Rugi Ratusan Ribu, Maba UIN Alauddin Jadi Korban Penipuan Indekos

Facebook
Twitter
WhatsApp
Ilustrasi: Washilah-M. Nur Fathun Nai'm Syaiful.

Washilah — Salah seorang mahasiswa baru UIN Alauddin Makassar, mengalami kerugian ratusan ribu rupiah setelah tergiur tawaran harga indekos murah di sekitar kampus.

‎Insiden bermula ketika Siska (bukan nama sebenarnya) yang berasal dari Morowali, Sulawesi Tengah mencari kos-kosan untuk kebutuhan perkuliahannya. Melalui perantara daring, ia ditawari kamar kos dengan harga terjangkau.

“Saya sudah transfer Rp 400 ribu sebagai pembayaran jaminan kos, tapi setelah itu pelaku minta lagi Rp 550 ribu. Dari situ saya mulai curiga,” ujarnya.

‎Siska mengaku baru sempat melihat langsung kondisi kos tersebut karena baru pertama kali datang ke Makassar dalam rangka pemeriksaan kesehatan.

“Saya belum bisa cek langsung ke kos sebelum transfer karena baru pertama kali cari kos dan baru pertama kali ke Makassar,” ungkapnya.

‎Parahnya lagi, nomor kontak yang ia dapat bukanlah milik pemilik kos asli, melainkan dari orang yang mengaku sebagai perwakilan pihak kost. Setelah uang ditransfer, komunikasi menjadi satu arah. Nomor pelaku masih aktif, namun saat dihubungi melalui chat dan telepon WhatsApp pelaku tidak merespon.

Ia juga menyebut pelaku meminta pembayaran melalui aplikasi dompet digital namun tak digubris olehnya.

“Saya pura-pura bilang hanya bisa bayar langsung karena tidak punya saldo rekening, tapi dia tetap minta transfer ke Dana,” tambahnya.

‎Ketika mendatangi alamat kos yang diberikan, pemilik asli yang ditemui di lokasi mengaku terkejut saat mengetahui adanya transaksi tersebut dan membantah terlibat, bahkan meminta nomor pelaku karena merasa namanya telah dicemarkan.

‎Orang tua Siska baru mengetahui insiden tersebut setelah transfer dilakukan. Penipu meminta dana awal sebesar Rp 400 ribu sebelum datang ke lokasi.

“Tapi kayaknya itu tidak masuk akal ya, kok ada seperti itu? Tapi diam-diam kakaknya langsung kirim tanpa sepengetahuan kami. Baru dia bilang setelah transfer,” jelasnya.

‎Lokasi yang disebutkan juga cukup jauh dari kampus dan sulit dijangkau tanpa kendaraan. Ketika korban mencoba membatalkan dan meminta kejelasan, pelaku justru sulit dihubungi. Mau tidak mau ia memilih merelakan uang yang sudah terlanjur diberikan.

“Iya mungkin bisa jadi begitu memang. Kalau ada niat mau menipu, biasanya dia korbankan nama kos. Logisnya, tidak ada pemilik kos yang minta DP sebelum dilihat dulu. Jadi kami tidak mempermasalahkan kosnya, tetapi ada oknum yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.

‎Siska memutuskan untuk tidak melaporkan kasus ini ke pihak berwajib. Ia memilih ikhlas dan berharap tidak ada korban lain di masa mendatang.

“Saya sudah ikhlas, tapi takut ada korban berikutnya,” katanya.

Penulis: Syahraty Ridhayah (Magang)
Editor: Hardiyanti


  Berita Terkait

  Populer

  Iklan

  Tabloid Washilah

Dummy Edisi 6 Maret

  Video

Pencarian Berita

Lihat Arsip Kami