Mahalnya Sebuah Komitmen

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh | Agus

Mungkin pembaca bertanya mengapa penulis mengakat sebuah judul tentang Mahalnya Sebuah Komitmen, karena pada realitasnya komitmen sungguh sangatlah langka, dan ketika sudah langka pastinya akan menjadi mahal. Seperti halnya dalam teori ekonomi yang mengatakan bahwa semakin langka suatu barang maka semakin mahal pula barang tersebut. Penulis memberikan analogi pada minyak tanah yang beberapa bulan lalu harganya melonjak tinggi di pasaran, ini disebabkan terjadinya kelangkaan terhadap minyak tersebut.

Sama halnya komitmen saat ini, sungguh sangat sulit menemukannya bak mencari jarum di tengah jerami, mungkin ada segelintir orang yang mengatakan akan berkomitmen namun tidak ada jaminan bahwa hal tersebut akan terpenuhi, menurut hemat penulis bicara komitmen tentu kita akan kembali pada masalah hati (heart), diri sendiri (self) dan Tuhan (God).

Ketiga hal tersebut saling berkaitan ketika kita mulai berkomitmen, berkomitmen atau biasa juga disebut dengan berjanji tentunya akan dimulai dari hati yang tulus karena pada subtansinya hati merupakan sumber kebenaran dan keyakinan, sering kita jumpai ketika ada orang yang hendak menasehati rekannya untuk melakukan sesuatu pasti orang itu akan mngatakan “bertanyalah pada hatimu sendiri” secara tidak langsung bahwa ternyata hati memiliki peran yang sangat urgen dalam setiap tindakan. Dan satu hal yang pasti tidak ada seorang pun yang mengetahui isi hati seseorang.

Selanjutnya self atau diri sendiri, setiap tindakan tentunya akan mengarah kepada diri kita sendiri begitupun ketika telah berkomitmen sejatinya akan selalu kembali kepada kita apakah hal tersebut akan kita jalani, tepati atau hanya ingin mempermalukan diri kita sendiri (Mengingkarinya), yah pilihannya pun akan kembali pada kita. Jadi menepati komitmen sama halnya berbuat baik pada diri sendiri namun mengingkari sebuah komitmen sama dengan menzalimi diri. Yang terakhir adalah Tuhan (God) sebagai orang yang memiliki agama tentu kita yakin bahwa apa yang kita lakukan pastinya akan dipertanggung jawabkan kepada tuhan, juga sudah mutlak bahwa keyakinan kita kepada-Nya untuk tetap memberikan yang terbaik untuk hidup ini. Berjanji atau berkomitmen ternyata pertanggungjawabanya pun harus kepada sang Maha, sungguh sangat berat memikul komitmen. Dan menginkarinya pun akan menuai kezaliman terhadap sang pencipta.

Nah muncullah pertanyaan mengapa komitment sangat langka dipermukaan bumi ini? Apakah hati, diri sendiri dan tuhan tidak memiliki peran lagi dalam setiap sendi kehidupan manusia? Atau memang mereka sengaja menginkari janji primordial kepada dirinya sendiri?. Entah mengapa. Namun penulis berharap besar bahwa komitnen atau janji tidaklah langka dan menjadi mahal seperti minyak tanah tersebut, hal tersebut haruslah menjadi tanggung jawab moral bagi setiap mereka yang tengah melakoninya baik dunia dan akhirat.

  Berita Terkait

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami