Washilah — “Lucu ya, aku hidup di tengah ramai, tapi rasanya seperti berteriak di ruang hampa. Tak ada yang dengar. Tak ada yang peduli, yang mereka lihat hanya kesalahanku!”
Seorang gadis berjalan di tengah aula, membelah kursi-kursi penonton yang dibungkus kegelapan. Hanya ada satu cahaya di atas sana, menyoroti sang gadis bergaun putih yang melangkah perlahan ke atas panggung.
“Saat semua butuh tempat bersandar, aku belajar menjadi sandaran. Tapi ketika aku butuh tempat untuk menangis, tak ada bahu. Hanya tembok, dingin dan diam seperti mereka!”
Suara sang gadis bergetar. Matanya berkaca-kaca, ia memandang ke atas. Barangkali sedang mencari belas kasih dari atas sana.
Semua terdiam, tak ada suara yang keluar dari mulut penonton. Mungkin benak mereka sibuk mencocokkan tiap kata yang keluar dari mulut sang gadis, tentang luka atau harapan yang terbenam dalam hati.
“Aku tak berharap jadi istimewa, aku hanya ingin jadi seseorang yang tak selalu disalahkan karena mencoba bertahan,”
Gadis itu menunduk, suaranya yang sendu terdengar semakin pelan, selaras dengan lampu yang perlahan menghilang, mengembalikan gelap menguasai ruangan.
Inilah persembahan Monolog, salah satu rangkaian dari Inaugurasi Ilmu Komunikasi angkatan 2024, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
Salah satu penonton, Hasyir, mengaku sangat menikmati pertunjukan ini.
“Pesannya sangat tersampaikan, raut wajah yang ia tampilkan sangat pas dengan apa yang dia sampaikan,” ucapnya.
Penulis: Muh Yudistira Fahrezi (Magang)
Editor: Nur Rahmah Hidayah











