UKM LIMA Washilah Telah Lahirkan Wartawan Profesional

Facebook
Twitter
WhatsApp

Rabu, 12 Oktober 2011 | Suryani Musi
Anggota UKM LIMA Washilah ketika melakukan milad yang ke 26 tahun.
 Washlilah Online-Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Informatika Mahasiswa Alauddin (LIMA) telah lahirkan wartawan-wartawan yang professional di berbagai media.
UKM yang dinaungi oleh Uniersitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar ini telah ada sejak tahun 1985. Namun, bentuknya masih stensilan dengan menggunakan kertas buram yang masih ditempel-tempel di dindin.
Menurut salah satu pendirinya, yakni Waspada Santing mantan Redaktur Harian Fajar dan Laode Oramahi, ketua Ombusman sekarang ini menyatakan bahwa kata Washilah diambil dari bahasa Arab yakni wasalah yang artinya jembatan, penyampai, atau pemberi informasi.
Kata lima juga berasal dari lima fakultas pada masa itu di UIN (dulu masih IAIN), lima rukun Islam.
Namun, ada juga yang menduga bahwa kata Washilah itu merupakan bagian dari nama pembentuknya yakni, Waspada Santing, Hasanuddin Hunter, Sabri AR, Laode Oramahi.
Secara resmi Washilah didrikan sejak tahun 1988 kemudian disesuaikan dengan surat edaran Dirjen Pembinaan pers dan Grafika Deppen RI no 057/1991 tentang pedoman penyelenggaraan dan penerbitan khusus dengan surat tanda terdaftar (STT).  Maka diterbitkanlah  Surat Keputusan (SK) Rektor IAIN Alauddin  nomor 94/1992 tentang pengurus media mahasiswa yakni Washilah.
Sejak itu,Washilah mulai mengukir sejarahnya. Kemudian pada masa pengurusan Arum Spink yang menjabat sebagai Ketua KPU Bulukumba sekarang,   pada tahun 1999 maka Washilah mengembangkan cabang divisinya menjadi dua bagian. Yakni Koran kampus yang terbit intens setiap bulan dan radio.
“Dulu, Washilah pernah mati suri ketika selesai menjabat Yusuf AR. Nah, setelah itu Arum Spink lah yang kembali menghidupkannya. Makanya Arum Spink pernah menjabat sebagai ketua umum di Washilah selama empat periode,” kata Agus, Ketua Umum sekarang.
Washilah telah berkali-kali merasakan bagaiaman ketika dicekal pemberitaanya, bagaimana dana ketika dana penerbitan tidak keluar, dan bagaimana ketika siaran radionya tertindih oleh siaran radio lain di jalur yang hampir berhimpitan.
“Jika di lembaga pers mahasiswa Universiats Negeri Makassar (UNM), Profesi dan Universiats Hasanuddin (Unhas), Identitas dibiayai secara khusus oleh birokrasi justru kita di UIN. Anggaran tujuh juta pertahun tidak memungkinkan untuk menerbitkan Koran kampus tiga kali dalam setahun. Padahal idealnya pers kampus lah yang akan mengawal kebijakan kampus yang ada sekarang” papar Agus.
Dia juga menambahkan bahwa apa yang ditulis oleh Washilah, baik buruknya adalah wujud kecintaan Washilah buat almamaternya. Sekaligus sebagai awal pembelajaran bagaimana menjadikan seseorang bisa dibentuk menjadi wartawan kampus. Meski bukan media professional namun setidanya bisa berpikir professional.
Washilah telah banyak melahirkan wartawan handal di aman-mana. Mulai dari yang pernah menjabat sebagai redaktur Harian fajar, Redaktur Fajar TV, Redaktur Sindo Makassar sekarang ini, dan yang lainnya.
Tahun  lalu, Washilah membuat blog untuk mengantisipasi berita yang tidak mungkin tercetak.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami