Mahasiswa selalu dilekatkan dengan kata Social of Control. Hal itu membuat gerakan mahasiswa menjadi penting. Tahun 1998 menjadi peristiwa paling monumental, pasalnya era reformasi menjadi penanda awal penghapusan kediktatoran. Saat itu, Mahasiswa UIN Alauddin yang dinahkodai oleh Presiden Pertama Mahasiswa, Attock Suharto, memainkan perannya sebagai penyalur aspirasi mahasiswa melalui gerakan yang berpusat pada penumpasan Orde baru (Orba). Mereka menjadikan dukungan masyarakat sebagai modal awal dalam membentuk basis gerakan yang lebih kuat dengan massa yang besar.
Sayangnya, berbeda dengan gerakan mahasiswa tahun ini, Mahasiswa UIN Alauddin hanya berpusat pada isu kampus. Konsolidasi tak lagi melibatkan rakyat dan hanya fokus pada isu kampus. UIN Alauddin kehilangan citranya sebagai episentrum dalam gerakan.
Lantas, bagaimana sebenarnya Mahasiswa UIN Alaudin Tahun 1998 menjaga pola gerakannya sehingga mampu menjadi bagian dari gerakan reformasi? Reporter Washilah berkesempatan melakukan wawancara langsung dengan Presiden Mahasiswa pertama UIN Alauddin Makassar, Attock Suharto M Si, di Warkop Megazone, Jl. Topaz Raya, Kec. Panakkukang, Kota Makassar, Selasa (11/10/2022) untuk menggali lebih dalam terkait gerakan mahasiswa Tahun 1998.
Bagaimana kondisi gerakan mahasiswa Tahun 1998?
Saat itu masih transisi reformasi dari orde baru. Suatu perubahan yang sangat membutuhkan kerja ekstra kelompok mahasiswa waktu itu. Karena setelah kita berjuang di jalanan untuk melakukan reformasi gerakan 1998, kita kembali ke kampus untuk melakukan reformasi lembaga kemahasiswaan tahun 1999. Hasil dari reformasi lembaga kemahasiswaan itulah yang menghasilkan student government. Pada saat itu, saya terpilih sebagai presiden mahasiswa pertama.
Saat itu, apakah terdapat faksi atau mahasiswa bersatu dalam satu gerakan?
Gerakan mahasiswa tahun 90-an itu ada common enemynya, yaitu tirani orde baru. Tujuannya satu, adalah bagaimana caranya untuk melakukan perbaikan di seluruh segmen hidup di kehidupan berbangsa dan bernegara dengan reformasi. Dari dulu selalu ada faksi. Di jalanan saja kita kadang berbeda golongan, berbeda cara aksi, berbeda cara pandang dalam melakukan aktivitas kita dalam rangka demonstrasi. Di UIN saja banyak sekali faksi. Di luar dari organisasi ekstra juga ada berbagai forum maupun aliansi, banyak. Yang paling sohor dulu itu Komitmen Aksi Mahasiswa Alauddin (Kamal). Selain itu, ada juga faksi berbasis ideologi seperti; HMI, PMII, IMM, Ikatan Mahasiswa DDI dan lain sebagainya. Jadi ideologi gerakan kita kadang dipengaruhi oleh ideologi perjuangan kita dari ekstra kampus. Kita juga bangun aliansi, baik antar fakultas maupun antar perguruan tinggi luar.
Adakah upaya anda mempersatukan semua lembaga kemahasiswaan?
Tentunya semua mahasiswa pada saat itu mengharapkan kepemimpinannya berdinamika tetapi terkendali. Kami dulu membangun komunikasi dan aliansi di semua komponen mahasiswa. Meski pada saat itu kepemimpinan presidensial, tetapi saya bangun dengan bangunan kolektif kolegial. Membangun komunikasi yang tidak tertutup dengan stakeholder yang ada di kampus. Sehingga kami membangun kepemimpinan yang solid. Semua komponen itu saya rangkul dengan memberikan porsinya masing-masing dalam steering government itu.
Lantas, orientasi gerakan kemahasiswaan pada saat itu bagaimana?
