Menurunnya Tradisi Tabayun, Awal Dari Penyebaran Berita Hoaks

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Riset Keilmuan dan Kemitraan Masyarakat (RITMA) memberi cendera mata kepada pembicara Rahman (Kiri) pada dialog bertajuk "Tradisi Tabayun dalam Menghadapi Isu-isu Politik," di Warkop Dialektika depan kampus II UIN Alauddin Makassar. Selasa (15 /01/2019)

Washilah – Memasuki revolusi industri 4.0 di awal tahun politik 2019. penyebaran berita bohong, fitnah atau biasa disebut hoaks saat ini semakin menunjukkan pengaruh dan efek negatif bagi persatuan dan kesatuan bangsa.

Berita-berita palsu yang beredar di berbagai macam platform itu, kini menjadi konsumsi sehari-hari di masyarakat, dan telah dianggap sebagai sesuatu yang benar, akibat masifnya peredaran berita hoaks.

Sementara, sebagian masyarakat juga tidak memiliki landasan pengetahuan dan analisis yang mumpuni dalam memilah suatu informasi yang dibagikan, khususnya di sosial media.

Redaktur Panrita News, Dedy Miswar yang hadir sebagai pembicara dalam sebuah dialog bertajuk “Tradisi Tabayun Dalam Menghadapi Isu-isu Politik,” yang diselenggarakan oleh UKM Riset, Keilmuan dan Kemitraan Masyarakat (Ritma) nenyarankan agar masyarakat harus selektif dalam memilih media pemberitaan.

Konsultan Hukum Rahman menekankan kepada peserta dialog agar berhati-hati dalam membagikan konten berupa informasi. Ia mengatakan bahwa masyarakat harus bisa membedakan antar opini dan fakta sebelum menyebarluaskan ke platform media sosial masing-masing.

“Pasalnya, sanksi bagi penyebar informasi hoaks bisa dikenakan hukuman pidana, sesuai Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE),” tuturnya.

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Pimpinan umum UKM Lembaga Informasi Mahasiswa Alauddin (LIMA) periode 2017 Andi Sahi Al-Qadri.

“Berangkat dari kamus besar bahasa Indonesia arti dari tabayun yaitu penjelasan atau pemahaman, jadi jelas kaitannya dengan isu politik bahwa kita seharusnya memahami dulu suatu informasi sebelum menghukumi dan membagikan ke akun media sosial,” ujarnya kepada audiens. Selasa (15/01/2019)

Lebih lanjut, ia menambahkan penyebaran berita hoaks yang tak terbendung ini ditengarai kurangnya minat literasi masyarakat Indonesia. Sehingga berpengaruh terhadap cara pandang sebagian masyarakat dalam menyikapi suatu informasi.

“Mengutip katadata.co.id website yang khusus mengelolah riset. Pada tahun 2018 penyebaran informasi hoaks yang paling tinggi ada di sosial media,” ungkapnya.

Penulis: Fahrul Iras
Editor: Anugrah Ramadhan

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami