi dan regulasi pemerintah terus mendukung penggunaan obat tersebut.
“Penelitian pengembangan obat alam lebih sulit daripada obat sintetis karena kompleksitas komposisi dan variabilitas sumber,” ungkapnya.
Penulis: Fitri Ramadani (Magang)
Editor: Sriwahyuni