Semua gerakan kita bangun dengan idealisme. Tujuannya adalah untuk kemaslahatan, jadi kita dulu demo betul-betul untuk kemaslahatan. Sebelum demo ada beberapa fase yang kita lalui seperti; Lesehan, diskusi kecil-kecilan, team work. Jadi kami di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) miliki tim konsep untuk mengetik apa yang kita lakukan. Lalu proyeksinya dalam bentuk aksi untuk kemaslahatan. Kami tidak menganut aksi lokal, misalnya hanya memikirkan Gowa. Mahasiswa pada saat itu orientasinya gerakan kebangsaan dengan beberapa tuntutan; Reformasi, keadilan, KKN, supremasi hukum, reformasi birokrasi, recovery ekonomi, orientasinya gerakan kebangsaan.
Apa yang membedakan gerakan pada tahun 90-an dengan gerakan mahasiswa hari ini?
Tentu saya ingin katakan situasinya berbeda dengan sekarang. Sekarang aktivis mahasiswa mau cari apa saja bisa cari ditempatnya. Kami dulu harus ke perpustakaan, harus baca buku, harus diskusi. Sekarang semua ada di satu genggaman yang namanya gadget. Sehingga kemungkinan bisa untuk membangun satu kekuatan yang sangat besar itu agak susah. Kita dulu bisa sampai ke nasional menjadi bagian dari BEM SI bahkan menjadi bagian dari Alkoso karena kekuatan kita bangun dari faksi-faksi. Kami mendapat undangan ke Bandung, Jakarta, Medan, Surabaya, hanya untuk demo, melakukan forum rembuk, sarasehan nasional, lokakarya nasional terkait dengan perbaikan bangsa dan negara. Era kami itu sangat banyak agenda nasional terjadi; pergantian presiden, kasus Aceh, kasus Ambon, kasus Poso, kasus penembakan anak dosen Syariah di Kumala yang menyebabkan kerusuhan di Makassar. Kita dulu kalau urusan kampus itu urusan kesekian. Sekarang problemnya UKT.
Terkait intimidasi, apakah pernah terjadi?
Anytime anywhere kita selalu terintimidasi. Orde baru itu tiada kesempatan tanpa intimidasi. Diskusi pernah dibubarkan sama intelejen, disusupi, ditembakkan gas air mata bahkan membentuk aliansi ada intelijen datang. Masa itu, kita benar-benar dikontrol, tapi itulah tantangannya. Kita punya common enemy orde baru. Sekarang kita tidak tahu musuhnya hari ini, bisa jadi kekuasaan, bisa jadi juga teman-teman kita.
Bagaimana tanggapan anda melihat gerakan mahasiswa hari ini?
Gerakan mahasiswa hari ini tidak ada orientasi kebangsaan. Bahan Bakar Minyak naik diamdiam. Mahasiswa bukan lagi agent of change. Masyarakat tidak menaruh harapan besar lagi pada mahasiswa. Dulu kita betul-betul menjadi jembatan, sehingga apa pun yang kita lakukan simpati masyarakat itu ada, meskipun sedikit. Dulu kita murni bentrokan dengan aparat. Hari ini turun demo berhadapan dengan masyarakat seperti emak-emak. Sekarang Mahasiswa UIN bukan lagi episentrum pergerakan untuk akomodasi seluruh kepentingan masyarakat, malah diadu domba. Agar demonstrasi di luar lebih besar, lebih heroik, lebih atraktif, lebih berintegritas, lebih bermoral itu semua mesti digodok dari kampus. Karena sejatinya agent of change, sosial control itu di luar bukan dalam kampus. Implementasinya saat kita bersama masyarakat mengadvokasi, duduk bersama mendengar apa keinginannya, kemudian kita sambungkan.
Ada pesan ataupun harapan anda terkait gerakan mahasiswa kedepannya?
Pesan saya perbaiki skill individu dan perbaiki pola komunikasi eksternal. Semoga kedepannya UIN bisa kembali menjadi episentrum gerakan seperti kami dulu. Episentrum pergerakan itu penting. Untuk apa membangun komunikasi kalau hanya sebatas di dalam kampus, kita perlu keluar.
*Tulisan ini sebelumnya telah terbit pada Tabloid Washilah Edisi 120
Penulis : Harianti Lukmana
Editor: Nur Afni Aripin










