Washilah — Forum Komunikasi Mahasiswa Kesejahteraan Sosial Indonesia (Forkomkasi) Regional Sulawesi Selatan dan Gorontalo laksanakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat II) yang berlangsung di Sentra Pangurangi, Takalar, Jumat, (26/12/2025).
Kegiatan yang mengusung tema “Be Part Of The Future Social Welfare,” ini berlangsung selama tiga hari mulai tanggal 26–28 Desember 2025.
Diketahui Forkomkasi merupakan lembaga independen yang menghimpun mahasiswa Kessos se-Indonesia. Khusus Regional Sulawesi Selatan dan Gorontalo, saat ini terdapat empat kampus yang tergabung, yakni UIN Alauddin Makassar, Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan Sosial (Stiks) Tamalanrea Makassar, Universitas Teknologi Sulawesi dan Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo.
Kegiatan ini merupakan tahap awal sebelum melangkah pada kegiatan inti, peserta masih akan mengikuti agenda lanjutan berupa coaching peserta pada 30 Desember 2025, observasi lapangan pada 5–10 Januari 2026, ujian laporan pada 12 Januari 2026, serta pengukuhan anggota baru pada 16 Januari 2026 sebagai tindak lanjut dari proses pendidikan dan pelatihan.
Ketua Umum Forkomkasi Regional Sulawesi Selatan dan Gorontalo, Afif Alqaf menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan identitas mahasiswa Kessos sebagai calon pekerja sosial masa depan.
“Di sini mereka tidak hanya diperkenalkan dengan organisasi, tetapi juga diarahkan untuk memahami peran strategis mereka sebagai calon pekerja sosial,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, Diklat II diikuti oleh 20 peserta yang berasal dari UIN Alauddin Makassar dan STIKS Tamalanrea Makassar. Rangkaian kegiatan meliputi Talkshow Kesejahteraan Sosial, penerimaan materi diklat, Study Tour, Focus Group Discussion (FGD), serta Panggung Bebas Ekspresi sebagai ruang refleksi dan kreativitas peserta.
Ketua Panitia, Rahmatul Alif menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ajang pendalaman peran mahasiswa Kessos agar lebih memahami arah gerak keilmuan dan praktik sosial di masyarakat. Peserta dibekali berbagai materi fundamental seperti social welfare, social movement, hingga analisis masalah sosial sebagai dasar kepekaan sosial.
“Kegiatan ini adalah gerbang awal bagi mahasiswa Kessos untuk mengenal lebih dalam peran mereka sebagai calon pekerja sosial. Materi yang diberikan berorientasi pada bagaimana mahasiswa mampu melihat, memahami, dan peka terhadap permasalahan sosial di sekitarnya,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa persiapan kegiatan dilakukan sekitar satu bulan sebelumnya melalui berbagai upaya, mulai dari mobilisasi peserta, kolaborasi dengan Sentra Pangurangi Takalar dalam penyediaan fasilitas, menghadirkan narasumber dari Pekerja Sosial (Peksos) dan alumni Forkomkasi.
“Hingga menjalin komunikasi dengan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPKS) terkait dukungan transportasi,” tuturnya.
Salah satu peserta, Rusmawati Buttu Batu mahasiswa UIN Alauddin Makassar membeberkan alasannya mengikuti kegiatan ini karena ingin memperdalam pemahaman tentang kesejahteraan sosial sekaligus menambah pengalaman di luar kelas.
“Karena mau belajar lebih banyak tentang kesejahteraan sosial, apalagi itu memang jurusanku. Terus tambah pengalaman juga, dan bisa lebih mendalami semua materi dari jurusanku sendiri,” ucapnya.
Rusmawati berharap kegiatan ini dapat menambah pengetahuan dan keterampilan di bidang komunikasi sosial, sekaligus memperkuat jejaring dan solidaritas antaranggota Forkomkasi di wilayah Sulawesi Selatan dan Gorontalo.
Penulis: Nandya Fitri Ramadhani
Editor: Hardiyanti











