Prof Mardan: Uang Rp 5000, Kuliah Sampai Selesai

Facebook
Twitter
WhatsApp
Laporan | Luqman/Ahmad Safrudin
Washilah Online–Menjadi Seorang Dosen, Guru Besar, serta Dekan tak pernah terfikirkan oleh pria kelahiran Maros 12 November 1959 silam ini. Dirinya yang terlahir dari keluarga petani bahkan hanya bercita-cita menjadi seorang yang bergelut di bidang Cetak mencetak.
Dulu, sebelum mengambil prodi Bahasa dan Sastra Arab di UIN Alauddin, dirinya pernah merasakan bangku perkuliahan selama tiga bulan di Jurusan Bahasa Inggris Universitas Hasanuddin, sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah lantaran sang Ayah yang tidak menyetujuinya untuk berkuliah di universitas tersebut.
“kalau bukan di Perguruan Tinggi berlatarbelakangkan Islam, saya tidak akan biayai kuliahmu,” ujar Prof Dr Mardan kepada Crew Washilah saat mengulang kata-kata ayahnya dulu. Mardan muda akhirnya pindah, dan memutuskan IAIN Ujungpandang (Sekarang UIN Alauddin Makassar) sebagai tempat berlabuhnya selanjutnya.
Kala itu ia terbilang nekat saat memilih jurusan, dirinya yang sejak dulu hanya bersekolah di Sekolah biasa yang sama sekali tidak memiliki background Islami, memutuskan untuk memilih Bahasa dan Sastra Arab di Fakultas Adab dan Humaniora “supaya saya gampang masuk, jadi saya tanya, jurusan apa yang kurang peminatnya? Nah kebetulan BSA waktu itu pendaftarnya hanya tiga orang, jadi saya putuskan untuk memilih jurusan ini” ungkapnya.
Bukannya tanpa ujian, baru saja menginjak tiga bulan ia berkuliah di BSA, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, membantu orang tuanya bertani dan berhenti kuliah. Tidak mampu menyesuaikan diri dan merasa tidak bisa berbahasa Arab lah yang menjadi alasannya waktu itu.
Betapa tidak, dirinya yang tak pernah mempelajari bahasa Arab sejak di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas kini hari-harinya harus berhadapan dengan bahasa yang baru ia temui diperguruan tinggi.
Namun apa yang didapatnya, orang tuanya kemudian berpesan kepada Mardan untuk melanjutkan kuliahnya. Ibunya bahkan menitipkan sebuah pesan yang akhirnya menjadi penyemangatnya “tidak ada orang yang  pintar, tanpa proses belajar, professor sekalipun seperti itu, memulai dari tidak tahu” ungkapnya.
“Saya juga hanya dikasi uang Rp 5000 untuk kuliah sampai selesai” kenangnya.
Berbekal pesan tersebut, serta tekad yang kuat akhirnya ia menjadi mahasiswa lulusan terbaik dan menjadi satu-satunya diantara teman-teman sejawatnya di jurusan tersebut yang tercepat meraih gelar Sarjana, yang  rata-rata mereka berasal dari pesantren dan Madrasah.
Satu yang selalu ia katakan tentang apa yang ia alami selama ini, bahwa yang menjadi pegangannya sampai saat ini adalah bakat dan minat itu datang dengan sendirinya dibarengi dengan usaha dan kerja keras.
Kuli Bangunan dan Tukang Semir Sepatu

Tak ada kesuksesan yang diraih dengan mudah, inilah yang dirasakan pria yang dikenal ramah ini sebelum apa yang diraihnya sekarang. Siapa sangka, Bapak satu anak ini pernah mencicipi kerasnya hidup sebagai seorang Kuli Bangunan, dirinya yang terlahir hanya dari seorang petani menjadi satu dari beberapa alasan yang membuatnya memilih pekerjaan ini.
Tak sampai disitu, suami dari Dra Mukhmina ini, bahkan menjadi tukang semir sepatu untuk menambah uang perkuliahan. Tak lama kemudian, rejeki kemudian mulai berpihak padanya, beberapa Dosen kala itu kemudian melirknya, tak sedikit dari mereka yang memanggilnya untuk menjadi guru Mengaji untuk Anak-anak mereka. 

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami