Mahasiswa UIN Alauddin Jadi Relawan Demi Misi Kemanusian di Palu

Mahaiswa Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik Muhammad Junaedi

Washilah – Duka Palu, Sigi dan Donggala merupakan duka besar yang saat ini tengah dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Hati siapa yang tidak tersentuh melihat kota dengan keindahan alamnya yang membentang dari gunung sampai pantai, kini telah diguncang gempa dan diterjang tsunami. Salah satu mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Jurusan Ilmu Politik semester VII  Muhammad Junaedi yang turut empati menjadi relawan selama satu minggu demi menjalani misi kemanusiaan di Kota Palu.

Belum lama ini, reporter Washilah berbincang-bincang dengan Juned, sapaan akrabnya mengenai pengalamannya saat mengikuti misi kemanusiaan.

1. Apa yang membuat anda terpanggil untuk menjadi relawan di  Kota Palu?

Bermula dari panggilan senior saya di Mahasiswa Pecinta Alam Sultan Alauddin (Mapalasta) yang pertama kali mengajak saya untuk ke Palu selain itu juga karean ada beberapa sanak keluarga saya yang berada di Palu, untuk memastikan keadaan mereka disana, walaupun di sisi lain saya mengakui memang ada panggilan jiwa untuk menjadi relawan dan membantu saudara-saudara kita di Palu yang saat ini sangat membutuhkan uluran tangan.

2. Bagaimana perjalanan menuju ke Kota Palu?

Jarak yang ditempuh untuk menuju Kota Palu kurang lebih satu hari perjalanan dengan menggunakan mobil. Sekitar pukul 12:00 Wita, saya beserta enam orang teman, dua orang terdiri dari anggota Mapalasta dan tiga orang dari Universitas Al-Asyariah Mandar sampai di Komando Resor Militer (Korem) untuk mencari tim yang masih membutuhkan anggota (relawan). Namun setelah sampai di Korem, ternyata anggota disana belum membutuhkan tim relawan. Kami bingung harus bergabung kemana, hingga kami memutuskan untuk menuju kantor Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas). Jarak antara Korem dan Basarnas cukup jauh, dan saya beserta enam orang teman saya hanya bisa berjalan kaki untuk menuju kantor Basarnas. Sesampainya di kantor Basarnas, saya langsung diberikan surat tugas.

3. Apa hal pertama yang dilakukan setelah sampai di lokasi?

Setalah sampai kami, langsung melakukan evakuasi di pusat Pergudangan. Di lokasi tersebut kami mengevakuasi enam orang mayat. Setelah itu, menuju kantor Mandala Finance, sesampainya disana kami mendapatkan informasi bahwa ada korban yang tertimpa reruntuhan bangunan. Di perkirakan ada empat orang korban yang tertimbun, namun hanya ada satu diantaranya yang bisa diselamatkan. Hal itu dikarenakan hanya ada satu orang yang mengirimkan tanda kehidupan. Proses evakuasi berlangsung hingga pukul 20:00 Wita, lalu kami kembali ke Basarnas.

4. Bagaimana kesan pertama menjadi relawan?

Saya mengakui bahwa kesan pertama saya saat menjadi relawan yang langsung dihadapkan dengan proses evakuasi mayat yang sudah megeluarkan bau busuk dan berulat sempat membuat saya merasa jijik dan risih. Namun, lagi dan lagi saya memantapkan niat utama saya ke Palu yakni untuk menjalankan misi kemanusiaan. Jadi, rasa jijik dan risih mampu saya kesampingkan. Terlebih melihat daerah Petobo lokasinya betul-betul rata dengan tanah.

5. Seperti apa penjarahan yang terjadi di Palu?

Sebahagian orang-orang disana betul-betul menjarah semua barang yang ada. Tak seperti korban bencana pada umumnya yang membutuhkan makanan, beberapa oknum bahkan menjarah hingga ke barang-barang elektronik seperti televisi dispenser dan lain sebagainya. Keadaan di Palu seakan menjelma menjadi kota zombi, mayat-mayat berserakan seolah tak menggugah hati mereka. Mereka hanya fokus menjarah barang-barang yang ada. Dan hal ini benar-benar terjadi di depan mata kepala saya sendiri. Beberapa masyarakat di sana betul-betul hampir hilang sisi kemanusiaannya.

6. Apakah bantuan disana sudah menyeluruh?

Tidak, karena bantuan yang masuk tidak terdistribusi dengan baik. Pemerintah disana memberlakukan aturan seperti tidak terjadi bencana, semuanya harus menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) padahal ini keadaan mendesak.

 

Penulis : Sri Resky Laura Fajriyanti (magang)

Editor : St Nirmalasari

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*